Artikel Terbaru

Menyembuhkan Kusta Dengan Metode Multi Intervensi

Rufus Patty Wutun.
Menyembuhkan Kusta Dengan Metode Multi Intervensi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Rufus putra pertama NTT yang menjadi doktor bidang Psikologi. Bersama peneliti lain, ia mengkreasi cara penyembuhan alternatif dan memerangi kusta dengan metode multi intervensi.

Kusta telah ada sejak awal mula sejarah. Dalam cerita Alkitab, penderita kusta disingkirkan dari
masyarakat. Bahkan kusta dikultuskan sebagai kutukan dosa. Di era modern, di mana pengobatan medik mengalami perkembangan pesat; kusta, kemiskinan, dan manusia masih berkelindan mengarungi zaman. Kusta masih bercokol di 12 provinsi di Indonesia. Dalam tataran global, Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan Brasil sebagai negara dengan jumlah penderita kusta terbesar.

Ada pelbagai pendekatan medis untuk menaklukkan penyakit purba ini. Namun, penyembuhan secara medis memiliki batasan. Hal itu ditegaskan Rufus Patty Wutun, pendiri Lembaga Jasa Psikologi Terapan Kupang (LPTK) dalam seminar nasional kusta di aula Gedung Konferensi Waligereja Indonesia Jakarta, April silam.

LPTK melakukan terobosan penyembuhan kusta melalui metode A New Holistik Intervention: metode alternatif selain medis. Melalui metode ini, LPTK melakukan intervensi pengobatan terhadap 33 penderita kusta di Rumah Sakit Kusta Damian Lembata, NTT. Ruang lingkup intervensi metode ini mencakup fisik, psikologis, sosiologis, dan spiritual. Hasilnya, 19 penderita kusta sembuh sempurna. Sedang 14 orang lain tidak mau diintervensi lanjutan.

Non Medis
Rufus mendirikan LPTK pada 2008. Doktor Psikologi lulusan Universitas Indonesia ini ingin melayani dan memberdayakan masyarakat melalui kegiatan riset psikologi, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan efektivitas organisasi, dan beragam jasa psikologi terapan lainnya kepada masyarakat. “Dengan LPTK, saya lebih proaktif, cepat, dan mudah menindaklanjuti permintaan jasa riset atau jasa psikologi terapan lainnya tanpa menunggu persetujuan pimpinan lembaga tempat saya bekerja sebagai akademisi,” Rufus mengenang ihwal ia mendirikan lembaga itu.

Dalam perjalanan, kata Rufus, LPTK mengalami pelbagai peristiwa dan pengalaman baru yang unik, aneh, dan kadang tidak masuk akal. Adalah Porat Antonius, rekan dosen dan peneliti LPTK yang menjadi sumber pelbagai pengalaman aneh itu. Anton berhasil menyembuhkan banyak pasien dalam ragam jenis penyakit dengan tingkat kerumitannya masing-masing dan aneh-aneh.

Rufus bergaul karib dengan Anton. Keduanya sering berdiskusi tentang masalah autis. Ujungnya, mereka sepakat melakukan terobosan mencegah kelahiran anak autis dan cacat fisik. “Kami memutuskan untuk melakukan riset guna membantu ibu-ibu hamil melahirkan anak tanpa menderita autis dan cacat fisik.”

Anton meminta Rufus mempersembahkan LPTK kepada Allah. Anton juga meminta untuk menyerahkan kepemilikan dan perlindungan LPTK kepada St Perawan Maria Bunda Allah. Rufus tanpa cincong menjabat erat tangan Anton. “Itu tanda ikatan perjanjian, menjadikan LPTK sebagai lembaga yang menolong ibu hamil untuk melahirkan anak sehat dan bebas dari ancaman cacat mental dan cacat fisik.”

Dalam perkembangan, riset LPTK juga merambah isu-isu lain, seperti Riset Intervensi Penanggulangan Malaria di Kabupaten Lembata, Sikka, dan Manggarai Timur, hingga cerita sukses Riset Intervensi Penyembuhan Kusta di Kabupaten Lembata tahun lalu. “Maka, jadilah LPTK seperti sekarang, mampu menyembuhkan kusta,” ungkap Rufus.

Jejak karya akademik dosen yang gemar memakai topi ini, tak hanya menempel pada embel-embel doktor atau status dosen. Ia telah menetaskan belasan buku dan riset. Rufus paling mengenang pelaksanaan dan hasil riset intervensi pencegahan anak lahir cacat fisik dan cacat mental. LPTK membantu 200-300 ibu hamil dengan usia kehamilan dua sampai enam bulan.

Hasilnya membuat Rufus tersenyum. Para ibu melahirkan dengan mudah, sederhana, dan murah. “Yang lebih penting, anak-anak yang dilahirkan dalam dampingan LPTK sekarang telah berusia tiga sampai lima tahun sangat sehat, cerdas, dan jarang sakit karena imunitas tubuhnya bagus.”

Cerita sukses tersebut meninggalkan kesan puas. Betapa tidak, Rufus bersama LPTK kerap beradu pendapat dengan Dinas Kesehatan, dokter dan perawat-perawat di Puskesmas. Mulanya, Dinas Kesehatan Kota Kupang mengizinkan LPTK membantu. Tetapi karena intervensi LPTK menggunakan vitamin dan makanan yang disesuaikan dengan keunikan masing-masing ibu hamil maka pihak medis menolak bantuan. “Ketika beberapa ibu hamil tidak segera melahirkan, keluarga termasuk sang pasien menelepon dan meminta kami membantu.”

Hasilnya, sekali lagi, para ibu hamil melahirkan dengan mudah, murah, tanpa masalah. Pengalaman dan hasil riset itu mengantar LPTK ke podium penghargaan Juara Inovasi Terbaik di bidang Kesehatan Ibu dan Anak dari MDGS di Jakarta 2013.

Yang Pertama
Rufus memulai perjalanan akademik di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Pada 1987, ia menyelesaikan S1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Undana. Tak lama berselang, ia diangkat menjadi dosen. Lima tahun menjadi dosen, ia melanjutkan studi S2 dan kemudian S3 bidang Psikologi Industri dan Organisasi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. “Saya ingin ke psikologi karena cita-cita sejak kecil ingin menjadi ahli ilmu jiwa. Saya ingin menjadi doktor di bidang psikologi.”

Obsesi masa kecil itu, kata Rufus, kini menjadi nyata. Pada Desember 2004, ia menyelesaikan studi S3 Psikologi UI. Pria kelahiran Flores Timur, 22 November 1957 ini menjadi orang pertama NTT yang menjadi doktor di bidang Psikologi.

Rufus sempat mengabdi di UI. Di kepalanya, tidak pernah terlintas atau pun berharap menjadi dosen di Fakultas Psikologi UI. Bahkan, bagi suami dari Maria Theresia Roja ini, lulus dari UI sudah merupakan kebanggaan besar. Sontak, Rufus kaget setengah mati ketika Profesor M. Enoch Markum, Direktur Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UI me minta dirinya menjadi dosen tetap di UI. “Terus terang, saya kaget dan agak gemetar mendengar informasi tersebut. Saya keberatan, karena saya adalah dosen tetap di Undana.”

Namun, Rufus menaruh hormat pada Profesor Enoch. Ia lantas meminta Profesor Enoch meminta langsung kepada Rektor Undana. Pimpinan Undana menolak permintaan itu. Rufus akhirnya kembali ke Kupang dengan misi membuka Prodi Psikologi di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik dan Komunikasi Undana.

Di FISIP Undana, Rufus mengampu lima mata kuliah. Meski sibuk, ia tetap aktif memberikan seminar, baik nasional maupun internasional, melakukan riset, dan menulis buku. Tahun depan, ia akan meluncurkan sebuah buku baru. Semua peneliti LPTK, kata Rufus, adalah penulis. Antonius Porat misalnya, merupakan penulis produktif. “Kesulitan kami adalah biaya cetak buku. Tapi kami tetap melakukan riset dan menerbitkan buku, serta berjuang untuk melakukan kebaikan.”

Rufus Patty Wutun
TTL: Flores Timur, 22 Nopember 1957
Istri: Maria Theresia Roja

Pendidikan:
• S-1 FKIP Undana Kupang (lulus-1987)
• S-2 Fakultas Psikologi UI (1996)
• S-3 Fakultas Psikologi UI (2004)

Pekerjaan:
• Dosen di FISIP Undana Kupang NTT
• Pendiri dan Direktur LPTK
• Peneliti dan Penulis Buku

Karya:
• Kecerdasan Beriman dan Kesehatan Manusia. Riset Intervensi Penyembuhan Kusta di Kabupaten Lembata Provinsi Nusa Tenggara Timur (Orasi Ilmiah, 2016)
• Konsep Ketahanan Diri: Malaria (2015)
• Manusia Sehat Dalam Modus to Have dan to Be (2013)
• Psikologi Ekonomi & Konsumen (2005)

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*