Artikel Terbaru

Gerakan Alternatif Itu Adalah Gereja Katolik

Uskup Agung Jakarta dan Uskup Ordinariat Militer Indonesia Mgr Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9/11.
[HIDUP/Y. Prayogo]
Gerakan Alternatif Itu Adalah Gereja Katolik
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Gereja KAJ, dalam arus ketidakadilan, pemiskinan, dan ketakjujuran, bercita-cita menjadi komunitas minoritas yang kreatif, menjadi persekutuan dan gerakan alternatif. Pancasila masuk rumusan Ardas.

Dalam Temu Pastoral para imam se-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), akhir Juni dan awal Juli 2015 lalu, Mgr Suharyo menyampaikan butir-butir refleksi atas perumusan Arah Dasar KAJ 2016-2020. Berikut ini beberapa butir refleksi Mgr Suharyo:

Disebutkan bahwa jati diri Gereja KAJ sebagai persekutuan dan gerakan. Apa maksudnya?
Gereja KAJ sebagai persekutuan pelbagai persekutuan umat beriman, baik komunitas teritorial maupun kategorial. Maka, tata layanan pastoral yang hendak dikembangkan bersifat melibatkan dan memberdayakan. Dalam komunitas itu umat awam, para religius, dan klerus saling mengakui dan menerima sebagai saudara-saudari. Namun, sesuai dengan kharisma dan panggilan masing-masing, umat beriman berpartisipasi dalam tugas imamat, kenabian, dan rajawi Kristus secara khas.

Kaum awam dipanggil dan diutus secara khusus mewujudkan Kerajaan Allah melalui kehidupan dan tugas mereka di dunia. Para religius memberi kesaksian kasih Allah Tritunggal melalui hidup yang dibaktikan kepada-Nya. Adapun kaum klerus melaksanakan tugas dan wewenang sesuai dengan tahbisan yang diterima untuk melayani, agar semua yang termasuk umat Allah dengan bebas dan teratur bekerja sama dalam perjalanan menuju keselamatan.

Lalu, Gereja sebagai gerakan?
Sebagai persekutuan umat, Gereja KAJ tak boleh menjadi persekutuan statis dan tertutup. Ia harus menjadi gerakan yang hidup dan terbuka. Gagasan Gereja sebagai gerakan disimpulkan dari tahap kehidupan Yesus. Sesudah menjalani hidup yang tersembunyi selama sekitar 28 tahun, Yesus memutuskan dibaptis (Mat 3:13-17). Ini adalah keputusan eksistensial Yesus yang pertama. Selanjutnya Ia menjalankan pembaptisan. Tetapi rupanya kegiatan ini tak lama Ia jalankan. Ia mengambil keputusan eksistensial yang kedua, yaitu memaklumkan Kerajaan Allah (Mat 4:12-17). Ia memulai gerakan Kerajaan Allah. Pilihan inilah yang akhirnya membawa Yesus sampai ke alib. Gereja sebagai gerakan memberikan ruang yang luas bagi kreativitas pastoral atau yang disebut Paus Fransiskus sebagai fantasi pastoral.

Dalam perumusan Ardas ini muncul ungkapan “Gereja ke dalam, Gereja ke luar”. Bagaimana menurut Monsinyur?
Saya memiliki catatan kritis mengenai hal ini. Pertama, seharusnya dalam dinamika beriman berkembang dinamika kontemplasi aksi atau mistik-politik. Maksud saya, pengalaman akan Allah mendorong kita terlibat dalam aksi, terlibat dalam kegembiraan dan harapan, keprihatinan dan kecemasan dunia. Bukankah Yesus secara berkala pergi ke tempat sunyi untuk berdoa, lalu melanjutkan karya-Nya mewartakan Kerajaan Allah (bdk Mrk 1:35; 6:31). Bukankah perayaan Ekaristi berakhir dengan seruan, “Marilah kita pergi, kita diutus.” Jika kita masih menggunakan istilah yang dikotomis altar-pasar, pertanyaannya, apa yang salah dengan pembinaan liturgi, katekese, dan pembinaan rohani lain?

Kedua, apakah di balik dikotomi itu tidak tersembunyi mentalitas klerikal? Apakah keterlibatan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat yang tak diprakarsai lembaga gerejawi tidak termasuk dalam yang disebut pasar? Bukankah ada anggota Gereja, terutama kaum awam yang sudah dengan sendiri berada di pasar dan bergelut serta berjuang di situ dengan inspirasi iman Katolik?

Ketiga, mungkinkah ungkapan itu keluar karena tidak disadari ada perbedaan peranan masing-masing bagian Gereja, yaitu kaum awam, kaum religius, dan kaum klerus? Bagian terbesar Gereja adalah kaum awam, yang dengan status keawamannya berada di pasar, dalam arti yang seluas-luasnya.

Muncul juga kritik, “Jangan hanya menjadi proyek karitatif belaka!” Menurut Monsinyur?
Pertama, apakah karya karitatif dapat “dihanya-kan”? Apakah kita bisa begitu saja tanpa sikap kritis mengikuti jalan pikiran,“jangan beri ikan, berilah pancing?” Saya yakin betul, tidak bisa demikian. Memberi perhatian kepada orang miskin adalah jati diri Gereja. Bukankah Yesus memberikan roti kepada yang lapar? Kalau seandainya yang diberikan pancing, di mana orang dapat memancing kalau sungai tercemar dan tak ada ikan?

Tanpa menyangkal bahwa pemberdayaan amatlah penting, karya karitatif tak pernah boleh “di-hanya-kan”. Seperti apapun kemajuan masyarakat, selalu akan ada yang miskin, yang tak bisa lain kecuali disasar dengan karya karitatif.

Kedua, janganlah karya karitatif disebut “proyek”. Di balik kata “proyek” tersembunyi kurangnya penghargaan terhadap martabat manusia. Penegasan bersama akan membantu kita menentukan kapan mesti mengembangkan pelayanan karitatif dan kapan menawarkan pelayanan pemberdayaan.

Mengapa kata “pastoral” dihilangkan dalam Ardas KAJ yang baru?
Kata “pastoral” dalam konteks megapolitan Jakarta rasanya kurang energik untuk mengungkapkan yang sesungguhnya diperlukan. Pastoral, meskipun mungkin tidak tepat, dapat diartikan sebagai merawat yang sudah ada, memelihara 90 domba yang tidak tersesat, bukan pergi mencari sepuluh yang hilang. Ada nuansa “melihat ke dalam”, bukan “melihat ke luar” sebagaimana dituntut realitas kota megapolitan yang semakin sekuler ini.

Sementara kata “evangelisasi” atau “misioner” mengandung nuansa “ke luar”, pergi mencari 90 yang tersesat, bukan menghabiskan waktu dan tenaga merawat sepuluh domba. Atau mungkin lebih tepat, mengajak sepuluh yang tidak tersesat agar mencari 90 yang tersesat.

Dalam kerangka ini istilah “pendekatan pastoral” rasanya kurang tegas dalam kota megapolitan Jakarta yang kian keras. Sebaiknya dipakai kata “strategi” yang mengungkapkan keberanian, kesungguhan, langkah sistematis, bahkan nuansa pergulatan yang dituntut realitas kota megapolitan. Maka, perlu dipikirkan strategi evangelisasi yang meliputi lima bidang; advokasi, pelayanan kasih, restrukturisasi paroki, katekese, dan liturgi.

Dalam rumusan Ardas KAJ yang baru muncul kata “Pancasila”, mengapa?
Dalam Focus Group Discussion perumusan Ardas KAJ dibicarakan mengenai peran Gereja KAJ membangun ke-Indonesia- an. Ini tentu sesuai dengan salah satu cita-cita KAJ. Maka saya berpikir, alangkah baik jika memasukkan “Pancasila” dalam Ardas KAJ. Bukankah ini dapat mengungkapkan niat kita mengikuti seruan Uskup Pribumi pertama Mgr Albertus Soegijapranta SJ agar kita menjadi seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia. Ini juga sekaligus ikut serta menyembuhkan Pancasila yang dalam sejarah tercederai karena dipakai sebagai alat kekuasaan.

Dalam dokumen Konferensi Waligereja Indonesia yang berjudul Umat Katolik Indonesia Dalam Masyarakat Pancasila ditegaskan, “Umat Katolik menerima landasan yang sungguh-sungguh dapat menjadi wadah pemersatu pelbagai golongan di dalam masyarakat, yakni Pancasila. Maka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, umat Katolik menerima Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Pancasila, baik sebagai keseluruhan maupun ditinjau sila demi sila, mencanangkan nilai-nilai dasar hidup manusiawi, sejalan dengan nilai yang dikemukakan oleh ajaran dan pandangan Gereja Katolik.”

Lantas , dari Ardas ini visi, perutusan, sasaran prioritas, ungkapan harapan, dan peran apakah yang hendak dimainkan Gereja KAJ?
Dalam arus zaman yang begini deras, kita ingin menjadi komunitas dan gerakan alternatif – komunitas dan gerakan kontras. Artinya, ketika arus besar perusakan lingkungan hidup melanda, kita ingin menjaga keutuhan ciptaan. Ketika korupsi merajalela, kita ingin mengembangkan sikap kejujuran. Ketika keadilan dan kebenaran dijadikan alasan balas dendam, kita ingin memasangkan keadilan dengan kasih, kebenaran dengan pengampunan. Ketika Pancasila dicederai sebagai alat kekuasaan, kita ingin menggali nilai-nilai Pancasila untuk membangun masyarakat Indonesia yang sejahtera. Ketika “dalam dunia, di mana nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan tindakan kebencian dan kekerasan” (Deus Caritas Est no. 1), kita ingin mewartakan bahwa Allah Mahakasih dan Maharahim.

Y. Prayogo

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*