Artikel Terbaru

Denting piano Sang Tunanetra yang Membuka Jalan Kehadiran Kristus

Suntikan Kasih: Bambang dan Wida mencium putri tunggalnya, Kristy.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Denting piano Sang Tunanetra yang Membuka Jalan Kehadiran Kristus
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Pasangan Bambang dan Wida terkagum-kagum saat menyadari Kristy, anak semata wayangnya yang menyandang tunanetra tiba-tiba bisa memainkan lagu “Kemesraan” lewat denting piano di rumahnya. “Tuhan itu sangat baik dan adil,” tutur Wida.

Lagu “Imagine” karya John Lennon mengalun lewat suara merdu dan dentingan piano yang dimainkan Anna Ira Kristy Pitaloka. Usai lagu itu, Kristy melanjutkan dengan memainkan dua lagu instrumental, “Stairway to Heaven” karya Led Zeppelin dan lagu “Yesterday” gubahan The Beatles.

Walau penyandang tuna netra, Kristy piawai bermain piano. Pertama kali melihat Kristy bisa bermain piano, kedua orangtuanya, yaitu Alfonsus Bambang Soedjatmiko dan Anastasia Titoh Widaningsih dibuat terkagum-kagum. “Saya langsung meneteskan airmata ketika tahu Kristy bermain piano,” kenang Bambang. Saat itu Kristy berusia enam tahun.

Sore yang mengejutkan
Sejak pensiun dini dari perusahaan otomotif Bambang membuka usaha suku cadang kendaraan bermotor di rumahnya, di daerah Kayu Ringin, Bekasi, sekitar sembilan kilometer dari rumahnya yang sekarang di kawasan Summarecon Bekasi. Wida, sang istri membantu usaha suami dengan ikut mengurusi karyawan dan pesanan onderdil. Sementara Kristy, “si malaikat” kecil tinggal di rumah bersama Teteh (sebutan mereka untuk asisten rumah tangga).

Suatu hari tahun 2009, Bambang mengalami musibah. Ia terjatuh di tempat usahanya, sehingga memaksanya beristirahat di rumah. Pada siang hari, usai minum obat, Bambang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tiba-tiba, ia mendengar denting piano dari ruang belakang. Bambang pun terkejut. Ia nyaris tak percaya dengan penglihatannya sendiri. “Bagaimana mungkin putri tunggal saya bisa bermain piano?” gumannya dalam hati. Airmatanya menetes. Ia takjub dan terharu, ia tak percaya, Kristy bisa memainkan lagu “Kemesraan” lewat dentingan piano.

Bambang segera mengabarkan kejadian itu kepada Wida. Wida pun langsung memeluk buah hatinya. Dia menangis sambil memeluk putrinya. “Maafkan kami yang selama ini kurang perhatian kepadamu. Kami lambat mengetahui kemampuan yang kamu miliki,” tutur perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat, 52 tahun silam itu.

Setelah kejadian yang mengharukan itu, Bambang dan Wida lantas memberi perhatian yang lebih besar kepada anaknya. Mereka lalu mencari sekolah formal untuk mengasah talenta bermusik sang anak.

Kini Kristy duduk di bangku Kelas VI di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tan Miyat Bekasi. Di lembaga pendidikan milik Kementerian Sosial ini, Kristy menimba pengetahuan seperti anak-anak sekolah dasar umum. Bedanya, tahun pertama ia harus mengikuti kelas persiapan atau prasekolah.

Berkat ketekunan dan kemampuan akademik yang cemerlang, dua kali Kristy langsung naik dua tingkat. Usai pulang sekolah, Pukul 12.00 dan Pukul 10.00 pada setiap Jumat, remaja yang gemar mempelajari aneka bahasa, seperti Mandarin, Jerman, dan Inggris itu terus mengasah kemampuan bermain piano di rumahnya tanpa bimbingan guru musik.

Jasa Teteh
Kristy tak tahu nama asli asisten rumah tangga yang mengasuhnya ketika ia masih kecil. Ia hanya tahu namanya Teteh. Itu panggilan umum untuk kakak perempuan dalam Bahasa Sunda. Namun demikian, keluarga Bambang tak pernah melupakan jasa perempuan yang pertama kali mengenalkan dan menanamkan rasa cinta Kristy pada dunia seni musik.

Saban hari, Teteh melantunkan lagu-lagu pop rohani Kristen untuk menghibur Kristy. Padahal  Teteh penganut Islam. Ia banyak tahu lagu pop rohani Kristen sebab majikannya terdahulu adalah Protestan. Ia kerap mendengar lagu-lagu itu saat kebaktian di rumah majikannya.

Wida juga tahu kalau asisten rumah tangganya itu kerap mengajarkan anaknya lagu-lagu Kristiani. Tetapi Wida tidak pernah melarangnya, walaupun itu tak sesuai dengan keyakinan keluarga. Wida justru membiarkan Teteh bersenandung. “Demi kebahagiaan Kristy, saya tak pernah keberatan,” ungkapnya.

Ketika berdomisili di perumahan Galaxy, Bekasi, Bambang mengaku sering mengajak Kristy mampir ke Gereja St Bartolomeus Taman Galaxi. Mereka Muslim, jadi bukan mau ikut Misa. Mereka hanya ingin mendengarkan umat bernyanyi. Kristy, papar Bambang, riang gembira mendengar lagu-lagu Misa.

Kegembiraan itu mendorong Kristy mengajak orangtuanya ke gereja setiap Minggu. Sekitar 2010, mereka ikut Misa Mingguan. Lambat laun, Kristy mengutarakan niatnya kepada Wida untuk memeluk agama Katolik. Bambang dan Wida tak keberatan. Semua mereka lakukan demi kebahagian sang buah hati.

Usai Misa, mereka menemani Kristy ikut pengajaran Agama Katolik (katekumen). Wida selalu duduk di samping putrinya di kelas selama pembinaan calon baptis. Setahun kemudian, Kristy menerima Sakramen Baptis di Gereja St Bartolomeus.

Bergabungnya Kristy dalam pangkuan Gereja Katolik membuka jalan untuk kedua orangtuanya. Selang setahun, Bambang dan Wida menerima beberapa sakramen sekaligus, yakni: Tobat, Baptis, Ekaristi, dan peneguhan pernikahan di Gereja St Bartolomeus. “Sulit bagi saya memberikan landasan iman yang kuat kepada anak jika kami berbeda keyakinan,” aku Wida, mantap.

Kristy kini tak hanya duduk di bangku umat selama Misa berlangsung. Ia juga tak lagi hanya menyunggingkan senyum dan gembira mendengar lagu-lagu selama perayaan Ekaristi. Kristy ikut ambil bagian dalam karya pelayanan Gereja sebagai organis. Kapan pun Gereja membutuhkan Kristy, ia siap melayani dengan talenta yang dimilikinya.

Sarana Kesaksian
Bambang berkisah. Dua bulan setelah Kristy lahir, ia baru menyadari jika anaknya menyandang tuna netra. Kala itu, ia menunjukkan sebuah mainan kepada Kristy. Tetapi bola mata Kristy tak bereaksi. Kristy langsung bereaksi justru ketika Bambang membunyikan sesuatu. Kristy langsung mencari sumber suara.

Hasil diagnosa sejumlah dokter mengatakan, ada satu syaraf di mata anaknya yang rusak. Bambang dan Wida sangat terpukul mendengar vonis dokter untuk sang buah hati yang mereka damba selama sembilan tahun itu. Seiring waktu, terang Wida, Tuhan justru menujukkan kuasa dan kebaikan-Nya lewat Kristy. Tuhan menjadikan buah hatinya sebagai alat kesaksian keagungan-Nya. Bayangkan, kurang dari enam tahun, kemampuan Kristy bermain piano berkembang pesat, tanpa ikut kursus.

Berbagai prestasi pun Kristy raih. Dua tahun lalu, Kristy berada di posisi tiga besar Indonesia’s Got Talent. Setahun kemudian, ia menembus panggung Asia’s Got Talent di Malaysia. Kelak Kristy mendamba, ingin menjadi komposer. “Tuhan itu sangat baik dan maha adil,” pungkas Wida sambil tersenyum.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*