Artikel Terbaru

Pilot Senior yang Tergerak Hati Membuat Panti Asuhan

Budiharja Soehardi.
Pilot Senior yang Tergerak Hati Membuat Panti Asuhan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Panti Asuhan Roslin adalah potret nilai, usaha, dan kepedulian Budiharja Soehardi. Ia satu-satunya orang Indonesia yang pernah dianugerahi CNN Heroes.

Budi sumringah melihat rangkaian foto dan video di komputer jinjingnya. “Ini istri saya sedang mencangkul tanah,” kata mantan kapten pilot Korean Airlines ini sembari menunjukkan sebuah video. Di sebuah video lain, Christian, putra bungsunya, terlihat sedang bercengkerama dengan beberapa anak sambil mengupas sayur.

Dialog dalam video itu kental dengan dialek Kupang, NTT. Rangkaian video dan foto itu berlatar di Panti Asuhan Roslin Kupang yang dirintis pemilik nama lengkap Budiharja Soehardi ini.

Aneh, Christian yang besar di Singapura dan Korea lalu mengeyam studi di Kanada, bisa dengan fasih berdialek Kupang. Rupanya, usai menyelesaikan sekolah di Kanada, ia memutuskan untuk membantu sang ibu di PA Roslin. Budi mengizinkan dengan syarat cukup satu tahun. “Dia keasyikan, tiga tahun tidak kuliah, akhirnya saya usir,” kata Budi.

Kini, Christian tengah mengeyam studi Hukum Internasional di Universitas Pelita Harapan. Dua putri Budi lainnya memiliki antusiasme yang sama untuk mengurus panti. Mereka, lanjut Budi, memutuskan kembali ke Indonesia untuk mendukung karya panti. “Yang sulung di Australia, kedua di Kanada, memutuskan pacar mereka karena ingin kembali ke Indonesia.”

Keliling Dunia
Panti ini bermula dari sebuah kunjungan ke kamp pengungsi Timor Leste di Atambua. Tak ada rencana, tak ada mimpi atau pun bersitan di benak. Kunjungan itu, berawal dari sebuah tontonan di layar kaca. Dalam sebuah makan malam keluarga, pada 1999, di Singapura, keluarga Budi berencana untuk keliling dunia saat cuti.

Makan malam itu penuh dengan momen nostalgia. Menunya makanan Korea yang dibawa Budi usai penerbangan dari Korea. Kurun 1989-1998, keluarga Budi tinggal di Korea. Sembari bersiap menyantap makanan dari Negeri Ginseng, Budi, istri, dan ketiga anaknya bernostalgia tentang Korea.

Malam itu, di luar kebiasaan, layar televisi hidup saat mereka makan. Di sebuah stasiun televisi ada reportase tentang pengungsi Timor Leste pasca referendum. Ada sebuah momen, ketika seorang ibu memasak sebungkus mie instan dalam kaleng bekas cat sebagai pengganti periuk. Mie itu menghilang dalam genangan air dan sayuran. Di samping tungku api, para bocah menunggu untuk menyantap; sayuran dengan rasa mie.

Makan malam itu menjelma menjadi masygul bagi keluarga Budi. Ia pun melempar wacana, keliling dunia atau mengunjungi pengungsi. Semua sepakat memilih yang terakhir.

Menjelang pagi, Budi mengirim surat elektronik kepada para sahabat soal rencana itu. Dari berbagai arah, para sahabat mendukung rencana Budi. Mereka menyumbang dalam bentuk pakaian dan uang. Beberapa minggu kemudian, sekitar satu ton barang memenuhi rumah Budi. Melalui dukungan dari pelbagai pihak, Budi membawa barang-barang itu ke Jakarta tanpa biaya sepeser pun. “Bagasi dan bea cukai gratis. Tuhan itu luar biasa,” kenang Budi.

Di Jakarta, Budi membeli barang lain untuk kebutuhan pengungsi. Berat barang pun bertambah menjadi sekitar sepuluh ton. Jumlah sebanyak itu dibawa ke Kupang tanpa biaya. Di Kupang, mereka kembali belanja makanan instan, beras, dan peralatan memasak. Total barang yang mereka bawa berkisar 40 ton.

Dari Kupang, dua truk raksasa membawa barang-barang itu ke kamp pengungsi di Atambua. Beberapa relawan ikut dalam ekspedisi itu. Di tengah jalan, para relawan di Kupang mengundurkan diri karena takut dengan suasana di perjalanan yang masih rawan. Budi yang buta medan tetap berangkat. Mereka tiba di Seminari Nenuk. Di sana, niat baik Budi dipeluk para pastor dan frater. Mereka sigap menolong Budi membagikan barang-barang itu ke pengungsi.

Kembali dari Atambua, Budi dan istrinya, Rosalinda Papagia Maria Lakusa tak puas. Mereka memikirkan bayi dan anak-anak yang terlantar di tenda pengungsian. Mereka pun berniat mendirikan Panti Asuhan Roslin. Nama ini merupakan akronim dari nama Rosalinda dan Violin; dua sosok perempuan yang memberikan pendidikan nilai kehidupan kepada istri Budi ketika ia masih kecil.

Budi dan istri mengontrak sebuah rumah untuk dijadikan panti. Panti ini pada mulanya mengasuh empat bayi. Tiga tahun berselang, 2002, PA Roslin akhirnya memiliki rumah sendiri dan diresmikan Piet A. Tallo, Gubernur NTT kala itu.

Swasembada
Sejak awal, pemilik lebih dari 26.000 jam terbang ini berikhtiar agar PA Roslin mandiri. Ia menerima terbuka donasi, tapi enggan bergantung. Ini menjadi semangat didikan bagi anak-anak asuhnya. Di tanah yang dipenuhi karang, Budi menggarap sawah dan kebun sayur sendiri. Hasilnya berkelimpahan. Tak hanya kebutuhan panti, masyarakat sekitar juga mendapat jatah hasil kebun itu.

Cerita Budi menaklukkan tanah karang menjadi lahan pertanian terdengar hingga Singapura. Sebuah universitas di Singapura, setiap tahun mengirimkan mahasiswanya belajar di PA Roslin. Budi diundang ke pelbagai seminar, baik nasional maupun internasional. Ia berbicara tentang social enterpreneur dan pertanian. Ini sebuah paradoks, seorang pilot dengan tujuh lisensi terbang internasional menjadi pemateri pertanian dan lingkungan hidup. “Saya belajar otodidak dengan hasil yang nyata.”

Kini, PA Roslin menjadi rumah bagi lebih 120 orang anak. Mereka semua sekolah, sebelas di antaranya tengah mengeyam pendidikan di universitas. Empat telah lulus, bahkan salah satu anak bernama Gerson Mangi berhasil menjadi dokter.

Dari awal, Budi memang fokus membantu pendidikan anak-anak. Pelbagai upaya ia lakukan. Beberapa koleganya yang tinggal di luar negeri mengirimkan buku-buku. Pada 2006, panti memiliki perpustakaan dengan ribuan buku. Setahun berselang, Budi memiliki perpustakaan keliling. Perpustakaan ini berupa sebuah mobil yang diberikan Yayasan Tunas Cendekia. Pada 2007, ada mobil tambahan untuk perpustakaan keliling. “Kala mengunjungi desa-desa, kami lebih suka memberi buku daripada memberikan permen kepada anak-anak. Kami juga menangani anak-anak yang terluka dan memberikan vitamin.”

Melalui buku-buku bacaan ini, anak-anak panti mendapatkan akses ke dunia ilmu pengetahuan. Kedutaan Amerika Serikat juga ikut menyumbang dan pernah mengunjungi panti ini. Saat ini, ada lebih dari 35 negara yang mengirimkan sukarelawan ke PA Roslin. Namun, perhatian pemerintah Indonesia biasa-biasa saja.

Tak hanya di panti, sejak 2004, Budi juga membantu 3200 anak di 29 desa. Umumnya, anak-anak ini mengalami masalah pendidikan, antara lain tidak memiliki buku dan seragam sekolah. “Tidak muluk-muluk, kami membantu seragam dan alat tulis.”

Atas semua kiprahnya, Budi mendapatkan penghargaan, baik level nasional maupun internasional. Puncaknya, pada 2009, ia mendapat anugerah CNN Heroes. Namun ia merendah, istri dan anak-anaknya, ia sebut sebagai pemilik penghargaan itu.

Budi mengajarkan anak-anak asuhnya untuk ulet. Ada tiga nilai yang diterapkan; to live, love, and laugh, ‘hidup, cinta, dan tawa’. “Di panti kami, satu-satunya yang tidak bisa Anda temukan adalah
kemurungan, karena kami sebuah keluarga yang penuh cinta dan tawa.”

Budiharja Soehardi
TTL : Yogyakarta, 31 Agustus 1956
Istri : Rosalinda Papagia Maria Lakusa
Anak : Christine Aalce Priscillia Soehardi, Marianne Anastasssya Patricia Soehardi,
Christian Sebastian Soehardi

Pendidikan:
• SMA Bopkri 3 Yogyakarta (1973-1975)
• Australian Flying Training School (1976-1977)
• Fakultas Ekonomi (Keuangan dan Marketing) Universitas Krisna Dwipayana (1983-1988)

Pengalaman Kerja:
• Garuda Indonesia Airlines First Officer
• Kapten Garuda Indonesia Airlines
• Kapten Korean Airlines
• Kapten Singapore Airlines
• Kapten Scoot Airlines
• Komisaris Sriwijaya Airlines

Penghargaan:
• CNN Heroes 2009
• Nominasi Ernst and Young 2011
• Bidang Kemanusiaan SCTV 2011
• Bidang Kemanusiaan dari Kompas Group 2011
• Global Entrepolis Singapura
• Bidang kemanusiaan MNC Group 2015

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*