Artikel Terbaru

Ahli Hukum yang Mencintai Kaum Papa

Beato Contardo Ferrini.
[conilvento.com]
Ahli Hukum yang Mencintai Kaum Papa
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Sebagai seorang ahli hukum, ia dikenal punya hati bagi kaum miskin. Ia mempraktikkan teori kasih di dunia pendidikan bersama saudara-saudari yang papa.

Seorang pria muda dan tampan masuk sebuah restoran di Milan, Italia. Orang sering memanggilnya Giovani Esperti Legali, ‘ahli hukum muda’. Tiba-tiba, hatinya seolah tersayat menyaksikan ruangan tersebut hanya dipenuhi orang kaya. Ia dibuat heran ketika melihat ke luar restoran. Banyak orang miskin, terlebih anak-anak, hanya duduk mengharapkan belas kasihan dari mereka yang lewat dengan pakaian perlente. Namun sayang, tak satu pun yang mau bermurah hati kepada mereka.

Ahli hukum itu sangat marah. Ia keluar dari restoran dan memanggil orang-orang miskin itu untuk masuk ke dalam restoran. Ia mempersilakan mereka duduk dan mengajak mereka berdoa Rosario. Setelah itu, ia mempersilakan mereka makan apapun yang disediakan. Dengan gembira, mereka melahap semua makanan di restoran itu. Orang-orang kaya hanya bisa menatap dengan raut muka kesal.

Itulah sekelumit kisah kelembutan hati Beato Contardo Ferrini. Sikapnya menjadi tamparan keras bagi konglomerat Italia kala itu. Sejak peristiwa itu, banyak orang mengenalnya sebagai cendekiawan muda yang lembut, saleh, dan peduli pada kaum papa. Ia dianggap sukses mempraktikkan pendidikan kepribadian di dunia pendidikan dalam kehidupan nyata. Kesucian hidupnya membuat “Legenda Kaum Miskin” ini digelari Beato dan dikenang sebagai pelindung para pendidik.

Banyak Talenta
Contardo dibesarkan dalam keluarga cendekiawan. Sang ayah, Rinaldo Ferrini adalah seorang profesor matematika dan fisika. Kecintaannya terhadap ilmu alam ini diwariskan kepada Contardo. Dari dua cabang ilmu ini, Contardo lebih tertarik mempelajari fisika. Baginya, belajar fisika seperti bercengkerama dengan alam semesta. Sejak saat itu, banyak waktu dihabiskan Contardo menyelam dalam banyak teori fisika. Meski kurang berminat pada matematika, ia sempat mempelajari kalkulus. Bahkan ia sudah menguasai dan fasih beberapa bahasa ketika menginjak remaja. Sebagai orang muda, Contardo terbukti memiliki talenta berlimpah dalam dirinya, baik dari sisi intelektual, psikologis maupun spiritual. Melihat perkembangan yang luar biasa ini, Rinaldo berharap, putranya kelak bisa menjadi seorang ilmuwan.

Kemampuannya ini membuat Contardo tak pernah mengalami kesulitan belajar di sekolah. Kendati begitu, ia tak pernah congkak hati. Ia senang membantu teman yang kesulitan dalam belajar. “Contardo seorang yang pintar dan banyak teman menyukainya,” demikian para guru menilai pribadi Contardo.

Di sekolah menengah, Contardo tumbuh menjadi anak yang pandai bergaul. Sikap sosial ini membuatnya mudah belajar aneka bahasa, di luar bahasa Italia. Dalam pergaulan itu, ia mulai tertarik memperdalam iman Katolik. Kecintaannya pada iman Katolik membuat teman-teman menjulukinya “St Aloysius Gonzaga”.

Modal intelektual ini membuat Contardo dengan mudah diterima di Universitas Pavia (Università degli Studi di Pavia/UNIPV), Italia pada usia 17 tahun. Pada usia 21 tahun, ia berhasil meraih cita-citanya menjadi ahli hukum dengan predikat summa cum laude.

Hasil studinya yang gemilang di Universitas Pavia kemudian menjadi dasar pemberian beasiswa bagi Contardo di Universitas Berlin, Jerman. Di sana, ia mendalami spesialisasi studi hukum Romawi- Bizantium. Bidang inilah yang di kemudian hari menjadikannya dikenal secara internasional.

Sungguh berat baginya meninggalkan rumah keluarga di Italia. Namun, Contardo mendapat penghiburan karena apat bertemu dengan orang-orang Katolik ang saleh di Jerman. Dalam buku hariannya, ia menulis apa yang dirasakan ketika pertama kali menyambut Sakramen Rekonsiliasi di negeri rantau. “Sungguh menggetarkan hatiku menyadari bahwa Gereja Katolik sungguh sama dimana pun dan kemana pun orang pergi.”

Panggilan Ilahi
Tahun berikutnya, Contardo berjuang mengambil keputusan mengenai jalan hidupnya, akan jadi seorang biarawan atau hidup berkeluarga. Menurutnya, keputusan ini amat sulit karena harus menjelaskan kepada orangtuanya. Dalam masa-masa pergumulan itu, ia melihat bagaimana kekuatan teman-temannya di Universitas Berlin. Sampai pada suatu titik, ia menyadari bisikan Tuhan agar menjadi biarawan. “Hampir-hampir aku tak bisa menolak bisikan itu,” ujarnya.

Bisikan Tuhan seakan terus bergema dalam nuraninya. Contardo sempat mengalami kegalauan. Hingga ia pun berbagi kisah dengan seorang sahabat. “Bila kamu yakin bahwa itu panggilan Tuhan, jawablah karena suara Tuhan tak pernah salah,” nasihat seorang sahabat kepada Contardo. Kata-kata ini seolah menjadi kekuatan bagi Contardo untuk bergabung dengan Ordo Ketiga Fransiskan (Ordo Franciscanus Saecularis) tahun 1886. Ia mengikrarkan kaul dan diizinkan untuk menyelesaikan studinya. Dalam proses itu, ia menjadi seorang Fransiskan yang sempurna, baik dalam tindak-tanduk maupun kata-katanya.

Usai dari Berlin, Contardo kembali ke Italia dan menjadi dosen di Universitas Messina, Universitas Modena, dan Universitas Pavia, almamaternya. Ia menjadi dosen pada usia 26 tahun. Meski harus melakukan rutinitas profesinya bersama para kolega dosen dan mahasiswa, ia tetap mempertahankan kehidupan selibatnya. Ia bersumpah untuk tetap setia kepada Allah dan mematuhi segala aturan tarekat, serta bekerja dalam semangat pax et bonum.

Selain menjadi anggota OFS, Contardo juga bergabung menjadi sukarelawan dalam Serikat Sosial St Vincentius a Paolo (Society of St Vincent de Paul/SVP). Kelompok yang terdiri atas kaum religius dan awam dari seluruh dunia ini bekerja melayani orang miskin, difabel, melalui karya pelayanan kesehatan dan pendidikan. Untuk karya pendidikan, doktor muda ini didaulat sebagai koordinator di wilayah Italia.

Patron Para Pendidik
Di Universitas Pavia, Contardo dianggap sebagai ahli hukum Romawi yang tegas. Namun dalam kehidupan sehari-hari di luar kampus, ia dikenal berhati lembut. Selama kariernya, ia menulis berbagai buku, artikel dan ulasan hukum, filsafat hingga ilmu alam. Ia bahkan pernah menjadi pengacara sipil untuk masyarakat yang kehilangan haknya tanpa dibayar sepeserpun.

Suatu hari, pada musim gugur tahun 1902, Contardo berlibur dan mengunjungi keluarganya di Suna, Novara (kini masuk wilayah Verbania, Provinsi Verbano-Vusio Assola), di tepi Danau Maggiore. Di tempat itu, ia beristirahat dan banyak menghabiskan waktu untuk berdoa dan menulis.

Tak disangka, masa liburan ini menjadi petaka baginya. Di tempat itu, Contardo terjangkit penyakit tifus. Ia menjalani perawatan beberapa kali hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada usia 43 tahun, 17 Oktober 1902. Berita duka itu segera tersebar di seantero Italia. Banyak orang menghadiri upacara pemakamannya. Jazadnya disemayamkan di sebuah kapel di Universitas Milan.

Setelah wafatnya, Keuskupan Novara bersama Universitas Pavia menginisiasi usulan kepada Vatikan untuk membuka proses penggelaran kudus bagi Contardo. Proses ini pun sepenuhnya didukung Uskup Agung Milan, Kardinal Andreo Carlo Ferrari (1850-1921) pada 1909. Akhirnya, Paus Pius XI (1857-1939) menggelarinya venerabilis tahun 1931. Kesalehan hidup dan keteladanan pribadinya, cintanya kepada orang miskin serta pengabdiannya bagi dunia pendidikan membuat Takhta Suci secara resmi membeatifikasinya pada 13 April 1947. Perhelatan akbar ini digelar di Lapangan St Petrus Vatikan, yang dipimpin Paus Pius XII (1876-1958). Ia dikenang sebagai pelindung para tenaga pendidik di universitas. Pestanya dirayakan tiap 20 Oktober.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*