Artikel Terbaru

Sang Uskup Budapest Penentang Rezim Teror di Hungaria

Mgr Zoltán Lajos Meszlényi.
[cubabuestra7eu.wordpress.com]
Sang Uskup Budapest Penentang Rezim Teror di Hungaria
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Aksi teror dan pembantaian oleh rezim Komunis mewarnai dua minggu masa jabatannya sebagai Uskup Agung Budapest. Ia ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena dituduh anti pemerintah.

Malam kian larut, Mgr Zoltán Lajos Meszlényi masih terjaga. Ia tekun mempelajari buku yang berisi data kependudukan beragama Katolik Esztergom, Hungaria. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk. Ketika pintu dibuka, pasukan komunis bersenjata menangkapnya.

Uskup yang baru dua minggu menggantikan Kardinal Jozsef Mindszenty (1892 -1975) ini, ditangkap pada 29 Juni 1950 atas tuduhan anti pemerintah. Ia ditahan di dalam sel berukuran 3×4 meter di kamp Kistarcsa (pusat kota), Budapest.

Berita hilangnya Mgr Zoltán menyebar hampir ke seantero Hungaria. Tak seorang pun tahu keberadaan Mgr Zoltán. Komunis menutup rapat rahasia ini. Tetapi menurut kesaksian Romo Stalinis Suffern, salah satu korban Komunis, Mgr Lajos mengalami penyiksaan fisik dan psikis di tahanan. Ia wafat 3 Maret 1951 di penjara Kistarcsa, karena penyakit jantung kronis yang dideritanya.

Kedewasaan Iman
Zoltán adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ia dididik dalam keluarga Katolik saleh. Zoltán Meszlényi dan Etel Burszky, orang tuanya tidak terlalu menaruh banyak harapan pada Zoltán. Selain pendiam, ia dikenal seorang yang lemah karena rentan sakit.

Meski begitu ia seorang yang dewasa. Kedewasaannya membuat dirinya sering dibenci oleh kakak sulungnya Ilonka Meszlényi. Betapa tidak, Zoltán sering menasihati Ilonka karena tidak patuh pada orang tua, malas bekerja, bolos sekolah dan malas berdoa.

Pria keahiran Hatvan, 2 Januari 1892 dikenal murah hati. Ia menjadi teladan bagi saudara-saudarinya. Semua ini karena ia tak ingin profesi ayahnya sebagai Kepala Sekolah tercemar. Prinsipnya, “Sebelum ayahnya mengajarkan kebaikan kepada anak-anak didik, Zoltán dan saudara-saudarinya terlebih dahulu harus dibenahi.”

Kesalehan hidup telah ia tunjukkan sejak kecil. Setiap hari ia tekun berdoa dan mendaraskan Rosario. Ia terlibat di berbagai kegiatan Gereja seperti misdinar dan kor. Kala mengikuti Misa, ia terpesona dengan pribadi imam. Romo Jozefh Sarédszi, Romo parokinya mengisahkan, Zoltán kecil adalah teladan anak-anak muda di Hatvan. Ketika mengikuti Misa ia akan memandang penuh khidmat tubuh dan darah Kristus yang dipecah. “Suatu saat ia akan “memecahkan” tubuhnya demi masyarakat Hungaria,” kisah Romo Jozefh.

Keterpesonaan dirinya pada sosok imam membawanya masuk Seminari Pannonhalma, Budapest milik Ordo Benediktin. Di situ, ia dikenal cemerlang khususnya dalam bidang linguistik. Oleh teman-temannya dirinya sering di juluki, “Sang Fajar Timur” karena mahir berbahasa Latin, Italia, Jerman, Inggris dan Perancis.

Setamat seminari, ia belajar Filsafat di Hungaria, selesai pada 27 Juni 1910. Setelah itu ia diutus oleh Kardinal Vaszary Kolos (1832-1915) pada 1909 untuk melanjutkan studi Teologi di Universitas Kepausan Gregoriana dengan spesifikasi bidang Hukum Kanonik. Pada 20 Juli 1912, ia kembali ke Hungaria lalu ditabiskan imam pada 28 Oktober 1915 oleh Kardinal János Csernoch (1912-1927).

Tugas perdananya di Paroki Komárom, Hungaria. Dalam pelayanan imamatnya, ia selalu menunjukkan kerendahan hati. Namun ia tak segan mengkritik ketidakadilan di tengah masyarakat. Kesalehan hidup dan kebijaksanaannya membuat Romo Zoltán ditampuk sebagai Uskup Koajotur di Ezstergom.

Saat itu, secara berkala Gereja mengalami penindasan oleh komunis. Saat itu pula Kardinal Jozsef Mindszenty mengundurkan diri karena kesehatan. Takhta Suci tak mengizinkan umat dibiarkan berjalan sendiri tanpa seorang Uskup. Uskup Koajutor kemudian diangkat sebagai Uskup Agung di Ezstergom.

Ia ditabiskan menjadi Uskup Agung Ezstergom oleh Kardinal Jusztinián Serédi. Moto tabisan Uskupnya, “fidenter ac fideliter” (Dengan Keyakinan dan Kesetiaan). Tugas utama Mgr Zoltán adalah menyelesaikan konflik berdarah dan pemerintahan teror di Hungaria.

Pemerintahan Teror
Masa kepemimpinannya sebagai Uskup Agung hanya dua Minggu. Beberapa hari setelah ditabiskan, ia lantang mengkritik Komunis. “Kita jangan terperangkap keegoisan Komunis yang haus kekuasaan. Bila kita terperangkap, kita terluka dan tak dapat membebaskan diri. Dengan demikian tak ada kekuatan dalam diri kita.”

Kritiknya ini mendatangkan dendam, puncaknya ketika Republik Soviet Hungaria diproklamirkan pada 21 Maret 1919. Sejak itu, babak penindasan terjadi dalam sejarah Hungaria. Gereja “berdarah-darah” oleh kekuasaan Komunis. Para imam dipenjarakan dan sekolah-sekolah Katolik dipaksa tutup.

Aturan baru bermunculan, salah satunya dalam Werboczi’s Tripartite Code (WTC), yang membagi masyarakat bangsawan dan masyarakat kecil. Gereja Katolik memilih berpihak pada masyarakat kecil dan Gereja menentang pengkotak-kotakan dalam WTC.

Sepanjang generasi, Gereja Hungaria berjuang guna menyatakan hak mereka sebagai sebuah bangsa. Usaha paling serius adalah melepaskan diri dari kekuasaan Komunis. Akibatnya mereka dibantai. Pembantaian brutal terjadi pada 1848 ketika 10.000 petani Hungaria dieksekusi mati oleh komunis.

Mgr Zoltán sedih mendengar tragedi duka ini. Akhirnya ia mengubah cara berpastoral dari ekslusif ke inklusif. Ia turun langsung ke jalan-jalan menentang aksi ini. Para petani pun diajak berjuang merebut tanah dan hak mereka. Ia mengkritik para Komunis termasuk Kaisar Franz Josef (1830-1916) yang justru berbalik hati mendukung kaum Aristokrasi Hungaria.

Mgr Zoltán mencoba membuat pendekatan dengan pihak Kekaisaran. Secara teoritis, perbudakan sudah dihapus, tetapi dalam prakteknya, 20 juta hektar tanah yang dimiliki kaum Aristokrat dikerjakan oleh buruh perkebunan yang kondisinya tak jauh berbeda dengan budak.

Sebagian besar masyarakat hidup miskin. Para petani dipaksa bekerja dari jam dua atau tiga pagi hingga jam sepuluh malam. Tidak ada hari libur. Mereka hanya diberi makan remah-remah roti dan daging asap tengik serta tidur di lubang-yang digali di tengah ladang.

Keluarga petani rata-rata tinggal di sebuah gubuk berkamar satu. Gubuk itu sering dipakai bersama-sama oleh dua keluarga atau lebih. Kadang-kadang dengan 20-25 orang dalam satu ruangan. Situasi ini mendatangkan konsekuensi baru. Penyakit Tuberkulosis menjadi “penyakit orang Hungaria.”

Mgr Zoltán merasa perlu membuat sesuatu untuk mengakhiri semuanya. Ia kemudian mengadakan gerakan pemogokan besar-besaran oleh buruh tani. Sekitar 10.000 ribu pekerja perkebunan mogok kerja. Para pemilik lahan dibuat pusing dengan aksi mogok ini. Hasil panen pun kian merosot. Kaum aristokrasi merasa di rugikan dengan campur tangan Gereja. Mereka takut jatuh miskin.

Untuk menghentikan aksi ini Mgr Zoltán yang baru menjabat dua Minggu ditangkap dan dipenjarakan. Ia wafat di penjara yang tertutup dan gelap.

Pada 10 Maret 2004, Paus Benediktus XIV membuka proses venerabilis. Baru pada 3 July 2009 Komisi Penggelaran Kudus Vatikan menyatakan Mgr Zoltán sebagai orang Kudus. Ia dibeatifikasi pada 1 November 2009 di Esztergom oleh Kardinal Angelo Amato SDB, Prefek Penggelaran Kudus Vatikan. Ia diperingati setiap 4 Maret.

Yusti H Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*