Artikel Terbaru

James Caviezel Nekat Mengadopsi Anak-anak Berkebutuhan Khusus

Kerri Browitt dan James Patrick Caviezel.
[magicb0x.tumblr.com]
James Caviezel Nekat Mengadopsi Anak-anak Berkebutuhan Khusus
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Ia bersama istri mengadopsi tiga anak penyandang tumor. Apa yang membuat mereka berani mengambil keputusan itu?

Suatu hari, James Patrick Caviezel bertandang ke rumah Dennis Quaid, rekan sesama artis. Hari itu, Quaid dan keluarga sedang diselubungi kebahagiaan. Sebab sang istri, Margaret Mary Emily Anne Hyra, baru melahirkan putra pertama mereka, Jack Henry Quaid. Jim, demikian sapaannya, bertanya kepada Quaid, “Apa yang kamu rasakan begitu memiliki anak?”

Quaid sembari tersenyum, seperti yang dikisahkan Jim ketika diwawancarai oleh Catholic Digest, berkata kepadanya, “Jim, kamu akan merasakan sesuatu yang sama sekali tak pernah kamu bayangkan, sebelum kamu memiliki anak.”

Kata-kata Quaid menjadi kenyataan selang beberapa tahun. Jim dan sang istri, Kerri Browitt mendapat tiga anak, setelah lama menanti. Bo, Lyn Elizabeth, dan David Caviezel, membawa kebahagian bagi mereka, meski ketiga anaknya itu bukan berasal dari darah dagingnya sendiri dan menyandang tumor.

Apakah Mencintaiku?
Bo, kata Jim seperti yang dilansir situs komunitas pencinta kehidupan www.LifeNews.com, ditemukan tergeletak di sebuah kereta di Tiongkok. Orang yang menemukannya menduga, usia Bo saat itu baru beberapa hari. Ia lalu dititipkan di sebuah panti asuhan hingga berusia lima tahun, atau sampai Jim dan sang istri datang ke panti asuhan itu dan mengadopsinya.

Mungkin karena dibuang sejak kecil oleh orangtuanya, Bo, lanjut Jim, sama sekali tak mengenal keluarganya. Bahkan ia selalu mengatakan dirinya tak mempunyai ibu. Katanya, ia lahir dari kotoran. Penderitaan bocah itu sungguh tak terkatakan. Selain batin, ia juga harus menahan deraan tumor besar yang bersemayam di kepala dan otaknya.

Jim awalnya sama sekali tak mengenal Bo. Semua kisah bermula ketika ia bertemu Susie usai Misa di gereja. Susie mungkin mengetahui, meski telah lama menikah Jim dan Kerri belum mendapat anak. Di hadapan Jim, Susie mengeluarkan selembar foto Bo dan menunjukkan kepadanya. “Apakah kamu berkenan mengadopsi anak ini?” tanya Susie.

Jim melihat foto yang diberikan istri Steve McEveety, produsernya di film The Passion of the Christ. Ia melihat ada tumor di kepala bayi itu. Jim lalu menatap mata bocah malang itu. “Mungkin ini terdengar seperti bualan sentimental. Tapi saya ingin berkata jujur, dalam batin, saya mendengar bayi itu memanggil dan bertanya kepada saya, ‘apakah kamu mencintaiku?’” kenang Jim, seperti dilansir www.catholicdigest.com.

Susie, imbuh Jim, seolah menantang dirinya. Ia mengatakan, “Jika kamu sungguh yakin dengan yang pernah kamu katakan sebagai pembela kehidupan, adopsilah anak ini atau yang lain, ia punya keterbatasan amat serius.”

Jim hanya ngebatin mendengar pernyataan istri produser film yang melejitkan namanya sebagai Yesus di film garapan Mel Gibson itu. Ia pulang, bertemu Kerri, dan menceritakan keinginan untuk mengadopsi Bo. Kerri, yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di SMA, terkejut mendengar niat suaminya. Ia sungguh tak mengira, pria yang telah hidup bersamanya sejak 1996, ingin mengadopsi anak. Sebab, kata Kerri, sang suami hanya menginginkan anak dari rahimnya sendiri.

Jim tak menyangkal kesaksian istrinya. Ia memang begitu menginginkan untuk mendapat keturunan. Tapi, ia sadar segala usaha yang telah mereka lakukan belum membuahkan hasil. “Jadi inilah (mengadopsi anak) yang Tuhan kehendaki,” ujar pria kelahiran Mount Vernon, Washington, Amerika Serikat, 26 September 1968.

Menanggung Konsekuensi
Jim dan Kerri sepakat mengadopsi Bo. Pada 2007, pasangan suami-istri yang gemar bermain basket ini, terbang ke Tiongkok untuk menemui Bo. Tiba di panti asuhan, bertemu dan melihat kondisi Bo, Jim dan Kerri bakal menanggung konsekuensi berat dari pilihannya. Sebab, demi mempertahankan hidup putranya, butuh penanganan serius dari para dokter.

Jim dan Kerri berjuang menyelamatkan putranya itu. Mereka membawa Bo ke rumah sakit, dan menjalani operasi. Tapi, usaha mereka belum membuahkan hasil. Tumor masih bersarang di kepala bocah itu. Nyawa Bo sewaktu-waktu bakal terancam. Meski demikian, Jim dan Kerri tak pernah absen di sisi Bo.

Jim selalu mengatakan, termasuk saat menjadi bintang tamu di sebuah siaran radio dan kesaksiannya juga dikutip oleh Catholic News Agency, selama masa-masa sulit mendampingi anaknya, ia semakin yakin bahwa mengadopsi Bo merupakan berkat yang Tuhan berikan kepadanya dan sang istri. “Kegembiraan yang kami peroleh darinya (Bo), adalah dia seperti anak kandung kami sendiri,” ujar anak pertama dari empat bersaudara pasangan Margaret dan James Caviezel.

Selang beberapa waktu, Jim dan Kerri berencana untuk mengadopsi anak lagi. Kali ini mereka menginginkan bisa mendapat seorang bayi perempuan dan dalam kondisi sehat. Keinginan sering kali tak seiring-sekata dengan kenyataan. Terbukti, ketika Jim dan Kerri berada di Guangzhou, mereka melihat anak perempuan berusia lima tahun. Kondisi anak itu tak jauh beda dengan Bo.

Jim dan Kerri saling berpandangan, melihat sosok kecil yang ada di hadapan mereka. Sesaat kemudian, mereka menjatuhkan pilihan untuk mengangkat gadis mungil itu sebagai anak kedua. “Bayi yang sehat banyak keluarga yang akan mengasuhnya. Tapi, jika anak itu sakit, sulit ada keluarga yang mau mengadopsinya,” ujar Jim seperti dilansir www.catholic.org.

Bo dan Lyn bisa dipastikan tak pernah bermimpi jalan hidup mereka bisa berubah. Pada suatu kesempatan, Bo berkata, suatu hari kelak ia ingin menjadi polisi atau petugas pemadam kebakaran. Tapi yang sudah pasti ia ingin menjadi ayah, seperti Jim, orangtua angkatnya.

Ia bahagia bisa tinggal bersama Jim, Kerri, dan adiknya Lyn yang bercita-cita menjadi balerina. Belakangan, Bo punya adik baru. Namanya David. Jim dan Kerrie lagi-lagi mengadopsi anak, yang kondisinya tak jauh berbeda dengan kedua kakaknya. Bayi asal Tiongkok itu menderita sarkoma atau tumor di jaringan tubuh.

Jim dan Kerri mengaku amat gembira dengan kehadiran ketiga anak itu. “Suatu hari, gadis kecilku melompat ke pangkuanku. Ia menempelkan tangannya di wajahku, dan berbisik di telingaku, ‘Papa, saya sangat mencintaimu’. Itu membuat hatiku terenyuh,” beber Jim, mengisahkan pengalaman bersama anak-anaknya.

Berkat Istri
Jim menjadi narator dalam film dokumenter St Yohanes Paulus II “Liberating the Continent: John Paul II and the Fall of Communism” yang rilis pada awal Juni ini. Ia memang sangat mengidolakan Paus asal Polandia itu, selain menjadi devosan Bunda Maria. Keteguhan sikapnya membela kehidupan, salah satunya berkat teladan St Yohanes Paulus II.

Jim juga mengakui, keberaniannya untuk mengadopsi anak karena dukungan Kerrie. Ia yakin, tanpa doa dan kebaikan hati sang istri, ia tak sanggup mengambil dan menjalani pilihan itu. Kerrie, kata Jim, selalu mendoakannya. Karena itu ia selalu menolak tampil bugil di film atau adegan. Menurut www.notablebiographies.com, tindakan itu ia lakukan untuk menghormati istri dan imannya.

Jim mendorong setiap orang agar berani menjalankan kehendak Tuhan dalam hidup masing-masing, meski itu sulit, penuh liku, dan membuat takut. “Saat itulah kamu merasakan menjadi seorang Kristiani. Berkat akan kamu terima, jika menjalankan sesuai iman,” demikian Jim.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*