Artikel Terbaru

Mengapa Mgr Agus Giat Mengajak Umat Katolik Untuk Berpolitik?

Mengapa Mgr Agus Giat Mengajak Umat Katolik Untuk Berpolitik?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mgr Agus dikenal sebagai Uskup yang dekat dengan politik. Bagi dia, politik adalah sarana menghadirkan Gereja dan gerak nyata keberpihakan Gereja kepada mereka yang tertindas dan miskin.

Akhir Oktober 2013, Mgr Agustinus Agus sempat gusar. Ia dituduh terlibat dalam politik praktis. Ia juga dianggap terlalu membela kepentingan masyarakat Dayak. Tapi, Uskup Agung Pontianak ini menanggapi dengan biasa-biasa saja. Tuduhan semacam itu sudah terlalu sering menimpanya.

Uskup yang lahir di Desa Lintang, Sanggau, Kalimantan Barat, 22 November 1949, memang dikenal dekat dengan politik. Menjelang akhir Mei lalu, bersama Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak, Romo William Chang OFMCap, Mgr Agus hadir dalam pelantikan Bupati Landak, Kalimantan Barat, Karolin Margret Natasha dan wakilnya Herkulanus Heriadi. Secara khusus, Mgr Agus memegang Alkitab sebagai tempat tumpuan tangan Karolin saat mengucapkan sumpah jabatan.

Cerita ini bukanlah yang pertama, Mgr Agus cukup sering hadir dalam upacara pelantikan pejabat pemerintahan. Bahkan, beberapa kali ia didaulat melambungkan doa dalam upacara itu. “Katolik itu kan agama sah di negara ini. Jadi, doa secara Katolik pun sah dalam acara pemerintahan,” ujar imam yang menerima tahbisan episkopal sebagai Uskup Sintang pada 6 Februari 2000.

Tahun lalu, ia pun membuat kejutan. Untuk pertama kali, seorang Uskup hadir dalam upacara bendera di Kantor Gubernur Kalimantan Barat. “Saya malu, karena saya sering mengajak umat agar menjadi warga negara yang baik, tapi saya sendiri tidak pernah menunjukkan hal itu, salah satunya ya dengan ikut upacara bendera.”

Beberapa tahun lalu, Mgr Agus pun pernah dituduh anti sawit. Tapi ia menampik tuduhan itu. Baginya, semua ciptaan-Nya adalah baik. Sawit tidak berdosa. Tapi, ia mengkritik praktik bisnis sawit yang terkadang justru menindas warga. Warga, yang mayoritas orang Dayak, tak mendapat kesejahteraan dengan keberadaan perkebunan sawit. Hutan juga dibabat habis, bahkan kuburan pun dilindas demi kebun sawit. “Saya bukan anti sawit. Saya anti ketidakadilan. Saya anti perlakuan sewenang-wenang.” Ia juga mengkritik perilaku oknum pejabat pemerintah yang kadang “bermain” di balik kebun sawit.

Lebaran tahun lalu, bersama beberapa biarawan dan biarawati, Mgr Agus bersilaturahmi dengan para pemuka agama Islam. Putra pasangan Markus Budjang dan Maria Djoi ini mengatakan, silaturahmi dengan para pemuka agama juga bisa dipandang sebagai langkah politik Gereja.

Menghadirkan, Berpihak
Bagi Mgr Agus, politik tak hanya memperjuangkan kekuasaan semata. Politik juga sarana untuk menghadirkan Gereja di tengah kecemasan dan kegembiraan, duka dan harapan masyarakat sekitarnya. Pun sebagai upaya untuk memperjuangkan misi Gereja yang terlibat dan berpihak kepada mereka yang miskin, tertindas, dan menderita.

Sejak menjadi imam muda, Mgr Agus sudah getol dengan politik. Bagi mantan Uskup Sintang ini, menjadi imam adalah panggilan untuk berbuat baik bagi semua orang, terutama yang miskin dan tertindas. Dalam konteks Kalimantan Barat, kemiskinan dan ketertindasan itu mewujud dalam aneka bentuk. Mgr Agus mencontohkan bahwa banyak orang Dayak yang malu menghidangkan makanan khas Dayak, lantaran dianggap kuno dan primitif. “Ini kan penindasan dalam bentuk yang sederhana. Saya melihat, orang Dayak sering menjadi korban kemiskinan dan ketertindasan,” ujar mantan Ketua Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia (Kerawam KWI) ini.

Ketika melihat kemiskinan dan penindasan merajalela, Gereja tak bisa diam berpangku tangan. “Bukankah kehadiran Gereja mesti membebaskan orang dari ketertindasan dan kemiskinan, memerdekakan mereka yang menderita agar selamat.”

Untuk mewujudkan misi ini, menurut Mgr Agus, dibutuhkan orang-orang Katolik, terutama umat awam yang bersedia masuk dalam politik praktis. Maka, ia pun getol melakukan kaderisasi politik untuk umat, agar mereka siap masuk gelanggang kompetisi politik, entah lewat Pemilu atau Pilkada. “Ini kan tanggung jawab Gereja juga. Gereja mesti mempersiapkan kader-kader awam untuk terjun dalam dunia politik.”

Namun, ketika berhadapan dengan Pemilu atau Pilkada, Mgr Agus tak pernah mengarahkan umat untuk memilih calon tertentu. Ia hanya mengajak umat untuk memilih pemimpin yang terbaik. “Selama menjadi imam, saya tidak pernah sekali pun menggunakan kuasa saya untuk memaksakan kehendak, terutama dalam kompetisi politik.” Ia lebih memilih memberikan pendidikan politik bagi umat dan masyarakat.

Kedekatannya dengan beberapa tokoh politik pun punya misi tertentu. Ia mengatakan, kedekatan itu memang bisa dibaca lain oleh banyak orang. Tapi bagi Mgr Agus, kedekatan itu dalam kerangka untuk meneguhkan mereka saat berkarya di dunia politik. “Karena mereka mudah sekali terjebak dengan aneka godaan, terutama korupsi,” ujarnya. Upaya itu juga sebagai sarana untuk mendekatkan dan menghadirkan Gereja dalam dinamika masyarakat.

Tak jarang, Mgr Agus memendam kecewa dan prihatin, ketika melihat pejabat-pejabat Katolik terlibat dalam praktik korupsi, atau menyalahgunakan kekuasaannya. “Bagi saya, ini sebuah risiko,” ujarnya.

Sakramen Keselamatan
Mgr Agus tetap menggenggam aturan Gereja bahwa seorang tertahbis tidak boleh masuk dalam politik praktis merebut kekuasaan. Ia selalu mengingatkan para imam, agar tak masuk dalam arena ini. Baginya, menjadi imam justru memiliki kekuatan yang lebih besar. Ia lebih didengar umat, serta bisa masuk berdialog dengan beragam kalangan. Di sinilah kekuatan suara kenabian seorang imam. “Saya sangat tidak setuju ketika seorang imam masuk dalam politik praktis dalam rangka memperebutkan kekuasaan.”

Ia juga mendorong umat awam untuk tak segan-segan masuk ke ranah politik. Melalui Sakramen Baptis, umat awam juga mengemban misi Gereja untuk memperjuangakan keadilan dan kesejahteraan bagi semua orang. “Jangan takut masuk politik!”Pada 19 Juni ini, Mgr Agus merayakan 40 tahun peziarahan imamatnya. Ia ditahbiskan menjadi imam di Sekadau, Kalimantan Barat, 19 Juni 1977 oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun OFMCap.

Dalam perayaan ini, ia merefleksikan moto penggembalaannya, Instaurare Omnia in Christo, semua dipersatukan dalam Kristus (Ef.1, 10). Moto ini mengandung makna bahwa Gereja dipanggil menjadi sakramen keselamatan dan menjadi tanda serta sarana persatuan antara umat manusia dengan Allah dan manusia dengan sesama. “Kehadiran Gereja mesti dirasakan oleh semua orang,” ujarnya.

Y. Prayogo/R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*