Artikel Terbaru

Ngajinya Islam, Berdoanya Katolik

Romo Philipus bersama para Suster CIJ dan santri Pondok Pesantren Walisanga Ende.
[makmunrasyid92.wordpress.com]
Ngajinya Islam, Berdoanya Katolik
3.8 (75%) 4 votes

HIDUPKATOLIK.com – Sejumlah tarekat dan Keuskupan mengutus anggotanya belajar Islam. Upaya membangun dialog, kerjasama, dan memupuk persaudaraan antarsesama anak Abraham.

Masa Ramadhan selalu mengingatkan Romo Philipus Tule SVD pada masa kecilnya di dusun Maundai, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Hampir saban sore, bapaknya, Wilhelmus Beke, mengajak bungsu dari enam bersaudara itu bertandang ke rumah saudara mereka, Haji Ibrahim Embu Sawo dan Haji Abdul Hamid Nura. Lulusan Lincentiat Islamologi di Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies (PISAI) Roma, Italia, memanggil kerabatnya itu kakek.

Bapak-anak itu datang tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa beberapa butir kelapa muda, singkong, dan ubi untuk kerabat yang sedang berpuasa. Begitu waktu berbuka tiba, keluarga mereka menyuguhkan ketupat dan ikan dalam dua rupa, yakni berkuah santan kental dan asam.

Ketika Idul Fitri tiba, dosen Islamologi di STF Ledalero menyaksikan keluarganya yang Muslim berziarah ke makam sambil membawa sesajen (tii ka pati ae) untuk para leluhur. Di Maundai, jamak ditemui makam untuk umat Islam dan Katolik dibangun berdampingan, tanpa sekat, atau pembatas sedikit pun. Begitu mereka kembali ke rumah, Romo Philipus beserta orangtua dan saudara datang serta memberikan selamat Lebaran untuk keluarganya.

Hidup Berdampingan
Adat dan tradisi seperti itu tak hanya terjadi di Maundai, tulis Doktor Antropologi jebolan Australian National University Canbera, Australia, dalam surat elektroniknya. Di berbagai pelosok Flores dan Nusa Tenggara, ritual ini juga ada. “Umat Muslim dan beragama lain di sini hidup membaur dan berdampingan,” ujar mantan Rektor Seminari Tinggi St Paulus Ledalero dan Wakil Provinsial SVD Ende.

Relasi Romo Philipus dengan Muslim semakin luas sejak studi Islamologi di PISAI serta kursus bahasa Arab di Institute Oriental Kairo, Mesir. Di sana, ia juga membuat penelitian, serta berguru kepada imam Dominikan asal Suriah serta Islamolog terkenal Profesor George Anawati OP (1905-1994).

Romo Philipus juga mengaku gembira karena ada rekan sepeguruannya menjadi dosen serta pejabat pemerintah Indonesia, misal Mantan Menteri Keuangan Muhamad Chatib Basri, Ketua Pelaksana Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi latif, Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar Ilmi Idris, dan Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat Jamhari Makruf. “Pandangan dan wawasan keagamaan mereka terbuka,” pujinya.

Bila Romo Philipus bersinggungan dengan Islam sejak bocah, Romo Bertolomeus Bolong OCD baru mengetahui setitik ajaran Islam kala berada di seminari tinggi. Kebetulan ada mata kuliah Islamologi. Ia mengaku memahami tentang Islam saat mengambil program doktor kajian Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. “Tak hanya ajarannya, tapi juga interaksi dengan penganutnya,” beber Sekretaris Umum dan salah satu pendiri Asosiasi Sarjana Kristiani Kajian Islam Indonesia (ASAKKIA).

Meski paling beda di antara para civitas akademika, Rektor Seminari Tinggi Biara Karmel OCD San Juang Kupang ini mengaku nyaman di sana. Kata Romo Berto, unsur penting dalam membangun relasi persaudaraan dalam perbedaan adalah saling terbuka dan percaya, menghargai perbedaan, memahami sambil menyadari keterbatasan pengetahuan pribadi tentang ajaran iman orang lain.

Begitu lulus 2009, otorita UIN Sunan Kalijaga menawarkan Romo Berto menjadi dosen. Tapi karena tarekat membutuhkan tenaga dan ilmunya, ia kembali ke Flores. “Semula saya terima, karena ingin menjalin hubungan lebih akrab dengan saudara Muslim sebagai implementasi ilmu yang saya peroleh,” ujar imam asal Warukia, Riung, Flores, NTT.

Pinangan almamaternya baru bisa ia penuhi setahun kemudian. Romo Berto menjadi dosen tamu di sana hingga 2016. Sebab, pada tahun yang sama, ia didapuk menjadi Rektor Universitas San Pedro Kupang. Selama di Yogyakarta, Romo Berto juga membentuk empat paguyuban lintas iman di Berbah, Baciro, Gamping, dan Ganjuran.

Misi paguyuban itu tak hanya memberdayakan iman, tapi juga ekonomi para anggotanya, lewat modal usaha. Hingga kini paguyuban itu masih eksis. Tiap bulan, kata mantan anggota Dewan Komisariat OCD Indonesia ini, anggota paguyuban itu bertemu, berkumpul, berdoa, dan berusaha bersama-bersama.

Puasa, Pewahyuan
Setelah sebulan berpuasa, Idul Fitri akan tiba. Puncak Ramadhan itu, menurut Romo Philipus kaya dengan nilai spiritual. Dalam Ramadhan, ungkapnya, puasa makan dan minum, serta rasa lapar mengawaskan kaum kaya dan berada, terhadap keberadaan kaum miskin dan duafa.

Karena itu, karya amal dan zakat atau lebih khusus zakat Idul Fitri sangat dianjurkan selama Ramadhan. Sehingga pada Idul Fitri nanti, semua orang, khususnya kaum miskin bisa bergembira.

Bagi Romo Berto, Idul Fitri merupakan kemenangan umat Islam dalam menggapai kesucian, serta terbebas dari kesedihan dan ketakutan. Pada hari kemenangan itu juga jangan sampai ada orang yang kelaparan.

Sementara dosen Islamologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Romo J. B. Heru Prakosa SJ mengungkapkan, ada dua hal yang menjadi fokusnya pada Idul Fitri, yaitu puasa dan pewahyuan sabda (Nuzul Al-Qur’an). Baru-baru ini, Romo Heru bersama 13 peserta yang terdiri dari imam, suster, dan awam ikut memaknai apa yang dijalankan dan dikenang oleh umat Islam dengan mengadakan retret di Girisonta, Semarang.

Retret berlangsung selama delapan hari. Dalam olah batin itu, mereka puasa bicara serta mengarahkan perhatian ke pusat wahyu Kristiani, yaitu Yesus Kristus yang terbuka kepada bangsa atau umat lain. Sebelum retret, imam yang belajar Islamologi di Mesir, Inggris, dan Kairo, bersama peserta lain juga berkunjung ke Pondok Pesantren Tasawuf di Semarang, dan ikut berbuka puasa bersama.

Belum Terdata
Kehadiran para Islamolog Kristiani di Indonesia punya peranan penting. Mereka tak hanya mengenalkan umat tentang ajaran Islam, tapi juga terlibat membangun jembatan dialog, memupuk kerukunan, perdamaian, dan toleransi di antara “sesama anak-anak Abraham”. Meski ngaji-nya Islam, mereka tetap berdoa secara Katolik.

Sayang, data jumlah Islamolog Kristiani, secara khusus Katolik, belum terdokumentasi dengan baik. “Data begitu sulit dilacak. Di Konferensi Waligereja Indonesia dan Keuskupan juga tidak ada data itu. Kami tidak mengetahui berapa banyak tarekat yang kirim anggotanya studi Islam.”

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*