Artikel Terbaru

Calon Doktor Ini Rela Menjadi Pengojek Online Demi Menemani Istrinya Berobat

Penyambung Hidup: Thomas Sutana di atas motornya.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Calon Doktor Ini Rela Menjadi Pengojek Online Demi Menemani Istrinya Berobat
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Perasaan Catherine Mutiara Nareshwari melonjak saking gembiranya. Siswi Kelas II SD Mater Dei, Pamulang, Tangerang, Banten itu bakal mendapat adik baru. Ia mengetahui hal itu lantaran sang ayah, Thomas Sutana sering mengantar ibunya ke dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Pamulang.

Gadis kelahiran Jakarta, tujuh tahun lalu itu kerap bertanya pada sang ayah, “Pa, kapan adik lahir?”

Mendengar pertanyaan itu Sutana mendadak pilu. Harapan sang buah hati bertolak belakang dengan kondisi isterinya.

Kista di rahim
Isteri Sutana, Yohana Fransisca Rina Wiyati merasakan sakit luar biasa di perutnya, setiap kali datang bulan. Sutana lantas membawa sang isteri ke dokter kandungan pada 2012. Hasil ultrasonografi (USG) mendiagnosa ada kista di rahim guru SMP Mater Dei, Pamulang itu.

Selanjutnya, Rina menjalani operasi pengangkatan tumor dan ovarium. Tahun 2013, tiga bulan pasca operasi, perempuan kelahiran Klaten, 46 tahun silam itu kembali merasakan nyeri di tempat yang sama. Sakit kali ini terasa lebih hebat. Ia tak berdaya selain terbujur di tempat tidur.

Sutana tak tega jika isterinya dioperasi kembali, sebab rentang waktu ideal untuk operasi besar kedua paling cepat 18 bulan. Prodiakon di Paroki Rasul Barnabas Pamulang itu lantas membawa Rina ke berbagai pengobatan alternatif.

Sutana juga getol mengajak sang isteri mengikuti ibadah penyembuhan hingga ke Jawa Tengah. Namun, sang isteri masih sakit. “Prioritas saya, pikiran Rina tenang dan tabah menghadapi tantangan ini,” ujarnya.

Serangkaian usaha telah ia coba. Namun kista masih bercokol di rahim Rina. Dokter merujuk mereka ke RS Kebayoran. Di sana, kata dokter itu, ada dokter kandungan dan onkologi (kanker) hebat.

Mereka pun ikut saran dokter. Setelah periksa di RS Kebayoran, dokter mendesak Sutana agar segera membawa isterinya ke RS di Jakarta Barat, khusus untuk penyakit dalam. “Agar isteri Bapak bisa tertangani lebih baik lagi,” kata Sutana mengutip alasan dokter.

Guru Bahasa Inggris di SMP Pangudi Luhur (PL), Jakarta Selatan itu menduga isterinya kena kanker. Dugaan Sutana tepat, dokter memvonis Rina mengidap kanker serviks (rahim) stadium 3C. Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening. “Pikiran saya berkecamuk sebab kanker identik dengan kematian. Sejumlah orang yang kami kenal juga meninggal karena kanker,” imbuh Sutana.

Demi Isteri
Sutana selalu mendampingi Rina menjalani kemoterapi dan radioterapi, seperti saran dokter. Untuk mendapat layanan itu ternyata tak mudah. Sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, Sutana harus antre panjang. Ia pernah mendapat nomor antrian 114.

Pengalaman itu memberi pelajaran untuknya. Jika lusa jadwal Rina kemoterapi dan radioterapi, maka besok Pukul 12.00, Sutana sudah berada di RS. Sekitar Pukul 18.00, ia baru mendapatkan nomor antrian dari perawat. Lalu, lusa Pukul 02.00 dini hari, Sutana membawa isterinya ke RS. Sekitar pukul 04.00, mereka tiba di RS. Pukul 06.00, Sutana menyerahkan nomor antrian dan berkas BPJS pada petugas. Setelah itu, ia masih harus menyalin (foto copy) berkas yang diberikan petugas BPJS. Sekitar Pukul 08.00, ia bersama sang isteri baru masuk ruang layanan medis.

Rina harus menjalani enam kali kemoterapi. Dari kemoterapi pertama hingga keenam jeda waktu satu minggu. Tindakan itu pun tak bisa ganti hari. Jika ganti hari karena terlambat, Rina harus kemoterapi dari awal lagi. Selain kemoterapi, Rina juga menjalani 25 kali radioterapi tiap hari.

Selama proses itu, Sutana bisa dipastikan meninggalkan anak didiknya di sekolah. Atas dasar itulah, setelah 18 tahun berkarya di sekolah milik Tarekat Bruder St Perawan Maria yang Mengandung Tanpa Noda (FIC), Sutana mengajukan surat permohonan pensiun dini.

“Jika saya mementingkan uang, isteri ke RS sendirian. Tapi ketika saya mementingkan isteri, penghasilan hilang. Saya utamakan isteri! Uang bisa saya cari, tapi isteri yang baik seperti dia, belum tentu dapat kembali,” ujarnya mantap. Lagi pula, Sutana tak ingin merugikan siswa-siswanya bila sering tidak masuk kelas karena menemani isterinya ke RS.

Permohonan pensiun dininya dikabulkan Yayasan Pangudi Luhur pada Maret 2014. Rina mendukung keputusan suaminya itu. Ia memang membutuhkan dukungan dan perhatian dari suaminya saat berjuang melawan kanker ganas.

Setelah pensiun Sutana bisa menemani Rina ke rumah sakit. Banyak pasien yang memperhatikan kehadirannya. Ketika banyak pasien kanker berobat sendirian, Rina selalu ditemani suaminya. Jika tiba jadwal kemoterapi dan radioterapi, Sutana membawa Rina ke RS. Setelah beberapa kali kemoterapi dan radioterapi, ada perubahan signifikan pada kesehatan sang isteri. Tahun 2014, Rina mulai kembali mengajar.

Menurut Sutana, isterinya mengajar seperti biasa. Namun ia kuatir, jika Rina lelah, sakitnya bakal kambuh. Maka, ia mewanti- wanti agar Rina selalu hati-hati dan sadar kondisi fisiknya.

Ganti Kemudi
Rina telah sembuh. Mei lalu Sutana “ganti kemudi”. Ia menjadi pengendara ojek daring (layanan ojek berbasis aplikasi internet). Menurutnya, waktu ngojek fleksibel. Jadi, ia bisa merawat isterinya. Tak hanya itu, pendapatan ngojek bisa dipakai untuk membayar obat dan pendidikan anak.

Setiap hari Sutana ngojek dari pukul 05.00 sampai 07.00. Pukul 08.00, alumnus Seminari Menengah St Petrus Kanisius Mertoyudan, Jawa Tengah ini tiba di rumah dan mengantar anaknya ke sekolah. Dari sekolah putrinya, ia lanjut ngojek sampai pukul 11.00. Jika kondisi fisik masih kuat, pukul 16.00-19.00, ia kembali ngojek.

Per hari, Sutana bisa mengantongi Rp 150-300 ribu. Sebulan pendapatannya berkisar Rp 4 jutaan. “Misi utama saya merawat isteri. Karena itu, saya nggak mau ngojek sepanjang hari,” tandasnya.

Juli lalu kesehatan isterinya memburuk. Setelah batuk selama beberapa minggu, Rina merasakan sakit yang hebat di kepalanya. Selang beberapa waktu, tubuh bagian kiri mati. Rina tak sanggup berjalan. Setiap hari ia hanya tergolek di tempat tidur. Dokter mengatakan, Rina terkena kanker otak.

Catherine pun tahu ibunya sedang sakit. Setiap malam ia selalu berada di sisi perempuan yang telah melahirkannya itu. Demikian pula Sutana, imannya tak redup walau ujian datang bertubi-tubi. “Tuhan tidak tidur. Banyak kebaikan yang saya terima dari-Nya lewat tangan orang lain selama isteri saya sakit,” pungkas Sutana yang juga tengah berjuang menyelesaikan kuliah S3 (Doktor) Program Studi Teknologi Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta itu.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*