Artikel Terbaru

Tragedi Asep Tebel

Tragedi Asep Tebel
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dikisahkan akibat kabut asap kebakaran hutan di Sumatera beberapa bulan terakhir ini, pemerintah Malaysia dan Singapura melaporkan pemerintah Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah menerima laporan tersebut, utusan khusus PBB datang melakukan investigasi ke Malaysia dan Singapura. Mereka bertanya ke warga, “Anda terganggu dengan kualitas udara sekarang?” Si warga yang orang Melayu menjawab, “Betul, asep tebel!”

Utusan PBB itu melanjutkan investigasi ke Singapura. Mereka mengajukan pertanyaan yang sama ke warga. Jawaban yang diperoleh pun sama, “Ya, asep tebel!” Setelah melihat kondisi asap dan wawancara penduduk, utusan PBB menyampaikan laporan bahwa asap dari Indonesia ternyata tidak masalah dan bisa diterima, karena sebagian besar warga Malaysia dan Singapura berkata, “Acceptable!”

Ya, itu cuma sebuah joke. Kini, asap memang tengah mengepung sebagian wilayah Indonesia, terutama Sumatera dan Kalimantan. Bahkan, di Jambi sudah satu bulan, anak-anak sekolah dasar diliburkan untuk menghindari penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Masalah asap selama beberapa bulan ini bukan hanya mengganggu lalu lintas pengendara di jalan raya, tapi juga telah menunda ratusan jadwal penerbangan antarkota.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan kerugian ekonomi akibat bencana kabut asap yang terjadi di beberapa propinsi di Indonesia selama beberapa bulan sepanjang 2015 ini ditaksir lebih dari Rp 20 trilyun. Kerugian ekonomi ini belum memasukkan elemen kerugian dari sisi pengeluaran atau dampak kesehatan, keanekaragaman hayati yang hilang, atau perhitungan emisi gas rumah kaca. Biaya yang dikeluarkan BNPB sebagai usaha memadamkan lahan dan hutan yang terbakar telah mencapai Rp 385 milyar.

Dari sisi politik, banyak pengamat berpendapat bahwa kebakaran hutan yang dialami beberapa periode presiden ini menggambarkan ketakmampuan pemerintah Indonesia mengatasi kebakaran yang bersifat akut dan berulang setiap tahun. Hal ini juga menggambarkan bahwa pemerintah Indonesia tak cukup berwibawa di mata perusahaan atau kelompok masyarakat yang memiliki andil dalam kebakaran hutan. Dari hasil pencitraan satelit tampak jelas bahwa titik-titik api yang bermunculan dan menimbulkan masalah asap berada di wilayah perkebunan perusahaan besar.

Presiden telah menengok lokasi kebakaran secara langsung. Tapi yang muncul adalah kesan sekadar seremonial belaka, karena kebakaran kian menghebat setelah presiden kembali ke Jakarta. Rakyat negara tetangga Indonesia, terutama Singapura dan Malaysia melalui cara masing-masing telah memprotes dampak asap yang menyerbu negeri mereka melalui berbagai aksi protes maupun tampilan mengejek di media sosial. Bencana asap yang berulang setiap tahun selama hampir dua dekade terakhir ini telah membuat orang melihat sebagai fenomena biasa. Padahal ini adalah hal yang luar biasa, di balik tragedi asap terjadi bencana penyakit, kerugian ekonomi, dan kerusakan alam. Orang Katolik seharusnya mencoba melihat bencana asap ini secara lebih serius dan berkontemplasi lebih jauh.

Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Centtesimus Annus menulis bahwa kewajiban negara membela dan melindungi harta milik umum, misal alam dan lingkungan manusiawi. Dalam alinea keempat Mukadimah UUD 1945 juga dinyatakan bahwa cita-cita kemerdekaan tak lain adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Mengatasi tragedi asap, bukan sekadar mengatasi fenomena ikutan yang muncul setiap musim kemarau, tapi adalah sebuah langkah penegakan hukum dan penyelamatan lingkungan dan tanah air tempat bangsa ini hidup. Sebuah hal yang bukan hanya membutuhkan tekad dan sikap keberanian untuk bertindak, menggerakkan orang, mengerahkan kekuatan, tapi juga membutuhkan legitimasi moral disertai rasa keimanan. Sebuah hal yang belakangan kerap dilupakan bangsa ini.

Stanley Adi Prasetyo

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*