Artikel Terbaru

Opa Penginjil Di Tanah Kelahiran

Pesta emas: Romo F.X. Huvang Hurang MSF menerima kalungan bunga saat acara Syukur 50 Tahun Hidup Membiara.
[B. Helanoz]
Opa Penginjil Di Tanah Kelahiran
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Romo Huvang Hurang MSF memilih jalan budaya sebagai pintu masuk mengenalkan Injil bagi umat Dayak di Kalimantan Timur. Setengah abad perjalanan hidup membiara ia dedikasikan bagi tugas penginjilan di tanah kelahiran.

Lima puluh tahun silam Fransiskus Xaverius Huvang Hurang membulatkan tekad menjajaki perjalanan menuju imamat. Congregatio Missionariorum a Sacra Familia (MSF) ia pilih sebagai komunitas yang akan membekali dan mengarahkan dia menuju cita-cita itu. Setelah tujuh tahun ditempa, pria kelahiran Tering Lama, Kutai Barat, Kalimantan Timur, 19 Agustus 1943 ini menerima tahbisan imam dari tangan Uskup Agung Samarinda Mgr Jacques Henri Romeijn MSF pada 10 Desember 1972.

Usai tahbisan suci, putra pasangan Yohanes Hurang Ajang dan Lucia Karing Gath menerima perutusan sebagai pastor rekan di Paroki Kristus Raja Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Tiga tahun kemudian, Romo Huvang hijrah ke Paroki St Maria Pembantu Senantiasa Katedral Samarinda. Lima tahun ia memangku kepercayaan sebagai kepala paroki di pusat Kota Tepian itu. Sebagai imam muda, totalitas dalam tugas pastoral menjadi acuan Romo Huvang. Sedapat mungkin pengetahuan dan keterampilan yang ada dalam diri ia gunakan untuk menunjang karya pastoral. Satu keterampilan yang ia eksplorasi adalah musik. Romo Huvang menciptakan lagu-lagu liturgi bernuansa Dayak untuk menunjang kegiatan-kegiatan liturgi. Liturgi Gereja dan warisan budaya dikemas sedemikian rupa agar bisa mengantar umat menghayati dan mengungkapkan iman kekakatolikan.

Jalan budaya
Kreativitas Romo Huvang melibatkan budaya dalam berpastoral dilirik Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta. Romo Huvang diajak kerja sama menggelar lokakarya musik liturgi untuk pertama kali di Buntok, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Selanjutnya, kegiatan-kegiatan lokakarya serupa dikembangkan PML ke daerah-daerah lain. Boleh dikata, gagasan Romo Huvang ini menjadi sumber inspirasi PML mengemas lagu-lagu liturgi sesuai dengan nuansa daerah. Kegiatan ini masih tumbuh subur dalam Gereja Katolik Indonesia hingga hari ini.

Menurut pengakuan Romo Huvang, bukan perkara gampang mengawali langkah mencangkokkan unsur budaya dalam liturgi. “Banyak imam yang tidak mudah menerima gaya pastoral seperti ini. Banyak sekali yang menentang. Itu salah satu pengalaman yang cukup berat dalam menjalankan tugas pastoral saya,” ujar sulung dari tujuh bersaudara ini.

Namun, Romo Huvang tak mau mengalah. Apalagi putus asa dan mengendurkan kreativitas. Ia justru termotivasi melebarkan sayap pewartaan Injil ke tempat-tempat baru. Buktinya, ia berhasil membuka beberapa paroki baru di Kaliman tan Timur. Pada 1980-1985 imam yang mengikrarkan kaul pertama sebagai anggota tarekat MSF pada 8 September 1965 ini menerima tugas perutusan baru menggembalakan Paroki St Paulus Buntok. Setelah sekian waktu berjibaku dengan tugas parokial, ia ditugaskan menjadi Direktur Seminari Menengah Senakel Banjarmasin. Selama lima tahun, 1985-1990, Romo Huvang menahkodai lembaga persemaian calon-calon gembala Gereja itu.

Imam dan pemimpin tarekat MSF mempercayakan kepadanya jabatan Provinsial Imam-Imam Misionaris Keluarga Kudus Provinsi Kalimantan dari 1999 sampai 2005. Setelah itu, ia kembali bertugas di paroki dengan menjabat Pastor Paroki St Lukas Samarinda. Pada 2011, imam asli Suku Dayak ini kembali menjejakkan kaki di Kota Minyak sebagai Pastor Paroki St Theresia Balikpapan, Kalimantan Timur.

Jasa pastoral lain yang perlu dicatat dari Romo Huvang adalah keberhasilan membawa Marriage Encounter (ME) ke Kalimantan Timur. ME adalah sebuah gerakan Gereja Katolik bagi pasangan suami istri. Program yang biasa diberikan pada akhir pekan ini memungkinkan para pasangan suami istri mendapat kesempatan melatih teknik berkomunikasi dalam keluarga.

Emas membiara
Selasa, 8 September 2015, Romo Huvang merayakan 50 tahun peziarahan sebagai biarawan Misionaris Keluarga Kudus. Misa syukur dirayakan secara konselebrasi dengan selebran utamaUskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto MSF bersama Uskup Palangkaraya Mgr Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF dan 26 imam.

Mgr Harjosusanto menegaskan kembali rekam jejak penghayatan hidup membiara Romo Huvang. Menurut dia, Romo Huvang telah berhasil menumbuhkan kesadaran dalam diri bahwa semua tugas perutusan yang sudah ia lalui merupakan anugerah berlimpah dari Allah. “Allah telah menjadi andalan dalam hidup membiara Romo Huvang selama 50 tahun dan telah menjadikan kelemahan manusiawi sebagai kekuatan. Patut kita syukuri bersama!” kata Mgr Harjosusanto.

Pada usia panggilan senja, Romo Huvang merefleksikan bahwa kekuatan dalam menjajaki imamat tidak berpangkal dalam diri sendiri. Keluarga adalah komponen penting dalam pembentukan panggilan. “Kehidupan doa yang saya pelajari dan terima dari keluarga menjadi kekuatan bagi saya untuk memilih jalan panggilan imamat,” kata Romo Huvang yang saat ini berusia 72 tahun.

Meski dibekap usia yang telah renta, Romo Huvang masih gigih mengamalkan janji imamat dalam tugas-tugas penggembalaan umat. Sampai kini, umat Paroki Theresia Balikpapan masih merasakan aura penggembalaan Romo Huvang. Kesan bersahabat dan merangkul semua orang adalah hal yang bisa dirasakan saat berjumpa dengan romo yang akrab disapa Opa oleh umat Paroki St Theresia Balikpapan ini.

F.X. Huvang Hurang MSF
TTL: Tering Lama 19 Agustus 1943
Tahbisan imam: 10 Desember 1972
 

Pendidikan:
• Seminari Menengah St. Joseph Sanga-Sanga
• Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop, Kalimantan Barat
• Novisiat MSF di Yogyakarta
• Filsafat dan Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Kentungan, Yogyakarta

Karya:
• Direktur Seminari Menengah Senakel di Banjarmasin (1985 1990)
• Provisial MSF Kalimantan (1999-2005)
• Kepala Paroki St Theresia Balikpapan (2011-sekarang)

B. Helanoz

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*