Artikel Terbaru

Tercipta untuk Mewartakan Yesus yang Hidup

Kegiatan Camp Life Teen Indonesia.
[Dok. Domus Cordis]
Tercipta untuk Mewartakan Yesus yang Hidup
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Orang muda adalah masa kini dan masa depan Gereja. Butuh cara-cara khusus untuk mendampingi mereka. Kedekatan dengan Kristus menjadi kunci pendampingan.

Gedung bertingkat menjulang berjejer di sepanjang jalan-jalan protokol di Jakarta. Pusat perbelanjaan, kafe, diskotik dipenuhi orang muda dengan beragam karakter. Budaya pop menjadi warna yang jelas terlihat dalam kehidupan metropolis. Alhasil, egoisme, hedonisme, relativisme, dan beragam paham modern lain telah merasuki cara pandang dan hidup orang muda. Tak jarang, mereka pun jatuh dalam belenggu narkoba, perilaku seks bebas, dan cara hidup sekuler lain.

Kenyataan inilah yang dilihat sekelompok orang muda Katolik yang tergerak mendedikasikan tenaga dan pikiran untuk ikut serta dalam kerasulan Gereja dalam pendampingan orang muda. Mereka pun membentuk wadah bernama Domus Cordis (DC). Di sini, mereka membuat kegiatan-kegiatan yang membantu orang muda mendalami ajaran Yesus dengan cara yang sederhana.

Rumah Hati
Domus Cordis terbentuk tepat pada perayaan Hari Raya Kristus Raja Semesta sepuluh tahun silam. Dalam bahasa Latin, domus berarti ‘rumah’, dan cordis berarti ‘hati’. Domus Cordis telah bergabung dalam Pertemuan Mitra Kategorial Keuskupan Agung Jakarta (Pemikat KAJ). Domus Cordis fokus dalam pelayanan pendampingan orang muda.

“Inspire young people to change the world in Christ,” ujar anggota Sekretariat Domus Cordis, Maria Anastasia. Kalimat itu merupakan misi setiap anggota Domus Cordis. Mereka berupaya menjangkau orang muda dan dekat dengan kehidupan harian orang muda. Komunitas ini dipimpin Riko Ariefano.

Saat ini, DC mempunyai dua tempat berkumpul dan berkegiatan; Domus Cordis Center Argo Manunggal di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dan Domus Cordis Center Kelapa Gading, Jakarta Utara. Anggota Domus Cordis disebut Cordisian. Sejak awal terbentuk, Domus Cordis sudah mempunyai sebelas angkatan Cordisian, termasuk yang sedang mengikuti kelas orientasi.

Domus Cordis memiliki tahapan dalam merekrut anggota. Komunitas ini membuka pintu lebar bagi siapa pun yang ingin bergabung. Selama tiga bulan, mereka yang tertarik masuk dalam Domus Cordis akan berkegiatan dalam kelompok-kelompok kecil atau cell group. Ini merupakan kelompok pembinaan yang bertemu sebulan dua kali, yakni Kamis minggu kedua dan minggu keempat. Semua peserta yang mengikuti pembinaan awal ini, kemudian akan menjalani retret bersama pada Agustus. Ini merupakan acara puncak setelah menjalani pembinaan awal dalam Domus Cordis.

Renaldo Sugiharto mengungkapkan, semisal ada yang tertarik menjadi Cordisian dan itu sudah bulan Maret, maka dia akan dipersilakan mengikuti pelayanan di kerasulan terlebih dulu. “Setiap Cordisian datang dari berbagai macam latar belakang dan memiliki talenta serta memiliki panggilan melayani dalam bentuk yang berbeda-beda,” ungkap salah satu Cell Group Development Domus Cordis ini.

Karya Cordisian
Ada tujuh kelompok kerasulan di dalam Domus Cordis. Inspire Young People merupakan pertemuan bulanan yang membahas isu-isu orang muda saat ini. Ada juga Theology of the Body Insight (TOBIT) yang adalah gerakan untuk pengajaran Teologi Tubuh dari St Yohanes Paulus II.

Domus Cordis juga memiliki Flamma Publishing. Melalui penerbitan ini, Domus Cordis mencetak dan menyebarkan literatur inspiratif sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Setiap buku dan materi cetak penerbitan ini berusaha menyampaikan ajaran-ajaran Kristiani dengan pendekatan yang popular bagi orang muda.

Domus Cordis juga menjadi salah satu komunitas yang mempromosikan martabat manusia melalui Youth Mission For Life. Sedangkan untuk pendampingan remaja, Domus Cordis memiliki Life Teen Indonesia. Yang terakhir ini bekerjasama dengan Life Teen di Amerika Serikat.

Setiap ujub doa yang dimohonkan melalui Domus Cordis, akan dilayani dalam Flamma Cordis. Domus Cordis memiliki tim doa yang mendoakan komunitas, kerasulan, kaum muda, serta ujub doa yang lain. Yang terakhir adalah Spes Cordis, sebuah program pendampingan remaja yang bekerjasama dengan gerakan Ayo Sekolah Ayo Kuliah di beberapa paroki di KAJ.

Seorang Cordisian, lanjut Riko, mereka layaknya seorang kader militan yang perlu dilatih disiplin. Ada tujuh komitmen yang harus dipegang setiap Cordisian. Mereka wajib doa 60 menit per hari. Kebiasaan ini diimbangi dengan membaca Alkitab setiap hari dan mengikuti Ekaristi harian setidaknya sekali seminggu. Tentu, Misa Minggu adalah wajib bagi setiap Cordisian.

Komitmen selanjutnya adalah mengaku dosa sebulan sekali, kehadiran dalam pertemuan cell group atau pertemuan rutin dan terlibat dalam salah satu kerasulan. Terakhir, Cordisian wajib memberikan persembahan kasih. Komitmen ini bertujuan mengajak Cordisian menyisihkan hasil penghasilan mereka untuk menunjang kebutuhan komunitas dan kerasulan. “Jadi gak bisa dateng cuma mau Bible Sharing aja. Dia harus memberikan dirinya, terlibat dalam kerasulan,” ujar Riko.

Tujuh komitmen ini membuat Domus Cordis berbeda dengan komunitas pada umumnya. Domus Cordis tercipta untuk mewartakan Yesus yang hidup. Pertama-tama, Cordisian belajar menghidupi Yesus. Dari kelimpahan yang diperoleh melalui kedekatan dengan Yesus, ia bisa membagikan kepada sesama. “Setidaknya saat mereka (para remaja-Red) pulang, niscaya hidupnya berubah menjadi sedikit serupa dengan Yesus,” harap Riko.

Sepuluh Tahun
Tantangan dan kesulitan saat berjalan bersama di dalam sebuah komunitas tentu saja akan selalu datang silih berganti. Riko mengisahkan, Domus Cordis memang komunitas yang baru saja lahir, tentu banyak usaha dan juga pengorbanan. “Awal Domus Cordis terbentuk, hanya sebagian orang-orang yang mengetahui,” kenangnya. Umat yang rela menjadi pendamping dalam Domus Cordis pun terbatas. Riko menjelaskan, para penggerak Domus Cordis saat ini berusia sekitar 20-30 tahun. Usia ini merupakan saat di mana seseorang sedang giat bekerja. “Membagi waktu juga tantangan tersediri. Terus kalo menikah, punya keluarga, itu juga tantangan tersendiri pula,” paparnya.

Namun, tantangan itu malah ibarat bensin yang menyulut api semangat. Riko bersyukur atas karunia Tuhan yang menyertai komunitas ini. “Dengan segala macam keterbatasan, tapi sampai hari ini, kami masih bisa bergerak. Ini berarti kami masih diberi kemurahan Tuhan.”

Karina Chrisyantia

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*