Artikel Terbaru

Rasul Awam bagi Kaum Miskin

Beato Antoine Frédéric Ozanam.
[stvincentimages.com]
Rasul Awam bagi Kaum Miskin
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ia sempat ragu akan iman kristianinya. Namun, Tuhan membentuk putra dokter kavaleri Napoleon Bonaparte ini menjadi rasul awam yang melayani kaum miskin.

Hampir 70 tahun berlalu, Takhta Suci akhirnya merestui proses penggelaran kudus Antoine Frédéric Ozanam. Sejak 15 Maret 1925, Congregatio Missionis (CM) mengajukan proses penggelaran kudus. Proses ini sempat terkatung-katung akibat Perang Dunia II. Berkat usaha Pater Michael Lloret CM, penasihat Serikat Sosial Vincentian (SSV), proses ini dibuka lagi. Bapa Suci Yohanes Paulus II mengesahkan dekrit keutamaan kristiani dan menggelari Ozanam venerabilis  pada 6 Juli 1993.

Seolah tanpa rintangan, Takhta Suci kemudian mengesahkan mukjizat kesembuhan yang dialami Fernando Luis Benedito Ottoni. Bayi asal Brazil yang menderita lemah jantung itu di vonis hanya akan mampu bertahan hidup seminggu. Mereka berdoa lewat perantaraan Ozanam. Alhasil, Fernando sembuh total tanpa bisa dijelaskan secara medis. Rekam jantungnya pun normal. Berkat mukjizat itu Yohanes Paulus II menggelari Ozanam sebagai beato pada 25 Juni 1996.

Bocah Brilian
Ozanam lahir di via San Pietro all’Orto, Milan, Italia, 23 April 1813. Ia dibaptis di Gereja St Maria dei Servi, Italia, 13 Mei 1813. Ayahnya Jean Angoine Ozanam (1773-1837) dan ibunya Maria Nantas (1781-1839) berasal dari keluarga terpandang. Sang ayah berprofesi sebagai dokter Prajurit Kavaleri Napoléon Bonaparte (1769-1821). Namun ia melarikan diri dari medan perang dan kembali ke Lyon, Perancis. Sementara sang ibu adalah putri bangsawan Perancis. Pasangan ini dikaruniai 14 anak. Namun hanya empat yang bertahan hidup hingga dewasa, yakni Elisa Ozanam, Alphonse Ozanam, Antoine Frédéric Ozanam, dan Charles Ozanam.

Keutamaan kristiani mendarah daging dalam keluarga ini. Tak heran, Alphonse Ozanam (1804-1808) kelak menjadi imam. Sejak belia, Ozanam dikenal sebagai bocah brilian. Kecerdasan intelektualnya tak diragukan lagi. Pada Oktober 1823, ia belajar di College Royal, sebuah sekolah unggulan di Perancis. Ayahnya melihat Ozanam mempunyai talenta di bidang hukum. Ozanam diharapkan menjadi advokat ulung. Maka, ia didaftarkan masuk Fakultas Hukum Universitas Sorbonne, Perancis. Namun, Ozanam lebih senang bergumul dengan literatur.

Studi literatur menggiringnya masuk dalam ketajaman pemikiran yang kian menggairahkan. Ozanam melalap habis buku-buku sastra, puisi, dan filsafat–terutama filsafat sosial yang populer kala itu. Tak pelak ia sering bersinggungan dengan ideologi sekular, bahkan ateis. Dosen filsafatnya, Abas Jean Mathias Noirot (1793-1880) dibuat kagum, “Tak ada seorang siswa pun sepopuler Ozanam di Sekolah,” katanya.

Kekeringan Rohani
Ozanam semakin berkembang menjadi dewasa. Ia mulai berkubang dalam kebimbangan iman. “Teman-teman, sepertinya aku masuk dalam periode yang melelahkan dalam hidupku. Aku mulai bertanya pada diriku, ‘Mengapa aku percaya Tuhan? ’Aku merasa ragu, meski aku sebenarnya ingin percaya Tuhan,” tulisnya pada 5 Juni 1830.

Abas Jean telah mendidiknya agar jangan pernah puas akan jawaban yang mudah. Ozanam diajari berselancar di dunia ide mencari jawaban yang sungguh mendalam. Ia dibentuk menjadi pribadi hebat dalam apologetik.

Dalam pencariannya, Ozanam menemukan tujuan hidupnya saat berada di Paroki St Tienne de Mont. ketika merasakan kekeringan rohani memuncak, ia berdoa dan mohon petunjuk Tuhan.

Gayung bersambut. Ozanam bertemu Emmanuel Bailly de Surcy (1719-1861), seorang animator di bidang publikasi media Katolik Paris. Emmanuel memperkenalkannya kepada Soceté des Bonnes Etudes, forum diskusi mahasiswa tentang berbagai ilmu pengetahuan. Ia lalu aktif bergabung tahun 1830. Dalam suatu diskusi, ia mengajukan pertanyaan yang menjadi titik tolak kesadaran para mahasiswa. “Kalian rajin membaca Injil dan doktrin. Namun, apa yang sudah kalian perbuat untuk orang miskin?” selidiknya.

Pertanyaan itu dilatarbelakangi oleh wabah endemik kolera yang menjamur di Paris tahun 1832. Nyawa warga Paris terancam, terutama kaum miskin. Apalagi Paris menjadi kota tujuan bagi tunawisma. Kemiskinan yang melilit ditambah propaganda ajaran Marxis sering memancing amarah rakyat dan berujung ricuh.

Semangat Kemiskinan
Pada 23 April 1833, Soc eté des Bonnes Etu des berkumpul, bertepatan dengan ulang tahun Ozanam. Dalam proses organisasi terbentuklah Serikat Kasih Mahasiswa Sarbonne. Komunitas baru ini lalu meminta nasihat Sr Rosalie Rendu PK (1786-1856), Superior Kongregasi Puteri Kasih. Alasannya, Sr Rosalie sangat paham akan sudut-sudut miskin Paris, terutama di perkampungan Mouffetard.

Komunitas baru ini juga menemui Henri Dominique Lacordaire (1802-1861), seorang advokat muda yang cerdas dan pejuang hak asasi manusia. Ozanam setuju dengan Henri, pewartaan iman harus menggunakan pendekatan yang mengena bagi masyarakat.

Usai diskusi dengan Henri, Ozanam memutuskan menemui Uskup Agung Paris, Mgr Hyacinthe-Louis de Quélen (1778- 1839). Ia meminta izin mendirikan sebuah tarekat. Awalnya, permohonan itu ditolak. Namun berkat petisi yang ditanda-tangani seribu mahasiswa, Mgr Hyacinthe pun menyetujuinya.

Tarekat baru ini tak lagi memakai nama Serikat Kasih Mahasiswa Sarbonne, melainkan Serikat Sosial St Vincentius a Paulo (SSV), yang dibentuk di Rue Petit- Bourbon Saint Sulpice, 4 Februari 1834. Sedangkan Serikat Kasih Mahasiswa Sarbonne masih terus berkarya di bawah asuhan Emmanuelle Bailly de Surcy.

Pasca SSV berdiri, Ozanam meniti karir sebagai dosen literatur dan apologetik. Namun, ia mengalami pergulatan batin. Ia terpesona dengan hidup selibat dan bermimpi bisa mengikuti cara hidup Abas Henri Dominique. Dalam pergumulan, alih-alih memutuskan bergabung dengan Ordo Predicatores (OP, Dominikan) ia justru membulatkan tekad untuk menghidupi Injil sebagai awam. “Hidup perkawinan seringkali mengusik jiwa ini. Bukankah ini suatu hal yang memalukan? Namun Bunda Maria membuatku sadar bahwa kerapkali aku perlu memahami hati seorang wanita,” tulisnya dalam surat pribadi kepada Francois Laillier, 5 Oktober 1837. Maka pada 23 Juni 1841, Ozanam memutuskan merajut kasih di depan altar dengan Amélie Soulacroix, puteri Jean Baptiste Soulacroix, Rektor Akademi Lyon.

Malang tak bisa ditolak. Kesehatan Ozanam tak sekuat semangat pelayanannya. Raganya rapuh dan menderita berbagai penyakit, seperti typhus, batuk kering berkepanjangan, dan gagal ginjal. Ia sering sakit-sakitan. Dalam usia 40 tahun ia wafat di Marseilles, Perancis pada 8 September 1853. Saat itu ia sedang dalam perjalanan dari Italia menuju Paris.

Jasadnya dimakamkan di Gereja St Joseph des Carmes, milik Ordo Karmelit. Di atas pusaranya diletakkan nisan bertuliskan “Qui in pace riposa Frédérico Ozanam, conquistore di giovani per ia milizia di Christo” (Profesor Ozanam, berisitrahatlah dalam damai di sini, kuasailah anak-anak muda demi memperjuangkan Kristus.”

Rasul awam ini pun menerima gelar Beato. Misa Beatifikasi Ozanam dipimpin Bapa Suci Yohanes Paulus II di Katedral Notre Dame Paris, Perancis, 22 Agustus 1997. Gereja memeringatinya tiap 9 September.

Yusti H.Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*