Artikel Terbaru

Panti dan Asrama Bagi Remaja Putri Untuk Mengembangkan Diri

Kebersamaan: Anak-anak PAA St Yulia.
[HIDUP/Antonius E. Sugiyanto]
Panti dan Asrama Bagi Remaja Putri Untuk Mengembangkan Diri
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Bermula dari niat baik untuk membantu sesama. Benih itu kemudian berkembang menjadi tekad untuk mendidik anak-anak menjadi manusia yang bermartabat.

Remaja putri berambut lurus berkaos putih itu duduk di sudut meja. Di tangannya sebuah pulpen siap digunakan menulis di sebuah buku yang terbuka di hadapannya. Tiga teman lainnya duduk saling berhadapan di meja yang sama. “Hei, kamu tahu ga jawaban nomer lima?” tanya remaja putri berkaos putih itu kepada teman di depannya. Yang ditanya hanya tersenyum tapi dia lalu menghampiri remaja berkaos putih.

Remaja-remaja putri itu adalah penghuni Panti Asuhan dan Asrama St Yulia Surabaya (PAA St Yulia). Ketika HIDUP berkunjung, mereka sedang libur sekolah. Mereka mengisi waktu yang ada dengan belajar bersama dan mengerjakan aneka tugas sekolah. Suasana penuh keakraban terpancar dari para penghuni asrama. Cuaca yang cukup panas seperti disejukkan berkat persaudaraan dan persahabatan di antara mereka.

Niat Baik
Sr Maria Silvestra SPM kepala PAA St Yulia menuturkan, sejarah awal PAA St Yulia dimulai oleh orang Belanda yang dikenal dengan nama Ibu Boers yang tergerak membantu sesama pada 1862. Berangkat dari keinginan itu, Ibu Boers kemudian mewujudkan sebuah rumah untuk menampung anak yatim piatu yang diberi nama Hulpfons V.D.H. Vincentius. Ketika pelayanan semakin berkembang, pada 1926 suster-suster Ursulin mengambil alih pengelolaan dan mengubah namanya menjadi Panti Asuhan Santa Ursula.

Pengelolaan asrama ini kemudian diserahkan kepada Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria (SPM). “Suster-suster SPM mengambil alih pengelolaan panti asuhan sejak 15 Juli 1950,” ujar Sr Silvestra. Sejak itu nama panti asuhan pun diubah menjadi Panti Asuhan St Yulia. Peristiwa ini akhirnya dikenang sebagai hari lahir PAA St Yulia.

Ketika zaman semakin berkembang, untuk menyesuaikan dengan peraturan perundangan di Indonesia tentang lembaga sosial maka pada 8 Februari 1958 pengelolaan PAA St Yulia kemudian berada di bawah naungan Badan Sosial Suster Perawan Maria.

Sampai saat ini PAA St Yulia telah berusia 65 tahun. Selain menampung anak-anak yang kehilangan kedua atau salah satu orang tuanya, panti asuhan ini juga menerima anak-anak yang masih lengkap kedua orang tuanya. Sehingga lembaga ini kemudian dikenal sebagai Panti Asuhan dan Asrama Santa Yulia.

Hanya anak berjenis kelamin perempuan yang diterima tinggal di PAA St Yulia. Saat ini sebanyak 96 anak hidup bersama di PAA St Yulia berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Anak-anak itu mulai dari usia Taman Kanak-kanak (TK) sampai anak yang sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menjunjung Martabat
Dalam menjalankan misinya PAA St Yulia berusaha mewujudkan pelayanan asrama yang kondusif, inklusif dan berpihak kepada yang miskin. Untuk mewujudkan misi ini para pengelola tentu mengalami berbagai tantangan. Menurut Sr Elline Marie SPM, tantangan dalam menggunakan  gadget atau alat komunikasi. “Anak-anak sering lupa terbesar dalam membina anak-anak adalah soal godaan waktu kalau sudah bermain gadget. Banyak waktu dihabiskan hanya untuk aktif di media sosial,” tutur Sr Elline.

Di PAA St Yulia, setiap program pendampingan mengalir dari spiritualitas SPM yaitu mewujudkan kesamaan martabat manusia yang secitra dengan Allah. Oleh karena itu dalam proses pendampingan tidak hanya ditekankan dalam hal akademik namun juga dilatih dalam keutamaan yang lain. “Dua kali sebulan setiap Minggu kedua dan keempat diadakan kegiatan pembinaan,” tutur Sr Elline. Lewat kegiatan ini anak-anak dilatih mengenal pribadi masing-masing sehingga anak-anak dapat menjadi pribadi yang semakin baik, dewasa dan beriman.

Banyak suka duka dalam menjalankan tugas mendampingi di PAA St Yulia ini. “Kadang merasa capek ketika menghadapi anak-anak yang menjengkelkan,” kata Suster Elline menceritakan. Namun ia menemukan semangat ketika menyadari bahwa melalui karya ini dia mewujudkan spiritualitas dan karisma SPM.

Melampaui Batas
Tinggal di asrama ini tidak saja sebagai pilihan lain selain tinggal di rumah kos. Namun dengan tinggal di tempat ini mereka dapat dididik menjadi anak yang memiliki kelebihan dibandingkan anak pada umumnya. Brigita Wati, anak kelas XII SMA misalnya. Ia mengaku bisa belajar mandiri lebih baik dibandingkan kalau tinggal di rumah bersama keluarganya. “Dengan tinggal di PAA St Yulia, saya bisa berlatih lebih bertanggung jawab,” tutur remaja asal Magelang, Jawa Tengah yang hobi membaca novel ini.

Selain mendidik tanggung jawab, anak-anak PAA St Yulia juga dibina menjadi pribadi dewasa yang berkembang dalam semua aspek kehidupannya. Baik dari segi kepribadian, relasi dengan sesama, dan juga perkembangan dalam kualitas iman. Untuk mencapai tujuan itu, di PAA St Yulia diadakan doa harian bersama pada pagi dan malam. Anak-anak juga terlibat aktif dalam kegiatan Gereja, salah satunya mengisi kor di Gereja Paroki Kelahiran St Perawan Maria, Kepanjen.

Pembinaan iman ini merupakan bagian utama di PAA St Yulia. Trisia Cahyani siswi kelas XI SMA menuturkan, dengan tinggal di asrama ia menjadi lebih rajin berdoa pribadi maupun bersama. “Di sini, saya bisa belajar berdoa pribadi juga berdoa bersama teman-teman,” tutur remaja asal Merauke, Papua ini. Trisia juga terbantu ketika mendapat banyak tugas dari sekolah. Ia bisa belajar bersama dan bertanya kepada teman lain saat menghadapi kesulitan.

Penghuni lain, Monica Grecelya memiliki pendapat lain, anak-anak yang tinggal di asrama cenderung lebih rajin dibanding anak lain di sekolah. “Kadang mereka (teman di Sekolah-Red) menanyakan PR kepada anak asrama,” kata remaja asal Maluku ini. Di PAA St Yulia waktu belajar ditentukan setiap pukul 17.00 sampai 19.00. Waktu belajar yang teratur memungkinkan anak-anak asrama menjadi lebih siap dan terbantu ketika ada tugas atau saat mempersiapkan ujian.

PAA ST Yulia juga membuka ruang seluas-luasnya untuk para penghuni mengembangkan minat dan bakat mereka. Salah satu penghuni yang berasal dari Ambon, Putri Patricia Pattiselanno menceritakan dengan tinggal di asrama selain belajar pelajaran dari sekolah, dia bisa berlatih musik dan olahraga. “Di sini, hobi saya bermain gitar juga bisa tersalurkan,” tutur siswi kelas VIII SMP ini.

Tinggal di asrama tentu menyediakan peluang lebih besar bagi anak anak untuk belajar menjadi anak yang mandiri dan lebih dewasa. Menurut Sr Silvestra, “Setiap kegiatan dan pengaturan jadwal dibuat untuk memfasilitasi anak agar dapat menjadi pribadi yang semakin baik.” Ia menyadari tidak mudah mendampingi anak-anak usia remaja, butuh kesabaran dan kasih sayang ekstra.

Waktu pun berlalu cepat, semilir angin yang masuk melalui celah-celah jendela di ruang tengah PAA St Yulia menyadarkan setiap orang bahwa hari telah beranjak siang. Lirih terdengar bunyi lonceng gereja Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya yang berada tepat di depan PAA St Yulia. Suasana menjadi damai membawa setiap orang seolah merasakan pelukan hangat Sang Pencipta Kehidupan.

Antonius E. Sugiyanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*