Artikel Terbaru

Angsa Putih dari Veneto

Jazad St Maria Bertilla Boscardin di Katedral Vicenza, Italia.
[piterest.com]
Angsa Putih dari Veneto
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – “Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya angsa yang lemah. Tetapi ajari aku menjadi orang suci,” bisik Bertilla dalam doa. Kepasrahan hidup mengantarnya pada mahkota kekudusan.

Seorang guru di Veneto, Italia berteriak kepada seorang anak didiknya, “Dasar anak bodoh!” Anak itu hanya tersenyum mendengar kata-kata sang guru. Ia berdiri bak patung ketika tak mampu menjawab sebuah pertanyaan dari gurunya. “Apa yang harus kuperbuat untukmu? Semua telah kuajarkan, tapi kamu sangat lamban!” teriak sang guru.

“Saya memang bodoh, tapi saya akan menjadi orang suci,” balas si murid. Katakata ini membuat seisi kelas menjadi riuh. Teman-temannya berteriak mengejek dan menertawakannya. “Mana bisa anak bodoh, miskin, dan keluarganya amburadul sepertimu bisa menjadi orang suci?” teriak seorang murid. “Mustahil kamu jadi orang suci. Orangtuamu saja tak bisa menunjukkan kehidupan yang sebenarnya,” timpa yang lain.

Secuil kisah pahit masa kecil Maria Bertilla Boscardin ini tak membuatnya patah semangat. Ia membuktikan kepada dunia bahwa orang miskin dan bodoh bisa menjadi suci. Lewat kerendahan hati menerima makian dan cercaan para guru dan teman-temannya, ia diangkat sebagai pelindung kaum miskin dan kaum perempuan yang tak dapat mengenyam pendidikan layak.

Beban Keluarga
Bertilla lahir di Brendola, Veneto, Italia pada 6 Oktober 1888. Nama aslinya adalah Anna Francesca Boscardin. Sejak kecil, ia mengalami berbagai gejolak dalam keluarga, terutama perlakuan buruk Angelo Boscardin, sang ayah. Angelo dikenal sebagai kepala keluarga yang kasar, cepat naik pitam, dan suka mabuk-mabukan. Ketika pulang ke rumah, Angelo sering dalam kondisi lepas kendali dan tak terkontrol akibat efek alkohol. Dalam keadaan teler, Angelo bertingkah seenaknya sehingga banyak perabot rumah hancur berantakan. Tak jarang, ia menampari istrinya dan anak-anak.

Bertilla sering menerima siksaan sang ayah. Ia berjuang menerima semua itu dengan ikhlas. Malahan, ketika sang ayah mulai siuman dari mabuknya, Bertilla rajin membereskan puing-puing perabot yang hancur. Ia yakin bahwa suatu saat, ayahnya pasti akan berubah. Bagi Bertilla, perubahan itu dapat terjadi hanya dengan kekuatan doa. Ketika mengalami penderitaan akibat ulah sang ayah, Bertilla senantiasa membawanya dalam doa.

Sebagai sulung dalam keluarga, Bertilla selalu menghabiskan hari-harinya dengan kerja keras. Berasal dari keluarga petani sederhana yang tergolong miskin, hampir tak ada waktu baginya untuk bersenang-senang. Kadang ia harus mengambil peran sang ayah dan membantu ibunya di ladang. Sejak remaja, ia tak banyak berharap untuk bisa mengenyam pendidikan yang baik. Bertilla mengerti betul kesulitan keluarganya. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan sehari-hari saja, sang ibu kadang harus berutang pada tetangga.

Lewat kebaikan para tetangga dan kenalan, akhirnya Bertilla bisa mengenyam pendidikan di sekolah dasar. Meski umurnya terpaut jauh dari teman-temannya, ia tidak berlaku semena-mena. Sayang, Bertilla dikenal sebagai anak yang bodoh di kelas. Banyak pelajaran yang tidak dapat ia pahami. Para guru pun angkat tangan mengajarinya. Mereka mengeluh, mustahil orang seumur Bertilla tidak memahami pelajaran anak di bawah usianya. Kendati begitu, Bertilla selalu menunjukkan sikap hormat kepada para guru. Ia tidak menaruh dendam kepada kawan-kawan yang tak henti mencemoohnya.

Seraya bersekolah, Bertilla juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah orang-orang kaya di sekitar sekolahnya. Sepulang sekolah, ia membersihkan rumah majikannya hingga sore hari. Setelah pekerjaan beres, barulah ia bisa kembali ke rumah. Pada hari libur, ia mengikuti kegiatan asosiasi “Anak Maria” di parokinya. Dalam kegiatan bersama asosiasi anak-anak yang berdevosi khusus kepada Bunda Maria ini, Bertilla menemukan panggilan religiusnya. Katanya, “Saya ingin menjadi biarawati yang berhati mulia.”

Panggilan Religius
Suatu hari, Bertilla mengungkapkan niatnya tersebut kepada pastor paroki. Awalnya, sang pastor tak percaya dengan niat itu, apalagi mengetahui kemampuan Bertilla yang payah. “Katakan padaku, apakah kamu yakin mau menjadi biarawati?” tanya sang imam. Bertilla menjawab, “Saya yakin bisa menjadi biarawati. Meskipun kemampuan otak saya lemah, saya bisa berjuang untuk hidup suci. Sebab, saya masih diberi kepandaian membersihkan rumah, mengupas kentang, dan mencuci pakaian.” Sejak saat itu, sang imam memanggilnya “angsa putih”. Bertilla dinilai mirip dengan sifat angsa yang lamban, tetapi berhati mulia.

Setelah itu, sang imam dengan yakin merekomendasikan Bertilla untuk menjadi biarawati dan bergabung di Biara St Dorothea bersama para Suster Hati Kudus di Vicenza, tahun 1904. Ketika pertama kali masuk biara, lagi-lagi ia harus berhadapan dengan masalah kemampuan akademis. Superior Biara enggan menerimanya karena Bertilla belum terlalu mahir dalam membaca dan menulis. Bertilla hanya bisa menjawab, “Saya ‘angsa putih’ yang lemah dan miskin, maka ajarkan saya untuk menjadi orang suci.” Kata-kata Bertilla meluluhkan hati sang superior. Ia lalu menjadi suster dan mengganti nama menjadi Sr Maria Bertilla.

Tugas perdananya menjadi juru masak bagi komunitas. Semua pekerjaan ia selesaikan dengan baik. Melihat ketulusan hati Sr Bertilla, superior menugaskannya untuk menjalani pelatihan sebagai perawat, tahun 1907. Usai menjalani pelatihan, Sr Bertilla dikirim ke rumah sakit di Treviso, Italia, melayani anak-anak korban perang.

Ketika tiba di rumah sakit itu, Sr Bertilla tidak langsung merawat orang-orang sakit. Ia justru disuruh bekerja di dapur untuk menyiapkan makan bagi anak-anak. Awalnya, ia merasa sakit hati dengan keputusan ini. Namun, ia segera menyadari panggilannya dan menerima tugas itu dengan ikhlas. Suatu saat, ada kekurangan tenaga medis di sana. Akhirnya, Sr Bertilla ditugaskan sebagai perawat. Ia merawat korban difteri, suatu penyakit akibat bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Saat itu, banyak anak tertular penyakit ini akibat Perang Treviso dan Pertempuran Caporetto (1917).

Ibu Penuh Kasih
Dalam pelayanan, Sr Bertilla tak hanya merawat, melainkan juga menjadi ibu bagi anak-anak. Banyak anak meninggal dalam kehangatan pelukannya. Seorang dokter, rekan kerjanya bersaksi, “Sr Bertilla selalu memberi kesan kepada para pasien bahwa masih ada harapan hidup. Caranya, memperlakukan para pasien dengan kasih dan ketika meninggal, mereka pergi dalam senyum kebahagiaan.”

Perjuangannya merawat para pasien sampai-sampai membuat dirinya lupa menjaga kesehatan. Ia divonis dokter menderita tumor ganas stadium akhir. Ia sempat menjalani operasi pengangkatan tumor, tapi rupanya Tuhan berencana lain. Dalam perjuangan melayani anak-anak, Sr Bertilla wafat pada 20 Oktober 1922 di Treviso. Ia wafat disaksikan anak-anak penderita difteri.

Jazadnya disemayamkan di Vicenza, Italia. Tak disangka, pusaranya menjadi destinasi situs ziarah terkenal. Banyak peziarah datang berdoa memohon kesembuhan dari Sr Bertilla. Dari sekian banyak para peziarah, beberapa mukjizat pun terjadi. Seorang anak asal Italia menjadi sembuh dari difteri ketika memohon melalui perantaraan doa Sr Bertilla. Reputasi kesuciannya dan mukjizat kesembuhan anak tersebut membuat Paus Pius XII menggelarinya beata pada 8 Juni 1952. Pada 11 Mei 1966, Paus Yohanes XXIII menyematkan mahkota kekudusan sebagai santa bagi Ibu penuh kasih ini. Ia dikenang sebagai patron orang miskin dan kaum perempuan yang lemah dan tak terpelajar. Pestanya dirayakan tiap 20 Oktober.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*