Artikel Terbaru

Penembakan Mgr Aerts yang Masih Misterius

Penembakan Mgr Aerts yang Masih Misterius
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Bulan Juli ini, Gereja Katolik Indonesia memperingati peristiwa penembakan Vikaris Apostolik Nuova Guinea Olandese yang menjadi cikal bakal Gereja di Maluku dan Papua, Mgr Johannes Aerts MSC bersama empat pastor dan delapan bruder oleh tentara Jepang di tepi pantai Langgur, Kei-Maluku Tenggara. Tepat pada 30 Juli 2017, peristiwa berdarah itu telah berusia 75 tahun.

Namun hingga kini, alasan penembakan Mgr Aerts dkk masih menjadi teka-teki. Menurut catatan Pater C.J. Böhm MSC yang disusun Pusat Pastoral Keuskupan Amboina tahun 2006 dikemukakan beberapa alasan penembakan itu. Menurutnya, pada pertengahan persidangan, pimpinan sidang menunjukkan surat yang oleh salah satu saksi Ph. Renyaan sebagai surat “misteri” yang tidak diungkap karena takut menyinggung orang tertentu.

Surat itu diduga menyangkut kasus pembakaran minyak dan bensin oleh rakyat Langgur, juga tiga bruder atas himbauan Asisten Residen van Kempe-Valk guna menghancurkan hal-hal yang bisa menguntungkan Jepang setelah mendarat di Tual. Ketika Mgr Aerts kuat mempertahankan diri dengan semua tuduhan, surat laporan atas kasus itu dijadikan bukti untuk mempercepat perkara. Pemusnahan minyak, bagi tentara Jepang waktu itu merupakan pelanggaran besar.

Keterangan lain muncul pula dari mantan Assisten Residen J.H. van Keeken pada 28 Maret 1950. Ia menduga, penembakan itu akibat laporan penduduk Langier-Fer yang pernah memberontak pemerintah Hindia Belanda. Ketika Jepang mendarat di Ambon, penduduk Langier-Fer ini diduga melaporkan keadaan pulau-pulau di Maluku Tenggara dihuni banyak orang Belanda yang menyembunyikan senjata dan telah membangun sarana pertahanan.

Walaupun masih menjadi teka-teki, Administrator Vikariat Apostolik Nuova Guinea Olandese Mgr Jacobus Grent MSC pernah mengupayakan kanonisasi ke Vatikan dengan meminta Prokurator Tarekat MSC di Roma Pater Em. Constanzi menjadi postulator (pemohon resmi) dan mengusulkan Pater K. Bedaux MSC sebagai vice-postulator sekitar tahun 1950-an. Pada 6 Februari 1953, Pater K. Bedaux, yang bertugas di Kei Kecil diangkat Pater Constanzi menjadi vice-postulator.

Setelah 17 tahun berlalu, pada 17 April 1970, Pater K. Bedaux akhirnya mengatakan bahwa pembuktian Mgr Aerts dkk mati sebagai martir agak sulit. “Jika bertanya kepada masyarakat di Kei apa sebab orang Jepang membunuh Uskup Aerts dkk pada umumnya menjawab: ‘Karena Monsinyur tidak mau ke Ambon’”. Tetapi bagi orang yang kagum dan mengenal Mgr Aerts, mereka menjawab lain, “Ia tetap seorang santo, yang merelakan hidupnya untuk mereka yang digembalakannya.”

Biarpun masih menjadi misteri, namun keputusan Mgr Aerts untuk tetap tinggal di Langgur membuktikan bahwa ia adalah gembala sejati yang setia menemani domba-dombanya. Gereja pada saat ini, tentu saja memiliki pekerjaan rumah untuk menguak misteri itu. Yang pasti, walaupun Asisten Residen van Kempe-Valk waktu itu telah menyediakan fasilitas untuk mengungsi ke Australia, namun Mgr Aerts tidak memanfaatkannya. “Bangsa Jepang adalah bangsa yang berkebudayaan tinggi, maka tidak perlu kita khawatir bahwa mereka akan bertindak secara biadab,” ujarnya waktu itu. Ia kemudian memilih tetap tinggal dengan para domba dan merelakan hidup untuk kawanannya dengan ditembak mati.

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*