Artikel Terbaru

Dekapan Mesra Sang Gembala di Tengah Saudara-saudara Muslim

Romo Greg bersama para frater live-in di pondok pesantren.
[Dok. HIDUP]
Dekapan Mesra Sang Gembala di Tengah Saudara-saudara Muslim
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa imam Jesuit belajar Islam. Ini bukan untuk gagah-gagahan akademik, tetapi demi membangun jembatan dialog di dunia yang penuh corak dan keragaman ini.

Suatu hari, beberapa mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bertandang ke rumah formasi Jesuit, di Jalan Kramat VII, Jakarta Pusat. Mereka mengunjungi Romo Gregorius Soetomo SJ yang tinggal bersama para Frater Serikat Yesus. Mereka berbincang dan menjelajah rumah formasi Jesuit yang juga dikenal dengan “Wisma Dewanto”. Di sela percakapan, seorang mahasiswi bertanya, “Romo, lha ini nyonya di mana?”

Dengan senyum tersipu, Romo Greg menjelaskan bahwa seorang imam dalam Gereja Katolik mengikrarkan hidup selibat, tidak menikah. Pun sama dengan biarawan-biarawati. Rona para mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah itu terlihat bertanya-tanya. Romo Greg lantas bercerita tentang beberapa tokoh Islam yang juga memilih hidup wadat, seperti Rabiah al-Adawiyah (713-801) dan Ibnu Taimiyah (1263-1328). “Karena cintaku kepada Allah, maka aku tidak bisa menikah,” kisah Romo Greg mengutip ungkapan Taimiyah, sufi asal kota Harran, Turki itu.

Konteks Indonesia
Perjumpaan dengan saudara-saudari Muslim, jelas Romo Greg, menjadi oase akademis dan spiritual. “Misal, ketika belajar tema-tema relasi Islam-Nasrani, saya mendapat begitu banyak hal baru. Selain memperdalam pengetahuan, juga memperkaya iman. Sama halnya ketika menjalani hidup sehari-hari dalam aktivitas di kampus,” ujar Jesuit yang menerima Imamat pada 14 Juli 1999 ini.

Dorongan untuk belajar dunia Islam sebenarnya muncul sebagai jawaban atas anjuran Gereja untuk belajar dari tradisi lain. “Dalam konteks Indonesia dan status saya sebagai Romo, sangat relevan untuk membangun jembatan, bukan tembok,” ungkapnya merujuk pada pesan Paus Fransiskus. Dorongan itu, lanjut Romo Greg, juga menjadi bentuk penghayatan sebagai seorang Jesuit. Studi Islam bukanlah semata obsesi intelektual, melainkan “membangun jembatan” Katolik-Islam.

Romo Greg menyebut, pilihan studi di UIN Syarif Hidayatullah sebagai awal yang baik untuk membangun jembatan dalam konteks Indonesia. “Jika saya menjadi imam di Bali, mungkin saya akan belajar tentang Hindu. Konteks ‘membangun jembatan’ tidak bisa dilepaskan. Dengan UIN ini, saya kini punya teman-teman Muslim di titik-titik penting di Indonesia.”

Konteks “membangun jembatan” nampak jelas dalam aktivitasnya berjejaring dengan komunitas-komunitas riset Islam di Jakarta, mulai dari Wahid Institut, Nurcholish Madjid Society, hingga Maarif Institute. Bahkan ia juga live in di beberapa pondok pesantren (ponpes) selama satu hingga dua minggu bersama para frater Jesuit, misal di Ponpes Tebuireng Jombang, Jawa Timur dan beberapa ponpes lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Romo Greg bahkan melibati forum-forum internasional lintas iman dan agama, seperti pertemuan di Amman, Yordania (2008); Wina, Austria (2010); hingga Kuala Lumpur, Malaysia (2016).

Romo Greg menjalani perutusan studi Islam dengan magis. Dalam waktu empat tahun, ia berhasil menggondol gelar Magister dan Doktor; keduanya lulus dengan predikat cum laude.

Lintas Benua
Romo Greg tak sendirian. Nun jauh di Mesir, Romo Heribertus Heri Setyawan SJ, sejak September 2016 belajar bahasa Arab dan dialog antaragama di Dar Comboni for Arabic Studies Kairo, Mesir. Mahasiswa dalam program Misionaris Comboni ini berasal dari berbagai keuskupan, tarekat religius, serta awam dari seluruh dunia. Romo Heri termotivasi belajar tentang dialog antaragama, lantaran salah satu konteks hidup menggereja di Indonesia adalah keragaman agama yang memerlukan dialog, kerjasama, dan usaha bersama dalam memberikan sumbangsih positif bagi kemanusiaan dan mengatasi fenomena negatif agama, seperti fundamentalisme.

Ia pun setahap demi setahap masuk dalam bidang studi agama-agama. Romo Heri pernah belajar di Center for Religius and Cross-cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Di sini, ia berjumpa dengan mahasiswa dan pengajar dari beragam agama.

Romo Heri mengakui, tak mudah belajar bahasa Arab. Di tempat studi, ia banyak belajar bahasa Arab klasik, sementara untuk percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Arab harian. “Ini bahasa yang tidak mudah. Butuh kesabaran dan ketekunan,” ujarnya. Beruntung, di Kairo masih banyak orang yang menggunakan bahasa Inggris dan Perancis. “Sehingga saya cukup bisa beradaptasi ketika berjumpa dengan orang.”

Cerita susahnya belajar bahasa Arab juga dialami Romo Sigit Setyo Wibowo SJ. Saat ini, Romo Bowo sedang di Roma untuk melanjutkan studi tentang Islam. Sebelum ke Roma, ia belajar bahasa Arab di Yordania. “Kesulitannya, mulai dari bentuk huruf yang unik, pengucapan, yang bagi orang Indonesia sangat sulit dan bisa menimbulkan perbedaan makna, dan juga arti kata yang begitu kaya.”

Namun, kesulitan paling besar, lanjut Romo Bowo, terjadi dalam komunikasi sehari-hari. Umumnya, orang Yordania dan Mesir tidak bisa dan tidak mengerti bahasa Arab klasik yang dipelajari di kelas. Bahkan, banyak teman kelasnya dari Yordania dan Mesir yang tidak lulus ujian bahasa Arab. “Mereka lebih suka menggunakan bahasa harian dengan dialek masing-masing. Jadinya, saya agak mengalami kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan mereka.”

Jesuit yang menerima kaul kekal pada 2002 tak hanya belajar di ruang kelas. Agar semakin fasih, ia kerap mengunjungi banyak masjid, kamp pengungsi untuk berbicara bahasa Arab. Ia juga beberapa kali membantu Misa di sana. Ketika ke Mesir, ia kerap jalan-jalan bersama mahasiswa Islam asal Indonesia. “Mereka tahu, saya seorang pastor tetapi sangat terbuka dan menerima.”

Ketertarikan pada dunia Islam bukan hal yang baru. Sejak di bangku Seminari Menengah Mertoyudan, Romo Bowo keranjingan membaca buku-buku tentang Islam, Buddha, dan agama lainnya. Romo Bowo sering mengadakan kegiatan bersama mahasiswa, seperti seminar, hingga live-in dengan banyak keluarga di desa-desa. “Suatu saat, kami merencanakan untuk tinggal bersama keluarga-keluarga di sebuah desa Islam. Namun, orang tua mahasiswa tidak memberi izin.”

Rupanya, para orangtua mahasiswa takut akan terjadi sesuatu dengan anak-anak mereka. Ada semacam simpul; Islam sangatlah menakutkan. Romo Bowo begitu heran dan kaget dengan pemikiran dan ketakutan para orangtua. “Mereka belum banyak bertemu dengan Muslim yang terbuka dan memberi gambaran positif tentang Islam. Lebih lagi, tidak ada orang yang bisa memberi informasi yang seimbang tentang Islam kepada mereka.”

Romo Bowo bercerita, pengalaman itu paling memantik api motivasi dan impiannya untuk belajar Islam. Ia berikhtiar, kelak ia akan membagikan pengetahuan dan pengalaman persaudaraan dengan umat Islam kepada orang-orang yang kurang mengerti tentang Islam agar mereka mempunyai gambaran yang seimbang tentang Islam. “Fokus saya dialog antaragama, agar umat semakin mengerti dan memahami, bukan saja agama mereka, tapi juga agama-agama lain.”

R.B.E. Agung Nugroho/Y.Prayogo/Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*