Artikel Terbaru

Krisis Pengungsi

Krisis Pengungsi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Naskah Gaudium et Spes yang merupakan salah satu naskah Ajaran Sosial Gereja (ASG) menggarisbawahi kebersamaan manusia sebagai makhluk sosial, berhubungan dengan karya keselamatan. Allah membentuk komunitas manusiawi bersama dan menyelamatkan mereka bukan sebagai pribadi saja, tetapi dalam satu kesatuan dengan sesama, termasuk para pengungsi. Ajaran Sosial Gereja juga menempatkan secara proporsional kedaulatan negara serta penghormatan terhadap martabat dan hak-hak asasi manusia.

Kita telah sama-sama melihat sejumlah negara Eropa memiliki respon yang berbeda-beda terhadap gelombang pengungsi. Misal di Hongaria, para pengungsi ditolak, perbatasan ditutup, dan dijaga ketat militer, bahkan seorang kamerawati terekam kamera menendang seorang lelaki yang membopong anaknya hingga terjungkal ketika melewati padang rumput saat melarikan diri dari kejaran petugas. Sementara di Jerman, Perdana Menteri Angela Merkel dengan terbuka dan lantang mengatakan bahwa mereka membuka diri terhadap para pengungsi.

Dari infografis Majalah Tempo edisi pertengahan September lalu, Jerman tercatat menerima sekitar 306.000 pengungsi, sementara Swedia menerima 56 ribu, Italia sekitar 48 ribu dan Inggris menerima 30 ribu pengungsi. Dari infografis yang sama juga muncul data tentang tak kurang dari 2.643 pengungsi yang meninggal dunia di Laut Mediteriania pada tahun ini, serta tak kurang dari 800 orang tewas dalam kecelakaan kapal di perairan Lampedusa bulan April lalu.

Pengungsi yang mencapai ratusan ribu tentu bukan tanpa alasan ketika memilih meninggalkan tanah air dan menyelamatkan diri, serta mempertaruhkan nyawa untuk pergi ke tempat baru. Kondisi dalam negeri yang penuh dengan perang, konflik berkepanjangan membuat mereka terpaksa meninggalkan segala yang mereka miliki di tanah airnya.

Namun ketika gelombang ini mencapai daratan Eropa, persoalan lain juga muncul. Apakah pengungsi akan langsung diterima di negara yang berbeda budaya, cuaca, dan cara hidup? Di mana mereka akan tinggal, akankah mereka diterima secara permanen di negara-negara tadi? Ada juga banyak pertanyaan yang lain.

Eropa memang sempat guncang atas persoalan mendesak yang dihadapi nyaris tanpa persiapan memadai dan memerlukan respon cepat. Kita terharu mendengar betapa negara Eropa lain juga membuka diri terhadap para pengungsi. Masyarakat menyiapkan tenda untuk tinggal sementara, menyiapkan makanan, memeriksa kesehatan para pengungsi, serta mengajak perlahan bergabung dengan masyarakat lain. Tangan terbuka menerima para pengungsi yang kelelahan fisik dan jiwa.

Inilah sikap yang harus ditunjukkan dalam merespon ratusan ribu orang yang putus asa, mencari harapan baru, serta berani mempertaruhkan nyawa dan keluarganya demi masa depan yang mereka anggap lebih baik. Petikan kalimat dalam Gaudium et Spes menegur kita kembali, “.. para pengungsi juga sama dengan kita, sesama manusia, yang secara alamiah sekali mencari perlindungan diri, mencari perbaikan hidup, walau itu harus ditempuh dengan mempertaruhkan nyawanya.”

Dunia mesti turut menangani krisis pengungsi ini. Lalu, di mana posisi Indonesia? Banyak orang merasa Indonesia sendiri sudah mempunyai banyak masalah. Pengungsi asal Myanmar dari Suku Rohinya yang datang tahun lalu pun masih belum tertangani. Jika ada gelombang pengungsi yang lebih besar, apa yang bisa Indonesia lakukan?

Lepas dari kemampuan yang bisa dilakukan Indonesia, namun perhatian terhadap soal pengungsian tetap harus dilakukan. Perhatian terhadap pengungsi tak melulu harus dilakukan dengan menampung mereka, tetapi mengirimkan tenaga kesehatan atau membantu bahan pangan, adalah tindakan minimal yang bisa dilakukan.

Umat Katolik juga diajak tidak melihat persoalan pengungsi dari sisi perbedaan latar belakang budaya. Manusia adalah manusia. Untuk itulah kita juga harus turut memikirkan dan bertindak menanggapi permasalahan pengungsi ini. Pengungsi adalah masalah yang nyata di depan mata, yang membutuhkan jawaban yang nyata pula.

Ignatius Haryanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*