Artikel Terbaru

Tiga Jalan Relasi Lintas Agama

Markus Solo Kewuta SVD.
[Dok. Pribadi]
Tiga Jalan Relasi Lintas Agama
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Akhir-akhir ini, berbagai peristiwa yang menunggang atribut dan sentimen keagamaan telah mengganggu relasi hubungan antarumat beragama. Iklim persahabatan dan ketetanggaan turut goncang karena ulah segelintir orang yang tidak menginginkan perdamaian dan keharmonisan. Di balik kehingar-bingaran ini, hal positif yang perlu diangkat adalah gerakan-gerakan global penghalau ekstrimisme yang membonceng sentimen agama justru jauh lebih kuat. Kata para pakar, efek perbuatan para perusak perdamaian nampak besar, tapi pada kenyataannya kekuatan mereka tidak mengimbangi kekuatan kaum moderat dan orang-orang berkendak baik (people of good will). Bad news is good news, berorientasi pada kenaikan rating media dan reklame popularitas kelompok tertentu. Sebaliknya, selama segala sesuatu berjalan dengan baik dan tenteram, tak dianggap sebagai sensasi.

Berhadapan dengan naik-turunnya tensi dialog lintas agama, sebagian orang menganggapnya sebagai kegagalan dialog. Tapi sebagian melihatnya sebagai peluang baru untuk mengubah strategi dan meningkatkan dialog.

Di mana posisi Gereja Katolik? Gereja tidak mengubah apapun dari prinsip-prinsip dasar dialog lintas agama, sebagaimana tertuang dalam Nostra Aetate (Dewasa Kita). Dialog lintas agama adalah bagian integral dari misi penginjilan Gereja yang berasal dari Yesus Kristus. Ini adalah sebuah panggilan Gereja. Dialog lintas agama tidak hanya dijalankan pada masamasa tenang dan damai, tetapi lebih dibutuhkan pada masa seperti sekarang.

Dalam Nostra Aetate, Gereja menyerukan upaya “melupakan masa lalu” yang suram. Terminologi “melupakan” bukan ungkapan kenaifan, melainkan metafora yang membahasakan kesediaan saling memaafkan kesalahan dan kekhilafan, tulus ikhlas mengakui kesalahan dan saling menerima sambil membarui niat untuk memulai babak persahabatan dan relasi baru. Yesterday is waste paper, today is news paper, tomorrow is concept paper. Masa depanlah yang harus direncanakan dan dikembangkan, bukan masa lalu yang tidak akan kembali.

Paus dan al-Azhar
Relasi Vatikan dan Universitas al-Azhar yang dimulai secara resmi pasca kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada 1998, mengalami krisis sejak 2011. Enam tahun lamanya tidak terjadi sesuatu yang berarti, sekalipun masing-masing pihak terus menyimpan kerinduan untuk berekonsiliasi dan “melupakan” masa lalu.

Setelah beberapa kali saling memberikan sinyal, akhirnya kerinduan itu terwujud: Imam Besar al-Azhar Ahmad al-Tayyib mengunjungi Paus Fransiskus, Mei 2016, disusul kunjungan balasan Paus Fransiksus ke al-Azhar akhir April 2017. Untuk merajut kembali relasi yang sudah putus, butuh kesadaran dua belah pihak dan kerinduan bersama-sama untuk saling memaafkan dan membarui komitmen untuk masa depan yang lebih baik.

Kunjungan Paus Fransiskus ke al-Azhar mendapat perhatian besar dunia, bukan saja karena kualitas sensasionalitasnya, melainkan karena ceramahnya yang menekankan tiga jalan kebenaran untuk sebuah relasi lintas agama. Pertama, dialog lintas agama membutuhkan pengakuan terhadap identitas keagamaan masing-masing yang terlibat di dalamnya. Ambiguitas adalah musuh dialog karena membawa orang kepada sinkretisme. Orang berdialog karena mereka berbeda dan ingin saling memperkaya sekaligus memberikan kesaksian bahwa perbedaan itu indah.

Kedua, dialog lintas agama membawa orang kepada keterbukaan untuk menerima perbedaan orang lain. Dialog merupakan sebuah proses pembelajaran untuk hidup bersama dalam keanekaragaman; yang berbeda tidak boleh dilihat sebagai ancaman, melainkan kans yang memperkaya diri orang lain. Dialog bukan agenda pribadi, melainkan proses transformatif yang mengubah manusia kepada kebaikan dan keseimbangan.

Ketiga, dialog lintas agama sejati butuh pendidikan dan formasi. Semakin orang berpendidikan dan memiliki pengetahuan yang seimbang tentang umat beragama lain, semakin terbukalah dia untuk bertemu dan berdialog dengan orang lain. Pendidikan dan formasi demikian juga membantu orang untuk mengenal dan mengakui hak-hak serta keluhuran martabat manusia.

Akhirnya, segala sesuatu harus bermula dari individu. Pribadi-pribadi yang mencintai perdamaian akan menghasilkan sebuah RT dan RW, kampung, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, negara dan dunia yang damai pula. Marilah memulai dengan diri kita sendiri sambil berpegang pada tiga jalan kebenaran Paus Fransiskus.

Markus Solo Kewuta SVD
Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*