Artikel Terbaru

Orang Muda

Orang Muda
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Aneka persoalan kerap ditempelkan dalam pundak orang muda; narkoba, minuman keras, seks bebas, tindak kekerasan, dan yang lain. Orang muda juga sering dianggap sedang mengalami kekeringan moral dan tak memiliki harapan. Namun, di pundak merekalah masa depan diberikan. Realita ini dengan berbagai perubahannya telah membawa orang muda berada di persimpangan. Mereka mengalami situasi ketidakpastian masa kini dan masa depan. Mereka cemas dan bingung.

Tapi, orang muda tidaklah melulu berisi persoalan. Mereka juga bagian dari solusi. Merekalah pembawa sukacita dalam menghayati diri sebagai pengikut Kristus. “Di mana pun, yang memperbarui itu selalu generasi muda,” ucap Romo Y.B. Mangunwijaya suatu hari.

Pengalaman menjadi syarat penting untuk masuk dalam Asian Youth Day (AYD) 2017. Orang muda Katolik dari berbagai negara Asia berkumpul di Yogyakarta, akhir Juli hingga awal Agustus ini. Mereka tentu membawa rupa-rupa pengalaman hidup yang berbeda. Mereka juga berasal dari latar belakang budaya, pendidikan, sosial yang majemuk. Justru karena mereka berbeda, mereka berkumpul, mereka berdialog.

Pengalaman perjumpaan dan dialog pasti akan memperkaya satu dengan yang lain. Orang muda Asia pun terpanggil untuk mendialogkan perbedaan. Ini seperti Gereja di Asia yang dipanggil untuk berdialog dengan kemajemukan budaya, beragam agama, dan aneka bentuk kemiskinan. Lagi-lagi, pengalaman bersua dengan perbedaan diharapkan bisa mengubah cara berpikir, berucap, dan bertindak. Maka, mendialogkan pengalaman tentu akan semakin meneguhkan para peserta AYD. Tapi sebaliknya, orang muda yang tak mau mendialogkan pengalamannya, pasti tidak akan membawa apa pun selepas AYD. Pengalaman yang dimaksud di sini adalah hidup itu sendiri. Hidup yang berubah dan diwarnai dengan pertobatan terus-menerus inilah yang akan membarui diri dan dunia.

Pertemuan orang muda Katolik, seperti World Youth Day (WYD), Asian Youth Day, atau Indonesia Youth Day identik dengan salib. Paus Yohanes Paulus II yang memprakarsai WYD, pernah menghadiahkan salib kepada semua orang muda Katolik seluruh dunia. “Salib Kristus! Bawalah ke seluruh dunia sebagai simbol kasih Kristus bagi umat manusia, dan wartakan… hanya dalam kematian dan kebangkitan-Nya dapat kita temukan keselamatan dan penebusan.”

Salib simbol derita telah diubah-Nya menjadi lambang kasih, kehidupan baru, harapan, dan keselamatan. Lewat salib, Yesus memanggil setiap orang muda untuk meleburkan diri bersama derita orang miskin, mereka yang sakit akibat narkoba, orang-orang kelaparan, dan korban tindak kekerasan. Salib juga membawa orang muda untuk berani mendialogkan segala perbedaan; agama, ras, suku, dan golongan.

Yesus mengajak orang muda untuk turut memanggul salib. Salib yang merentangkan kasih persaudaraan bagi mereka yang menderita, menjangkau mereka yang butuh pertolongan, dan merangkul setiap perbedaan. Maka, janganlah takut, genggamlah salib Kristus, karena Dia akan selalu beserta kita memanggul salib.

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*