Artikel Terbaru

Istri Galak Suami Teraniaya

Istri Galak Suami Teraniaya
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Romo Erwin, saya seorang suami yang sedang teraniaya. Istri saya suka memukul. Memang saya pernah berselingkuh empat tahun lalu, tetapi saya sudah bertobat, dan istri saya juga tahu. Tempat kerja saya jauh dari rumah sehingga setiap kali berangkat bekerja, istri saya suka cemburu. Sering kami bertengkar karena hal-hal kecil, termasuk karena terlambat pulang. Saya sudah menyerah, karena ia suka memukul saya; padahal saya tidak pernah memukulnya. Istri saya galak sekali. Usia perkawinan kami enam tahun. Kami tidak dikaruniai anak. Bagaimana saya bisa meyakinkannya bahwa saya sudah bertobat. Mohon bimbingan Romo.

Yohanes Joko, Jakarta

Bapak Yohanes yang baik, terima kasih atas pertanyaan Bapak. Sesungguhnya, suatu kesalahan dalam kesetiaan hidup perkawinan akan membekas sebagai luka yang dalam bagi pasangan yang dilukai. Hal ini terjadi kepada istri Anda, karena pada usia perkawinan kalian yang masih muda, Anda sudah tidak setia. Luka ini menjadi suatu penyakit, sehingga bisa timbul berkali-kali.

Mengapa dulu Anda berselingkuh? Barangkali pertanyaan ini juga perlu dijawab oleh Anda sendiri, bukan hanya menyatakan tobat, dan berjanji tidak melakukannya lagi. Saya yakin, dulu Anda melakukannya karena suatu sebab dalam relasi Anda berdua. Apakah karena alasan yang sama juga Anda berselingkuh? Apakah Anda berselingkuh karena istri Anda galak? Apakah Anda merasa bahwa istri Anda begitu dominan? Ada banyak pertanyaan yang harus Anda jawab.

Sesudah memahami permasalahan itu, Anda sendiri harus berani mengambil sikap untuk mulai terbuka kepada istri Anda, misalnya dengan berdiskusi mengenai relasi ini. Anda dapat mengikuti retret-retret pasutri agar menata kembali cara berkomunikasi dan menyembuhkan luka kalian berdua. Tuhan akan menolong Anda melalui orang-orang yang bersedia membantu Anda dalam hal ini.

Saya teringat akan suatu pernyataan dalam Kitab Suci seperti ini, “Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef 5:22-23, 25).

Semoga perkataan Paulus dalam ayat-ayat itu menginspirasi Anda berdua tentang peran dan tanggung jawab yang sama. Keadaan rumah tangga akan menyamankan jika kalian berdua mengerti benar makna dari sabda itu.

Perselingkuhan memang seringkali disebabkan oleh kedua belah pihak, tetapi jangan menyalahkan pasangan hanya untuk membela diri. Bapak harus berani mengambil peran yang baik, memimpin ke arah yang baik, dan menentramkan hati istri Anda dengan kepercayaan yang ekstra disiplin.

Jangan menganggap segala sesuatu sama seperti dulu, tanpa curiga, tanpa cemburu, tetapi jagalah relasi Anda sampai sembuh kembali, supaya kehidupan rumah tangga menjadi normal. Anda jangan memberi label “suami yang teraniaya”, karena label itu akan menciptakan situasi yang melemahkan, seolah-olah Anda satu-satunya korban dalam peristiwa ini. Buatlah lebih optimis agar Anda pun mampu menyelesaikan dengan bijaksana dan penuh kasih. Anda dan istri bertanggungjawab sama.

Mengenai ada tidaknya anak, barangkali ini menjadi salah satu yang bisa menyebabkan relasi kurang baik. Akan tetapi, itu jangan jadi alasan untuk memperburuk perkawinan Anda. Istri Anda barangkali tertekan karena kalian tidak punya anak, tetapi jika Anda meyakinkannya dengan cinta yang ikhlas, maka soal tidak punya anak tidak akan menggelisahkan.

Pemukulan, baik dilakukan suami maupun istri, jangan terjadi! Meskipun Anda bersalah, sampaikan kepadanya bahwa ini akan memperburuk keadaan. Memang Anda tidak perlu membalas, tetapi keadaan ini sungguh tidak baik bagi seorang suami (maupun istri) untuk menjalani hidup berdua yang nyaman. Maka kalian perlu bertemu dengan seorang konselor Katolik, agar belajar mengkomunikasikan sesuatu dengan wajar. Jangan putus asa, mulailah mencintai istri Anda lebih dalam lagi. Tuhan memberkati.

Alexander Erwin Santoso MSF

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*