Artikel Terbaru

Sentuhan Kasih yang Menyembuhkan Jiwa

Akrab: Sr Lucia CIJ berakrab ria bersama para pengurus panti.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Sentuhan Kasih yang Menyembuhkan Jiwa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Banyak orang sakit jiwa berkeliaran di kota Maumere, NTT. Sebagian dari mereka kembali sehat jiwanya berkat sentuhan kasih para suster dan para pengasuh.

Seorang perempuan dengan tangan dan kaki terbelenggu tali berteriak-teriak. Pakaiannya pun kotor, dan rambutnya acak-acakan.Wanita itu terus berteriak meminta ikatan tali itu dilepaskan. Begitu tiba di Panti Rehabilitasi St Dymphna (PR St Dymphna), Sr Lucia menyambutnya. Sr Lucia meminta petugas untuk melepas ikatan tali itu. “Suster ia sangat berbahaya,” ujar salah seorang pengantar perempuan itu. Sr Lucia bersikeras. Begitu ikatannya dilepas, Sr Lucia memeluk perempuan itu lalu menggandeng tangannya dan berjalan menuju kapela di biara yang terletak di dekat PR St Dymphna.

Kejadian itu membuat keluarga yang mengantar terkejut. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Setelah beberapa tahun menjadi pasien di PR St Dymphna, perempuan itu sembuh dan kembali ke tengah-tengah keluarganya. “Kasih telah menyembuh kan segalanya,” ujar Sr Lucia sambil tersenyum.

Sepuluh Wanita
Pendirian PR St Dymphna bermula ketika Dinas Sosial Kabupaten Sikka, NTT mendanai pelatihan menjahit bagi wanita penyandang disabilitas yang dikelola Sr Lucia pada November 2003. Setelah pelatihan itu selesai, ada sepuluh wanita peserta pelatihan yang enggan dipisahkan. Mereka mendatangi Sr Lucia dan bertanya, “Mama Suster, bagaimana kalau kami ditampung untuk terus belajar menjahit?” Mendengar pertanyaan Sr Lucia menjawab, “Saya tidak punya uang untuk membangun rumah panti bagi kalian.”

Hati kecil Sr Lucia berbisik, visi dan misi para suster Congregatio Imitationis Jesu (CIJ) ada di dalam wajah sepuluh wanita itu. Keberpihakan kepada kaum kecil dan hina dina juga merupakan panggilan Gereja universal. Sr Lucia yakin sepuluh wanita itu adalah tanda dari Allah. Sr Lucia membayangkan wajah-wajah orang yang cacat mental dan sakit jiwa yang diabaikan keluarga dan dibiarkan berkeliaran di jalanan kota Maumere.

Bayangan itu kemudian menjadi tekat dalam diri Sr Lucia untuk mendirikan panti bagi kaum kecil. Ia terispirasi Injil Mat: 25:40, “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Sr Lucia meyakini Tuhan akan menunjukkan jalan bagi karya yang dirintisnya.

Dengan upaya keras dan bantuan berbagai pihak, pada 26 Januari 2004 berdirilah PR St Dymphna. Nama ini dipilih mengingat St Dymphna adalah Pelindung para penderita penyakit syaraf dan ingatan. Nama itu diambil setelah berkonsultasi dengan pimpinan Kongregasi CIJ. Nama ini juga mewakili keberpihakan kepada kaum kecil dan hina dina.

Menerima Semua
Sesuai dengan visi dan misinya panti ini melayani wanita-wanita yang sakit jiwa, gangguan mental, dan penyandang bermacam disabilitas lain. Menurut Sr Lucia para penghuni memiliki latar belakang penyebab yang berbeda-beda. Ada yang karena tekanan ekonomi, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bahkan juga korban kekerasan sexual. Selain menampung orang dewasa, PR St Dymphna juga menampung anak-anak yang depresi karena KDRT, kekerasan seksual, dan juga menampung beberapa anak disabilitas yang terlantar.

PR St Dymphna berprinsip mengedepankan kasih dalam pelayanan. Lewat prinsip itu banyak pasien mengalami kesembuhan. Pengelola yakin para penghuni yang sakit jiwa akan sembuh bila mengalami sentuhan Kasih Yesus. “Kasih Yesus itu butuh saluran rahmat, yakni manusia yang mau membuka diri dan hati untuk merawat yang sakit,” ujar Sr Lucia.

Waktu demi waktu, kisah tentang penyembuhan di PR St Dymphna terdengar ke mana-mana. Beberapa pasien berdatangan dari Kupang, Jakarta hingga Kalimantan. Suatu hari, Sr Lucia kedatangan keluarga yang mengantar saudara laki-lakinya untuk dirawat ditempat itu. Sr Lucia menolak karena panti itu hanya untuk perempuan. Dalam hati, Sr Lucia berharap ada donatur yang membantu pembangunan panti rehabilitasi untuk laki-laki. “Kami siap untuk merawat pasien laki-laki jika ada yang mau membantu,” ungkap suster yang pada 22 Juni 2015 lalu merayakan pesta perak hidup membiara.

Sentuhan Kasih
Petugas medis dan penghuni PR St Dymphna memulai aktivitas hariannya pukul 04.00 WITA dengan berdoa pagi bersama. Selesai doa, para perawat memandikan penghuni panti yang belum bisa mandi sendiri. Mereka juga merapikan dan membersihkan tempat tidur.

Bagi penghuni yang mengalami masalah kejiwaan proses rehabilitasi dilakukan melalui konseling, pelatihan, dan doa yang terjadwal dari pagi sampai malam. Untuk mendukung penyembuhan, para psikolog bekerja memberikan pendampingan dalam kegiat an kelas. Aktivitasdi kelas diisi dengan pengajaran dan pelatihan seperti pelatihan menjahit, membaca, menulis dan menghitung.

Untuk merawat pasien, pengelola PR St Dymphna mendasarkan pelayanan kepada nilai-nilai kasih, keramahan, kelembutan, dan doa. Nilai-nilai ini menjadi langkah penyembuhan paling utama.

Psikolog dibantu petugas yang juga bertanggung jawab memandikan, memberikan obat, dan membersih kan kamar pasien. Setiap jam perawat akan mengontrol dan mengecek ruangan kamar pasien. “Ketika kontrol, para perawat sering menemukan kotoran, bekas haid dan semacamnya. Kami terbiasa dengan itu,” ujar Sr Lucia.

Mereka yang Sembuh
Sudah banyak orang yang menemukan kembali hidupannya setelah menjalani rehabilitasi di PR St Dymphna. Semua berkat ketekunan setiap pengelola dan psikolog yang dengan setia merawat mereka.

Salah satunya Adel, setelah mendapat sembuh kini ia mengabdi di PR St Dymphna sebagai pembuat roti dan es. Adel mengakui kekuatan doalah yang telah menyembuhnnya.

Awalnya Adel datang di panti ini diantar suaminya pada 2012. Ia menderita gangguan jiwa. Setelah dirawat selama satu setengah tahun, ia dinyatakan sembuh. Setelah beberapa hari tinggal di rumah, Adel merindukan suasana panti. Ia pun minta izin kepada suaminya untuk kembali ke panti dan bekerja membantu Sr Lucia. “Jika waktunya tiba, saya akan kembali kepada suami saya. Tetapi saat ini, saya ingin di sini membantu Suster,” ujar wanita kelahiran 7 Juli 1971 ini.

Lain lagi Maria Florida. Wanita yang disapa Yonce ini dinyatakan sembuh setelah sekitar dua tahun dirawat.Perempuan asal Ruteng ini kini melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral St Sirilus Ruteng, NTT dengan bantuan dana dari Sr Lucia. Setiap libur kuliah, Yonce pulang ke PR St Dymphna dan membantu merawat pasien. “Di tempat ini saya disembuhkan, karena itu saya ingin mendukung teman-teman yang masih menderita sakit,” ungkap Yonce.

Adel dan Yonce bukan lagi perempuan-perempuan yang terbelenggu ikatan tali. Berkat sentuhan kasih para suster dan pengasuh di Panti St Dymphna, mereka kembali memiliki jiwa yang sehat.

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*