Artikel Terbaru

Pastoral Kontekstual Mgr Agus

Mgr Agus dalam sebuah acara di Keuskupan Sintang.
[Dok. Keuskupan Sintang/Budi Cahyadi]
Pastoral Kontekstual Mgr Agus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Keterlibatan Mgr Agus dalam dunia politik dinilai sebagai cara pastoral yang kontekstual, agar umat merasakan kemajuan pembangunan yang sesuai dengan nilai Kristiani.

Kontekstual, kata ini pantas disematkan pada Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus. Masih berpakaian Uskup, ia menari dan menyanyi bersama umat. Mgr Agus adalah gembala yang corak pastoralnya selalu kontekstual. Ia dekat dengan siapa saja, baik orang kampung, orang kaya, para politisi, para birokrat, hingga wakil rakyat. Kekhasan pastoralnya bak pepatah, “Di mana bumi berpijak, di situ langit dijunjung”.

Bentuk pastoral itu seakan berkorelasi dengan kerinduan umat yang selalu menanti kehadirannya. Romo Ignatius Michael Warsito OFMCap menceritakan, ada sebuah pengalaman mengesan bersama Mgr Agus. Suatu ketika, Mgr Agus mengikuti Gawai (Pesta Syukuran) Padi Dusun Tanjung Lalang, Desa Betuah, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Usai Misa, dengan sebuah gitar, Mgr Agus lalu bernyanyi “Kayu Ara”. Sontak umat pun mengikutinya dan berjoget bersama. “Lewat nyanyian pantun, Mgr Agus berkatekese. Umat menyambut kehadirannya penuh sukacita,” ujar Kepala Paroki St Theresia Delta Kapuas, Pontianak ini.

Keramahan Mgr Agus, membuat siapa saja bisa merangkulnya, memegang tangan, sekaligus menaruh hormat kepadanya. Ia menghargai kebudayaan masyarakat Dayak. Bukan karena dirinya lahir dari budaya tersebut, tetapi budaya membantunya mengekspresikan iman umat. Inilah corak pastoral kontekstual Mgr Agus di Keuskupan Agung Pontianak.

Membangun Keadaban
Di ranah sosial politik, Mgr Agus pantas berbangga. Beberapa tahun terakhir, banyak jabatan di pemerintahan Kalimantan Barat diisi umat Katolik. Kiprah Mgr Agus di dunia politik bukanlah kebetulan. Romo Michael menegaskan, meski Gereja melarang seorang gembala berpolitik praktis, tetapi cara politik ala Mgr Agus agak berbeda.

Mgr Agus mendorong para kader Katolik untuk ambil bagian dalam politik. Tujuannya, lewat cara ini ingin mengangkat harkat dan martabat orang Dayak. “Dengan cara ini, umat Katolik tidak merasa menjadi tamu di negeri sendiri,” tegas Romo Michael.

Sementara menurut Romo Alexius Alex, jumlah umat Katolik di Kalimantan Barat cukup signifikan. Tetapi, kuantitas ini kadang tak sejalan dengan kualitas iman umat. Artinya, umat yang tersebar di seantero Kalimantan Barat harus proaktif melibatkan diri dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk bidang politik. Mereka dituntut berani terlibat dalam urusan publik.

Kepala Paroki Katedral St Yoseph Pontianak ini percaya, keterlibatan Mgr Agus tak lain untuk memainkan peran sebagai garam dan terang. “Saat umat yang juga warga masyarakat berpolitik praktis menjadi pilihan yang strategis untuk membangun keadaban publik berdasarkan ajaran Gereja,” ujar Romo Alex.

Keterlibatan Mgr Agus bukan soal kekuasaan politik belaka, tetapi supaya masyarakat mengalami kesejahteraan, demikian menurut Romo Yulianus Astanto Adi CM. Menurutnya, Mgr Agus tidak saja mendukung orang-orang Katolik untuk berpolitik, tetapi siapa saja dari etnis dan agama mana pun asal menjunjung asas bonum commune, ‘kebaikan bersama’. Romo Rekan Paroki Keluarga Kudus Kotabaru, Pontianak ini melanjutkan, Mgr Agus tidak sekadar mengikuti arus politik. Ia tidak segan-segan mengkritik siapa pun yang melawan hakikat hidup bersama masyarakat di Kalimantan Barat.

Sesuai Ajaran
Soal politik praktis, banyak orang salah mengerti dua hal. Romo Johanes Robini OP mengatakan, pertama, politik langsung diartikan sebagai politik praktis. Padahal, yang dimaksud politik adalah segala hal yang menyangkut hidup bersama. Penulis biografi Mgr Agus ini menambahkan, mengutip pandangan Aristoteles, ia memakai istilah zoon politicon, ‘makhluk sosial politik’. Gereja sebagai umat Allah dalam Konsili Vatikan II adalah warta Kerajaan Surga yang akan datang dan warta masyarakat manusia di dunia nyata. Segala sesuatu yang terjadi di masyarakat akan mengena pada Gereja sebagai anggota masyarakat. “Maka tindakan Mgr Agus adalah tindakan realistis, bahkan sesuai dengan amanah ajaran Para Rasul.”

Kedua, keterlibatan Uskup dan imam bukan persoalan politik, tetapi dilihat dalam kerangka penggembalaan. Tugas mereka membantu umat untuk beriman dan menghidupi dimensi kemasyarakatan sesuai nilai Kristiani. Atas refleksi ini, keterlibatan Mgr Agus dalam politik bukan segala-galanya dibandingkan penggembalaan. “Robini saya ini bisa bekerja sama dengan siapa saja. Saya tidak mau tugas penggembalaan saya terbengkalai, dan bahkan terjebak arus politik praktis,” ujar Romo Robini menirukan perkataan Mgr Agus.

Sedangkan Sekretaris Keuskupan Agung Pontianak, Romo Pius Barces Seno CP mengatakan, dalam berpastoral, Mgr Agus selalu menekankan pelayanan umat yang seimbang dan pemberian diri total pada pelayanan umat. Pelayanan seimbang artinya pelayanan umat di pusat Keuskupan harus sama dengan umat di pedalaman. Maka, pastor adalah gembala yang melayani umat, bukan pegawai yang bekerja sesuai jam kantor.

Sekretaris Yudisial Keuskupan Agung Pontianak ini mengakui, prinsip yang sama pun digunakan dalam bidang politik. Mgr Agus berpolitik demi kesejahteraan rakyat, keadilan, dan pemerataan pembangunan.

Sejalan dengan ini, Ketua Komisi Keadilan Perdamaian (KKP) Keuskupan Sintang Romo Leonardus Miau menandaskan, seorang Uskup dan imam itu dilarang berpolitik praktis. Meski begitu, buah-buah pikiran dapat menjadi kompas bagi para politisi Katolik. “Dengan kesadaran ini, mereka bisa melaksanakan tugas dengan jujur dan benar demi kebaikan bersama,” ujar Romo Miau.

Yusti H. Wuarmanuk
Laporan: Marchella A. Vieba/Karina Chrisyantia

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*