Artikel Terbaru

Lewat Goresan Pena Dia Melayani Sesamanya

Buku harian Sr Monika yang ditulis sejak 1981.
[Nicolaus Heru Andrianto]
Lewat Goresan Pena Dia Melayani Sesamanya
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sejak kecil, ia sudah rajin menulis buku harian. Dari situ, ia menelurkan buku kumpulan puisi. Kerasulan lewat tulisan, katanya, bisa menjangkau lebih banyak orang.

Maria Marcia Veronika Puji Ekowati berbeda dari anak kecil sebayanya. Bila bocah seusianya begitu gandrung dengan kisah fabel, mitos, atau parabel, putri sulung Yosef Suharto D.S. dan Maria Christina Sutiyah ini justru amat keranjingan dengan karya sastra. Bayangkan, pada usianya yang masih teramat hijau, Maria sudah mengenal sederet nama sastrawan besar Tanah Air serta karya mereka. Misal, Hamka dengan novelnya berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Vicj; Salah Asuhan karya Abdul Muis; pun Siti Nurbaya besutan Marah Roesli.

Minat Maria yang begitu meluap-luap dalam membaca, dipoles dengan perhatian orangtuanya, secara khusus sang ayah. Kelak, Maria mengakui, budaya membaca dalam hidupnya tumbuh karena jasa ayahnya. Ia mengatakan, sang ayah akan mendatangi, begitu tahu dirinya telah tuntas membaca satu buku. Yosef meminta putrinya untuk menceritakan ulang buku yang usai dilahap di hadapannya.

Atensi serta sokongan Yosef terhadap minat putrinya menggemburkan cinta Maria kepada buku. Berkat pustaka, perempuan kelahiran Kota Sate, Blora, Jawa Tengah, 7 Maret 1961 ini bisa melihat dunia di luar kampung halamannya. Buku juga membangun dan mengembangkan imajinasinya. Pengalaman itu diabadikan dalam catatan hariannya sejak ia masih mengenakan seragam merah-putih.

Buku Harian
Hari demi hari, Maria mematri segala pengalaman di buku hariannya. Di sana, segala peristiwa dan luapan perasaan yang jujur termaktub. Meski waktu terus berputar, satu hal yang tak berubah pada diri Maria adalah kebiasaannya menulis buku harian. Catatan-catatan itu selalu ada bersamanya, ke mana pun kaki Maria melangkah, termasuk ketika masuk biara Tarekat Suster-suter Notre Dame (Soeurs de Notre Dame/SND) sebagai postulan pada 1980.

Ada lima buku harian tebal, masing-masing berisi ratusan halaman, menjadi jejak fragmen hidup yang ia toreh selama sebelas tahun. Pada penghujung masa novisiat sekitar 1981, batin biarawati yang memilih nama Maria Monika sebagai panggilan biaranya ini dirundung galau. Alkisah, jelang menerima habijt (pakaian kebiaraan), ia tercekat dengan refleksi pimpinan novisiat kala itu, Sr Maria Kanisia SND.

Refleksi Sr Kanisia, kenang Sr Monika, membahas soal semangat lepas-bebas yang harus dimiliki oleh kaum berjubah. Ia ingat betul kata-kata magistranya itu. “Apa yang melekat bagimu dan menghalangimu untuk mengikuti Kristus, lepaskanlah, musnahkanlah apapun itu,” kenang mantan Kepala Sekolah SD Notre Dame Jakarta, mengutip pesan pimpinannya.

Sejurus itulah yang ada dalam benak Sr Monika adalah buku hariannya. Ia menyadari, buku berisi rekaman peristiwa, refleksi, serta puisi-puisinya, adalah sesuatu yang amat melekat dalam dirinya. Buku “gado-gado” itu, bagi Sr Monika, lebih dari sekadar kekasih, sebab tak pernah cemburu, ingkar janji, apalagi sampai menyakiti. Bila seperti itu, perempuan mana yang rela berpisah dengan kekasihnya?

Ia akui batinnya amat berkecamuk. Tapi, lamat-lamat Sr Monika menyadari, mungkin itulah yang dimaksud pimpinannya sebagai suatu konsekuensi dari sikap lepas-bebas. Maka, ia mengambil keputusan, mengumpulkan seluruh catatan hariannya, membawa semua itu ke tempat pembakaran, dan menyaksikan seluruh kenangan dan luapan perasaannya dilalap si jago merah. Benar apa yang dikatakan para penyair, di bawah langit, tak ada yang abadi.

Hadiah Buku
Sr Monika masih menyaksikan lidah-lidah api menjilat tiap ruas buku hariannya perlahan-lahan. Ia tak dapat membendung tangisnya yang tumpah dan membasahi pipinya yang tak tersapu kosmetik. Amat sentimentil, seperti kekasih yang harus menyaksikan dan melepaskan orang tercinta pergi jauh dan takkan kembali.

Pada saat bersamaan, Sr Monika tak menyangka, Provinsial SND Indonesia saat itu, Sr Maria Xavera SND melintas di belakangnya. Ia baru sadar begitu Sr Xavera menghampiri dan menanyakan kepadanya apa gerangan yang membuat juniornya menitikkan airmata. “Nein.. nein (tidak…tidak), mengapa kamu bakar buku-buku itu? Sayang sekali…,” jawab biarawati asal Jerman, begitu mengetahui alasan dari juniornya.

Sr Xavera meminta Sr Monika datang ke kamarnya. Biarawati sepuh itu memberikan satu buku tebal kepada Sr Monika. Sr Xavera meminta dirinya agar kembali menekuni kebiasaan menulisnya.

“Tulislah lagi di buku itu renungan, refleksi, dan puisi agar membantumu semakin peka terhadap sapaan Tuhan, semesta, dan sesama,” pinta Sr Xavera, seperti dikutip Sr Monika.

Buku pemberian mantan provinsialnya itu hingga kini masih tersimpan di kamarnya. Seluruh halaman buku itu tak lagi menyisakan ruang kosong. Buku itu selalu ada bersamanya, ke mana pun ia pergi, termasuk ketika menjalani masa tersiat dan kaul kekal di Roma, atau saat ia merampungkan studi bahasa Inggris di Oxford College and Trinity College London, Inggris.

Hobi menulis Sr Monika rupanya terdengar hingga ke Belanda. Ketika berada di Negeri Kincir Angin, sebelum menuju Roma, satu koleganya Sr Maria Hubertin SND memberinya satu buku tebal kepada Sr Monika. Pesan Sr Hubertin tak jauh berbeda dengan amanah Sr Xavera kali lalu. “Tulislah segala pengalamanmu selama tersiat di buku ini,” kenang Sr Monika, mengulang pesan seniornya itu.

Pada masa tersiat, pembimbing rohaninya, Romo Paulus Suradibrata SJ (Asisten Pater Jenderal Jesuit di Roma untuk kawasan Asia Timur dan Oceania, 1987-1993) menasihati agar Sr Monika menekuni kerasulan lewat tulisan. Pesan Romo Suradibrata kepada Sr Monika, dengan menulis bisa menjangkau lebih banyak orang dan amat efektif.

Begitu kembali dari Roma, ternyata Sr Monika tak mudah untuk melanjutkan kebiasaan itu di Tanah Air. Litani tugas dan tanggung jawab sudah mengantre di pelupuk mata. Ia baru sempat menulis setelah semua tugas hari itu rampung. Satu pengalaman yang memecut semangat untuk menulis dalam diri mantan formator di Novisiat SND Asia Timur ini adalah Bruder Anton Marsudiharjo FIC.

Sr Monika kagum dengan antusiasme menulis Br Anton. Kendati usianya telah menginjak senja dan aktivitasnya mengurus anak-anak di sekolah luar biasa, Br Anton masih meluangkan waktu pribadi yang amat minim untuk menulis. Semangat menulis Sr Monika kembali bergairah. Puisi-puisi yang ia tulis di buku hariannya, sejak 1981-1992, naik cetak dan diberi judul “Simponi Kasih untuk-Mu”.

Ia juga menelurkan sebuah buku berjudul Pa, Ma, Kembalikan Surgaku. Dalam buku itu, Sr Monika mengangkat persoalan dan penderitaan anak-anak yang orangtua mereka bercerai. Terbaru, pada Juni tahun ini, novel perdananya Semburat Putih Pelangi Kasih (Kisah Hidup Dewi Kili Suci) terbit. Selain itu, tulisannya juga tersebar di sejumlah media paroki, tarekat religius, dan koran nasional. “Menulis bagi saya tak sekadar hobi, tapi juga terapi mental dan jiwa, menyeimbangkan emosi, mengolah rasa dan karsa. Menulis juga melatih saya untuk menjaga kedisiplinan, belajar berpikir teratur dan terstruktur,” ungkapnya.

Indentitas, Panggilan
Pengagum Psalm of Life karya Henry Wordwort Long Fellow, serta kumpulan puisi Maria Giorgiana Rosetti dan Thomas More ini, terpilih menjadi Provinsial SND Indonesia, pada Desember tahun lalu. Meski tanggung jawabnya bertambah, Sr Monika terus menekuni kerasulannya di ladang aksara.

Ia merasakan, menulis rupanya telah menjadi identitasnya. Menulis juga sudah menjadi karya kerasulannya. Merasul lewat tulisan, imbuh Sr Monika, menjadi model baru pelayanan yang bisa memberi pencerahan dan kelegaan untuk banyak orang, tak hanya di lingkungan sendiri, tapi menjangkau umat lintas batas.

Nicolaus Heru Andrianto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*