Artikel Terbaru

Seperti Apakah KAJ Lima Tahun ke Depan?

[NN/Dok.HIDUP]
Seperti Apakah KAJ Lima Tahun ke Depan?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIKI.com – Akhir 2015 masa berlaku Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta 2011 – 2015 habis. Dewan Karya Pastoral (DKP) KAJ melalui berbagai cara, sejak awal 2015 menyiapkan Arah Dasar KAJ 2016-2020.

Anggota Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta (DKP KAJ) berhimpun Januari 2015. Mereka membicarakan tahapan perumusan Arah Dasar KAJ 2016-2020. Arah dasar ini akan menjadi panduan arah dan gerak pelayanan dan karya Gereja KAJ lima tahun ke depan.

Sebelum mencapai tahap perumusan, mereka merancang sebuah proses evaluasi dan refleksi atas Arah Dasar Pastoral 2011- 2015. Mereka menggali beragam data dari paroki-paroki sebagai bahan dasar mengolah arah Gereja KAJ.

Evaluasi dan refleksi disepakati dilakukan oleh Dewan Paroki Harian seluruh paroki di KAJ melalui temu pastoral di dekenat-dekenat. Untuk menggali data yang lebih tajam, proses ini melibatkan seluruh umat KAJ. Pertemuan selama masa Prapaskah di lingkungan-lingkungan dijadikan sarana untuk mengkritisi pelaksanaan Arah Dasar Pastoral KAJ 2011-2015. Selama masa Prapaskah ini juga diadakan survei.

Survei diadakan di seluruh paroki di KAJ. Pertanyaan-pertanyaan dalam survei mengarah kepada cita-cita Gereja KAJ terkait iman, persaudaraan, dan pelayanan. Dari lembar-lembar angket yang disebar, 39 paroki dan dua lembaga mengembalikan hasil survei. Terkumpullah 23.797 formulir data. Setelah dipilih dan dipilah-pilah, terdapat 4892 atau sekitar 20 persen dari data angket yang masuk, sebagai responden utama survei.

Tim survei dibantu orang muda Katolik (OMK) memasukkan data. Mereka adalah para siswa SMP Pamardi Yuwana Bakti Pondok Gede, SMP Santo Markus 2 Lubang Buaya, dan OMK yang telah mengikuti program kaderisasi remaja di Paroki Kalvari Lubang Buaya. Kaderisasi ini dibantu PT Danamas Insan Kreasi Andalan, anak perusahaan Dana Pensiun Karyawan CA. PT Danamas Insan Kreasi Andalan juga membantu dalam pembuatan sistem pemasukan data survei sampai analisa data.

Hasil survei
Hasil survei merekam beberapa fakta menarik. Sebanyak 48 persen umat menyatakan tidak atau kurang paham isi Arah Dasar Pastoral 2011-2015. Namun, data ini tentu tidak merekam umat yang tak hadir dalam pertemuan lingkungan saat masa Prapaskah. Data serupa menunjukkan bahwa umat kesulitan menjelaskan isi Arah Dasar Pastoral 2011-2015. Maka, sebagai rekomendasi, mesti membuat sarana untuk memudahkan umat memahami isi Arah Dasar KAJ 2016-2020, seperti buku, leaflet, poster, serta banner yang menarik, sederhana, dan jelas.

Survei juga mengungkapkan bahwa pertemuan-pertemuan lingkungan lebih banyak dihadiri umat, usia antara 40-59 tahun. Meskipun telah dilakukan upaya untuk melibatkan anak-anak dan orang muda, tapi tak mudah mengajak mereka terlibat dalam pertemuan lingkungan. Pertemuan ingkungan juga didominasi kaum hawa. Kesibukan kerja dan jalan yang macet menjadi alibi klasik kaum adam untuk tak datang. Padahal, fungsi kepemimpinan, baik paroki maupun lingkungan, didominasi laki-laki. Data ini menunjukkan perlu ada terobosan baru untuk melibatkan sebanyak mungkin umat dari beragam usia.

Fakta lain juga terungkap, dari data yang masuk, terdapat 44 persen umat berpenghasilan keluarga di bawah tiga juta. Sementara upah minimum Provinsi DKI jakarta Rp 2,73 juta. Fakta ini memanggil Gereja melakukan gerakan pastoral kewirausahaan, terutama bagi orang muda.

Angka statistik kehadiran umat dalam Misa Harian juga rendah, begitu pula Misa Mingguan. Ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap data ini, misal kegiatan umat pada pagi hari amat ketat, terutama mereka yang masih berstasus sebagai pegawai atau karyawan menengah ke bawah dan tinggal di daerah pinggiran kota. Selain itu, kesadaran merayakan Ekaristi juga masih perlu ditingkatkan.

Namun, perayaan Jumat Pertama menunjukkan lonjakan yang luar biasa, terutama yang digelar di kawasan perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan komunitas kategorial. Situasi ini bisa menjadi peluang bagi pastoral di KAJ.

Dalam survei terungkap sebanyak 61 persen responden menyatakan jarang, bahkan tak pernah membaca Kitab Suci. Data yang tentu memprihatinkan, padahal di paroki, lingkungan, dan kelompok kategorial marak diadakan pendalaman, kursus, dan seminar tentang Kitab Suci.

Terungkap juga bahwa umat jarang membaca buku-buku rohani. Bisa jadi, ini, umat lebih memilih mencari sumber bacaan rohani melalui internet.Fakta ini bisa menjadi peluang berpastoral melalui media internet.

Hasil survei pun mengungkapkan bahwa relasi dalam keluarga-keluarga Katolik sudah cukup baik. Namun disinyalir, responden dalam survei tidak bisa menjangkau keluarga-keluarga yang dirundung permasalahan dan tidak aktif dalam kegiatan lingkungan. Maka, gerakan kreatif pastoral keluarga tetap harus terus diupayakan, lantaran tantangan hidup berkeluarga di wilayah KAJ kian berat.

Relasi antara umat dan pastor paroki juga menjadi sasaran survei, 38 persen responden menyatakan relasi mereka dengan para gembala di paroki kurang. Kondisi ini tentu mesti menjadi perhatian, baik umat maupun para imam.

Selain itu, berdasar survei, relasi umat dengan pengurus rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) rendah. Padahal, beberapa paroki yang kesulitan mendapat surat izin mendirikan bangunan gereja, lantaran kurang menjaga relasi dengan RT dan RW setempat. Ini bisa menjadi peluang untuk melakukan kaderisasi umat agar semakin terlibat dalam masyarakat sekitar.

Dalam survei, umat yang menjadi responden mengusulkan ada beberapa gerakan pastoral yang layak digarap pada masa mendatang. Usulan itu antara lain, kaderisasi orang muda Katolik, pelatihan kepemimpinan bagi ketua lingkungan, pelatihan kader sosial politik, program jaminan kesehatan bagi umat, program bantuan pendidikan, menggalakkan bina iman anak, pendataan umat, seminar rohani, dan renovasi gereja.

Berbasis data
Selain melalui metode survei, tim perumus Arah Dasar KAJ 2016-2020 juga menggelar Focus Group Discussion (FGD). FGD ini dibagi dalam tiga tim; tim A membahas tentang dasar teologi, tim B membicarakan perihal situasi Gereja KAJ kini serta mengolah hasil valuasi-refleksi Arah Dasar Pastoral 2011-2015. Tim C mengolah situasi sosial, politik, ekonomi, serta budaya, dengan mengundang beragam narasumber. FGD ini berlangsung Maret 2015.

Dari FGD ini, terutama dari tim B, ditemukan beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan Gereja KAJ pada masa depan. Berkaitan dengan data pastoral, direkomendasikan agar terus dilakukan pembaruan data, pelatihan kompetensi sumber daya manusia tentang pengumpulan, pemanfaatan, dan pengolahan data, sehingga mendukung gerakan pastoral berbasis data. Terkait dengan pemberdayaan lingkungan dan komunitas, diharapkan Arah Dasar KAJ mampu mendorong pemberdayaan lingkungan dan komunitas kategorial, terutama dalam bidang katekese, liturgi, dan sosial ekonomi.

Selain itu, ditemukan pula harapan untuk pengembangan kerasulan awam, seperti perlunya pembentukan dan kerja sama tim kaderisasi umat, meningkatkan peran paroki-paroki untuk menfasilitasiumat awam yang terjun dalam bidang sosial kemasyarakatan, memberdayakan umat yang masih mengalami “sindrom minoritas”, dan mengembangkan kegiatan kerasulan awam yang memampukan umat berkomunikasi dan berelasi secara efektif dalam masyarakat. Sementara para pelayanan pastoral hendaknya tidak dilakukan secara parsial dalam kelompok, namun dilaksanakan secara sinergi antarparoki, wilayah, dan lingkungan.

Demikian pula dengan program-program karya pemberdayaan umat juga mesti berkelanjutan. Program pemberdayaan ini perlu indikator sebagai alat ukur serta bersinergi dengan bidang lain. Program pemberdayaan yang melibatkan masyarakat di luar Gereja mesti semakin membuka kerja sama dengan berbagai pihak.

Rumusan Ardas
Hasil survei dan FGD ini dibawa dalam Temu Pastoral akhir Juni dan awal Juli 2015. Di sini, temuan-temuan tersebut digodok, didiskusikan, dan diperdebatkan bersama dengan para imam yang berkarya di KAJ. Kini, di KAJ terdapat sekitar 250-300 imam dengan 22 latar belakang tarekat atau ordo. Dinamika dalam Temu Pastoral juga menjadi bahan dasar bagi tim perumus untuk menyusun Arah Dasar KAJ 2016-2020. Tim perumus terdiri atas sembilan imam dan delapan umat awam, tiga diantaranya perempuan.

Pada medio Juli 2015, tim perumusan terus berhimpun dan berjibaku dengan aneka data untuk menyusun rumusan Arah Dasar KAJ 2016-2020. Setelah berhasil disusun, rumusan Arah Dasar KAJ 2016-2020 dibawa ke Kuria KAJ. Diskusi bersama Kuria KAJ menghasilkan rumusan Arah Dasar KAJ 2016-2020 yang siap disosialisasikan kepada seluruh umat KAJ.

Berdasar data akhir 2014, jumlah umat KAJ sebanyak 499.485 jiwa atau 144.457 kepala keluarga, yang tersebar di 3445 lingkungan dan lebih dari 500 kelompok kategorial.

Pada bulan yang sama dibentuk tim yang bertugas menyusun dua buku; buku per tama berisi penjelasan Arah Dasar KAJ 2016-2020 (teologi, eklesiologi, dan ajaran Gereja); buku kedua berisi panduan penerapan Arah Dasar KAJ 2016-2020. Implementasi Arah Dasar KAJ 2016-2020 di lengkapi dengan rencana strategis yang akan menjadi panduan penerapan Arah Dasar KAJ 2016-2020 selama lima tahun ke depan.

Setelah semua lengkap, Arah Dasar KAJ 2016-2020 segera diumatkan. Sosialisasi Arah Dasar KAJ 2016-2020 telah dimulai akhir Agustus lalu, melalui forum-forum di dekenat, komisi, dan paroki. Diharapkan pada Oktober hingga November, rapat karya paroki sudah menggunakan Arah Dasar KAJ 2016-2020 beserta dengan rencana strategisnya.

Rencana strategis ini merupakan turunan dari rumusan Arah Dasar KAJ 2016- 2020. Terdapat lima sasaran prioritas disertai indikator pencapaian, target, pelaksana, dan waktu pelaksanaan. Rencana strategis menitikberatkan adanya sinergi antara komisi-komisi, dewan paroki, dekenat, kelompok kategorial, serta tim yang ada di tingkat keuskupan. Diharapkan sinergi ini juga menular ke tingkat paroki, wilayah, dan lingkungan.

Bentuk sastra
Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo menyebutkan “Arah Dasar” merupakan bentuk sastra dalam khasanah Gereja Katolik Indonesia. Sebagai suatu bentuk sastra, Arah Dasar memiliki peran, struktur, serta corak. “Misal dalam Injil sebagai jenis sastra, kita menemukan berbagai perumpamaan. Perumpamaan tersebut mempunyai peran dan susunan yang sama,” ujarnya. Maka, sebagai bentuk sastra baru, Arah Dasar mengalami perkembangan bentuk yang lama, yang kemudian mengkristal dan terdiri dari empat unsur, yaitu cita-cita, perutusan, sasaran prioritas pelayanan, dan ungkapan harapan.

Y. Prayogo

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*