Artikel Terbaru

Perbedaan Gereja Katolik dan Kristen Protestan Dalam Memandang Tubuh dan Darah Kristus

Perbedaan Gereja Katolik dan Kristen Protestan Dalam Memandang Tubuh dan Darah Kristus
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Mengapa saudara-saudari kita Kristen tidak merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, padahal mereka juga mengadakan perjamuan Tuhan dan juga mengakui sebagai sakramen?

Maria Fatima Kurniasari, Malang

Pertama, saudara-saudari kita Kristen Protestan memang mengakui perjamuan Tuhan sebagai sakramen, tetapi konsep mereka tentang Tubuh dan Darah Kristus sungguh sangat berbeda dengan konsep Gereja Katolik. Gereja Katolik mengajarkan bahwa dalam perjamuan malam terakhir dengan murid-murid-Nya, ketika Yesus mengatakan kata-kata konsekrasi, “Terimalah dan makanlah, inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagimu!” terjadilah perubahan pada roti, yaitu roti itu menjadi Tubuh Kristus. Demikian pula ketika Yesus berkata-kata untuk piala anggur, “Terimalah dan minumlah. Inilah Piala darah-Ku…” terjadilah perubahan pada anggur itu menjadi Darah Kristus.

Dengan demikian, Yesus Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur tersebut. Kehadiran Yesus Kristus di dalam roti dan anggur ini disebut kehadiran nyata (Ing: real presence; Lat: praesentia realis), bukan hanya simbol. Perubahan itu terjadi pada substansi (inti) dari roti dan anggur, tetapi bentuk luar, warna, rasa, dan lainlain (aksidens) tetap sama. Gereja Katolik menyebut perubahan itu sebagai “transubstansiasi” (Konsili Trente, DS Art. 1651). Jadi, ketika imam pemimpin perjamuan Ekaristi mengulangi kata-kata yang sama dari Yesus atas roti dan anggur, terjadilah juga perubahan (transubstansiasi) pada roti dan anggur pada perayaan Ekaristi. Dengan demikian, Yesus hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur.

Kedua, kehadiran nyata Yesus dalam roti dan anggur diindikasikan oleh kata-kata Yesus tentang roti hidup. “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” “Sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (bdk. Yoh 6:51-56).

Kehadiran Yesus Kristus yang sungguh nyata dalam rupa roti dan anggur diindikasikan juga oleh Paulus. “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.” Kemudian Paulus masih melanjutkan, “Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1 Kor 11: 27. 29).

Ketiga, Gereja-gereja Kristen Protestan menolak ajaran tentang kehadiran nyata. Bagi mereka, Yesus tidak hadir dalam rupa roti dan anggur. Yesus dihadirkan melalui iman dari penerima Tubuh dan Darah Kristus. Sedangkan roti dan anggur ini hanyalah simbol yang membantu para murid Yesus secara manusiawi untuk mengimani kehadiran Kristus. Secara obyektif, Yesus Kristus yang mulia tidak bisa dihadirkan dalam roti dan anggur. Itulah sebab Gereja Protestan tidak mempunyai tabernakel. Maka mereka juga tidak merayakan Tubuh dan Darah Kristus.

Keempat, ajaran Gereja Katolik tentang kehadiran nyata Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur diteguhkan oleh banyaknya mukjizat Ekaristis yang terjadi. Yang paling terkenal ialah mukjizat Ekaristi di Lanciano, Italia. Roti tak beragi itu berubah menjadi daging dan anggur berubah menjadi darah manusia. Sesudah diteliti di laboratorium, ternyata daging itu adalah irisan daging jantung. Keheranan para ahli ialah bagaimana mungkin pada zaman itu orang sudah bisa mengiris jaringan jantung seperti itu. Bagaimanapun juga mukjizat ini meneguhkan ajaran Gereja tentang kehadiran Kristus.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*