Artikel Terbaru

Jika Yesus Bermedsos

Jika Yesus Bermedsos
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Internet tak terhindarkan. Separuh dari penduduk bumi bermigrasi ke sana. Merekalah “netizen”, “warga internet”. Bak di dunia nyata, sehari-hari mereka saling berkomunikasi, berbagi, belajar, bertransaksi, memproduksi, dan mengonsumsi. Ruang dan waktu tak terkendala.

Internet bukan cuma perangkat. Dalam buku Cyberteologia, Antonio Spadaro menyebut, internet sebagai sebuah habitat, lingkungan hidup, dunia tempat kita hidup. “Jika smartphone, BB, atau iPad ini saya on-kan, maka saya ada dan hidup di situ,” tandasnya.

Internet menggeser sistem media broadcast ke inter-activity. Komunikasi ini berlangsung timbal balik, terjadi dari banyak sumber ke banyak audiens, tertutupnya penguasaan media, dan bebasnya kontrol terhadap sumber. Inilah perubahan budaya Cyber, khususnya media sosial (medsos).

Fenomena jejaring sosial mempertegas konsep baru tentang informasi. Ia bukan lagi produk dari para spesialis (jurnalis atau penulis). Menjadi samar siapa sender dan receiver, atau siapa producer dan consumer. Fungsi ini bertukar posisi seiring proses interaksi, sebab mereka itu prosumer (“producer” dan “consumer”). Komunikasi dunia medsos masih meninggalkan celah, misal mendangkalnya makna pertemanan, memudarnya batas privasi, alienasi, dan meredupnya kultur refleksi.

Di tengah corak hidup netizen ini, saya membayangkan figur Yesus kekinian. Kira-kira, apa ya nama account Facebook-Nya? Berapa ya jumlah follower-Nya di Twitter? Saya langsung bertanya demikian justru karena Yesus itu inkarnatoris. Saya yakin, Dia tidak akan berpikir panjang lebar untuk ikut menjadi netizen. Pastinya, Dia juga aktif berselancar di medsos. Ya, lihat saja, kan sekarang banyak sekali orang yang “berdoa” di medsos.

Lebih lanjut, saya membayangkan bahwa cara hadir Yesus di dunia baru itu hendak mempertegas arti Immanuel-Nya. Ini bisa kita pahami melalui teologi inkarnasi. Melihat dunia hanyut dalam dosa, Allah memilih hadir dan hidup dekat dalam sejarah manusia. Selanjutnya, dalam menyiarkan Kerajaan Allah, Yesus masuk dan menggunakan aspek-aspek budaya serta lingkungan zamannya. Misalnya, domba, ladang, bajak, makan malam, benih, dan sesawi. Dalam dan melalui hal-hal duniawi, Yesus mengajak para murid menemukan gambar Allah.

Selain manfaat, komunikasi dalam jaringan juga membawa dampak negatif. Namun, menghujat sisi negatifnya bukanlah cara murid Kristus. Inilah kesadaran awal yang mesti kita miliki. Sebab, suka tidak suka, separuh isi dunia ini sudah bercengkerama di sana: mereka haus dan lapar akan sesuatu. Bukankah Yesus juga meminta murid-murid-Nya agar memberi “makan” kepada mereka yang lapar? (bdk. Mat 14:16).

Saat ini, aspek kemuridan kita diajak memahami arti terdalam dari beriman kepada Kristus di tengah kultur digital dunia Cyber. Yesus juga bersabda kepada kita, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil,” (Mrk 16:15). Apa makna titah ini bagi warga jagat online? Internet turut memengaruhi cara berkomunikasi, berpikir, dan hidup, lalu juga cara menghayati iman.

Internet bukan hanya sarana, tapi dunia. Ia juga bukan sekadar media baru untuk berevangelisasi. Namun, sebuah dunia (locus) bermisi, di sinilah iman dipanggil untuk mengungkapkan diri. Gereja dipanggil hadir dan memberi kesaksian di alun-alun publik tempat warga berhimpun mengembangkan kemampuan atas pengetahuan, komunikasi, dan kehidupan.

Untuk itu, dibutuhkan cara pandang rohani tentang internet. Jaringan internet mesti selalu dipahami dalam kerangka komunikasi, membangun konektivitas. Kristus sendiri memanggil manusia agar berkembang dalam kesatuan dan senantiasa terhubung dengan diri-Nya dan sesama. Perjumpaan dan kesatuan selalu menjadi kriteria setiap ungkapan komunikasi. Juga dibutuhkan kecerdasan iman, agar kita bisa hidup secara baik di jagat online sebagaimana itu terjadi di kehidupan offline sehari-hari.

Kehidupan online seharusnya merupakan sebuah proses reflektif yang bermula dari iman sebagai terang dalam berinteraksi di dunia Cyber. Ini bukan tentang bagaimana cara berinternet yang baik. Namun, ini lebih pada bagaimana seorang murid Kristus mengungkapkan hidup secara baik dalam kultur digital dunia siber. Sebab, di dunia ini pula, kita diutus menjadi saksi sukacita-Nya.

Elis Handoko SCJ

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*