Artikel Terbaru

Apakah Relikui Orang Kudus Itu dan Bagaimana Penggunaannya Dalam Gereja?

Apakah Relikui Orang Kudus Itu dan Bagaimana Penggunaannya Dalam Gereja?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Apakah relikui itu? Apakah ada dasar biblis penggunaan relikui para kudus dalam Gereja? Apakah ada pembedaan macam-macam relikui?

Yacintha Martowati, Surabaya

Pertama, relikui (ing: relics) berarti peninggalan. Yang dimaksud di sini ialah peninggalan barang-barang atau jasad dari orang-orang yang sudah dinyatakan kudus oleh Magisterium Gereja. Gereja Katolik menghormati peninggalan-peninggalan itu karena percaya bahwa tubuh insani kita ini digunakan sebagai kenisah Roh Kudus. Badan wadag (raga-Red) inilah yang telah dikuduskan juga ketika kita menerima Sakramen Baptis, Krisma, dan Ekaristi, maupun sakramen-sakramen lainnya. Badan wadag inilah yang juga kita gunakan untuk berdoa dan menyembah Allah. Kelak, pada akhir hidup kita, badan wadag akan diubah dan dimuliakan dalam kebangkitan. Gereja Katolik percaya bahwa badan insani mengungkapkan secara manusiawi penerimaan rahmat Allah, juga mampu menjadi ungkapan kehadiran rahmat Allah itu.

Kedua, konsep kehadiran rahmat Allah melalui sarana insani ini (sakramental) tentu tidak lepas dari kenyataan inkarnasi Sang Sabda, yaitu bahwa Allah Putra menjadi manusia Yesus dan sungguh-sungguh mempunyai tubuh manusiawi. Melalui Tubuh-Nya, Yesus menyalurkan banyak rahmat kesembuhan dan rahmat-rahmat lainnya. Maka relikui yang paling penting ialah benda-benda yang terkait dengan hidup dan sengsara Yesus. Ini misalnya salib, paku yang digunakan untuk menyalibkan Yesus, kain kafan, kain peluh, makam, palungan, rumah, dan lain-lain. Beberapa relikui Yesus dipercayai disimpan di Gereja St Helena di Roma.

Ketiga, sudah dalam zaman para Rasul, penghormatan kepada relikui dilakukan. “Oleh Paulus, Allah mengadakan mukjizat yang luar biasa bahkan orang membawa sapu tangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat” (Kis 19 : 11-12). Dari praksis ini, muncullah juga penghormatan kepada benda-benda yang pernah digunakan santo atau santa. Sudah sejak pertengahan abad II ada bukti penghormatan kepada relikui santo atau santa. Salah satu bentuk penghormatan Gereja kepada relikui tercermin pada peraturan Gereja, “Hendaknya tradisi kuno untuk meletakkan relikui-relikui para martir atau orang-orang kudus lain di bawah altar tetap, dipertahankan menurut norma-norma yang diberikan dalam buku-buku liturgi” (KHK Kan 1237 # 20).

Keempat, relikui-relikui yang ada dibedakan menjadi tiga kelas, pertama, tulang-tulang atau sisa tubuh dari santo-santa. Kedua, benda-benda yang pernah dipakai santo-santa itu. Ketiga, kain yang ditempelkan pada relikui kelas satu atau dua itu. Kebanyakan relikui yang ada sekarang adalah relikui kelas tiga. Biasanya, kain yang pernah ditempelkan itu dipotong kecil-kecil dan dilekatkan pada medali atau kertas doa.

Kelima, penggunaan relikui perlu mendapatkan bimbingan rohani yang tepat, agar umat tidak memperlakukan relikui menjadi seperti jimat. Itulah sebab, para Bapa Gereja selalu mengingatkan bahwa penghormatan yang diberikan kepada relikui itu relatif, artinya terkait dengan karya agung Allah dalam hidup orang kudus itu. Sumber rahmat dan sasaran penyembahan tetap hanya Allah sendiri yang berkarya dalam dan melalui orang kudus itu. Para kudus hanyalah hamba-hamba Allah yang digunakan Allah sebagai sarana keselamatan bagi orang lain. Iman kepada Allah dan karya-Nya melalui Yesus Kristus tetap menjadi yang pokok. Relikui-relikui itu menjadi sarana penyalur rahmat Allah untuk membebaskan dari kuasa kegelapan atau untuk menyembuhkan.

St Yohanes Krisostomus, pembela relikui, selalu mengingatkan bahwa salah satu tujuan penghormatan kepada relikui ialah untuk mendorong orang Kristiani untuk meniru keutamaan-keutamaan orang kudus yang relikuinya dihormati. Allah menggunakan sarana duniawi ini untuk menyalurkan rahmat-Nya berkat doa Gereja.

Petrus Maria Handoko CM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*