Artikel Terbaru

Beragam Aktivitas Menarik Umat Paroki Ekspatriat St Peter Canisius

Romo Benedictus Bambang Triatmoko SJ dengan para peserta Youth Fellowship.
[Dok. Paroki Expat St Peter Canisius]
Beragam Aktivitas Menarik Umat Paroki Ekspatriat St Peter Canisius
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beragam kegiatan digelar oleh Paroki Ekspatriat untuk memupuk kebersamaan dan tumbuh kembang iman umat. Pastoral mereka berfokus pada pembinaan iman kaum muda.

Setiap tahun, Paroki Ekspatriat St Peter Canisius mengadakan dua kegiatan pembinaan remaja. Usia mereka berkisar antara 13-16 tahun. Pembinaan ini sudah menjadi agenda khusus tahunan paroki ini.

Kegiatan pembinaan remaja Ekspatriat yang pertama adalah community service. Anak-anak diajak berpelayanan sosial dengan mengadakan kunjungan ke Rusun Marunda. Mereka berbaur dan bergaul dengan anak-anak pemulung atau mengunjungi panti asuhan anak-anak difabel.

Sedangkan kegiatan kedua adalah retret kaum muda. Kegiatan untuk kaum muda ini diselenggarakan oleh para pengasuh Youth Fellowship atau Komunitas Kaum Muda Paroki Ekspatriat, yang melayani secara sukarela.

Youth Fellowship
Baru baru ini, Sabtu-Minggu, 10-11/6, para pengasuh Youth Fellowship Paroki Ekspatriat menggelar retret pembinaan remaja Ekspatriat bertajuk “Breakthrough”. Retret yang diselenggarakan di daerah Sentul, Bogor ini diikuti 43 peserta. Mereka disuguhi tema-tema relevan seputar anak muda yang dikemas dengan menarik dan terarah. Tujuannya, peserta mampu mengenali dan mengembangkan pribadinya secara integral. Hari pertama retret, para peserta diarahkan untuk mendalami tentang pengolahan diri. Diangkat topik-topik seperti “Finding Your Purpose”, “You’ve Got A Friend”, dan “Boy Meets Girl”.

Sementara pada hari kedua, para remaja ini diajak masuk lebih dalam melalui refleksi atas tema “Family Matters”. Dalam topik ini, mereka dituntun untuk menemukan “Bahasa Cinta” atas apa yang mereka temukan dan harapkan dari orangtua. Mereka merefleksikan kata-kata afirmasi, sentuhan fisik, pemberian hadiah, waktu yang berkualitas dengan orangtua, bahkan aneka bentuk pelayanan yang kerapkali sulit dideskripsikan, tapi dapat dirasakan.

Dinamika retret ini diikuti oleh para peserta dengan setia. Para pengasuh Youth Fellowship pun melibatkan orangtua para peserta untuk hadir mengikuti sesi “Bahasa Cinta”. Para orangtua ini juga diminta untuk melakukan hal yang sama seperti yang dikerjakan oleh anak-anak mereka selama retret. Mereka diajak untuk menemukan “Bahasa Cinta” dalam diri anak-anak mereka sehingga terjalin relasi timbal balik yang berkualitas antara orangtua dan anak-anak.

Pada penghujung retret, para peserta dipertemukan dengan orangtua mereka masing masing untuk saling berbagi pengalaman selama retret. Mereka saling mengisahkan buah-buah temuan dari “Bahasa Cinta” di dalam keluarga mereka. Di sinilah kualitas relasi antara orangtua dan anak bertumbuh. Setiap anggota keluarga mengutarakan harapan mereka secara tulus dan jujur tentang arti “Bahasa Cinta” yang mereka idam-idamkan.

Kepala Paroki Ekspatriat, Romo Benedictus Bambang Triatmoko SJ menjelaskan, momen bertemunya orangtua dan anak dalam balutan iman adalah momen spesial dalam keluarga mereka. Suasana penuh canda bisa tiba-tiba berubah menjadi saat-saat yang mengharukan. Mereka, lanjut Romo Moko, saling mengenali kembali bagaimana mereka mengungkapkan cinta satu sama lain di dalam keluarga. Inilah momen penuh rahmat.

Proses Inisiasi
Selain Youth Fellowship, tiap tahun Paroki Ekspatriat juga menawarkan banyak kegiatan bagi umat, yang berdasarkan kategori usia. Misal, Couple For Christ (CFC), Prayer Group, Bible Study, The Confraternity of Christian Doctrine (CCD), dll. Tiap kegiatan punya kekhasannya masing-masing. Dalam CFC misalnya, ada lima jenis pelayanan yang dikelompok berdasarkan kategori usia, yakni Kids for Christ, Youth for Christ, Single for Christ, Handmaids of the Lord (HOLD), dan Servants of the Lord (SOLD). Pelayanan Kids for Christ menjangkau anak-anak usia empat hingga 12 tahun. Sedangkan Youth for Christ memberi pelayanan katekese dan evengelisasi bagi remaja usia 13-21 tahun. Kegiatan ini secara proaktif masuk dalam setiap komunitas, kampus, dan sekolah yang dilayani oleh Paroki Ekspatriat.

Romo Moko menjelaskan, CCD merupakan agenda tahunan Paroki Ekspatriat. Di dalamnya terdapat Rite of Christian Initiation of Adults (RCIA). RCIA adalah proses bagaimana orang dewasa diinisiasi ke dalam Gereja Katolik melalui pembaptisan. Keputusan untuk menerima Sakramen Baptis dan masuk menjadi anggota Gereja Katolik, harus menjadi kehendak bebas setiap calon. Maka, menyelesaikan tahap-tahap dan proses inisiasi juga harus tanpa paksaan. Gereja tak pernah memaksa, karena sebuah paksaan adalah kesalahan fatal. Keputusan-keputusan dalam proses itu tak bisa dimanipulasi. “Terlepas dari usia atau keadaan seseorang, Gereja bertugas untuk memastikan bahwa setiap individu memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Hukum Kanonik, serta secara terbuka menunjukkan keinginan, kesiapan, dan pemahaman akan Injil dan menjadi anggota Gereja Katolik,” ujar Jesuit kelahiran 8 Februari 1965 ini.

Dalam RCIA di Paroki Ekspatriat, ada empat tahapan yang harus dilalui. Setiap tahap mengandung pengalaman rohani yang ingin ditanamkan. Pertama, penyelidikan. “Dalam tahap ini, kita diajak untuk mengenal siapa Tuhan melalui cerita, baik perjalanan hidup para calon sendiri maupun kisah-kisah dalam Alkitab,” jelas pastor yang ditahbiskan imam pada 29 Juli 1994 ini.

Kedua, katekumenat. Fase ini merupakan “magang” dalam proses pemuridan Katolik. Selain melalui pengajaran formal dalam doktrin dan kepercayaan iman, Tahap ini diperkaya dengan pengalaman dalam liturgi, pelayanan, dan model hidup komunitas paroki. Ketiga, kemurnian dan pencerahan. Setiap kandidat harus berusaha memurnikan motivasi untuk mengkuti Kristus secara penuh. Mereka juga dibimbing agar mengenali keterikatan atas dosa yang dapat mengganggu, bahkan merusak hubungan dengan Kristus. Keempat, mistagogi. Tahap ini, kata Romo Moko, berlaku bagi semua orang yang sudah dibaptis. Mereka terus melanjutkan fase ini karena masih merenungkan kisah Kristus dan masih mengalami pertobatan dari inisiasi iman. Masa mistagogi mirip dengan kisah perjalanan dua murid menuju Emmaus. Dua murid itu sangat gembira dan penuh dengan keajaiban saat menceritakan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, yang tidak mereka kenali sebagai Kristus yang mereka ajak bicara, hingga mata mereka tebuka saat pemecahan roti.

Romo Moko menambahkan, RCIA menjadi proses penegasan dan persiapan, bukan rangkaian ceramah pendidikan orang dewasa. RCIA juga bukan katekismus bagi umat Katolik yang ingin menyegarkan pengetahuan mereka tentang iman.

Selain itu, kelas CCD untuk Komuni Pertama mewajibkan para calon penerima Komuni Pertama mengikuti 50 kali pertemuan, yang diadakan seminggu sekali. “Kami bersyukur, pelayanan yang kami berikan melalui RCIA ini sekurangnya ada seratus orang yang mengikuti jalan yang telah dipilih oleh Kristus,” ungkap Romo Moko.

Di samping aneka kegiatan itu, Dewan Paroki Ekspatriat juga menggelar rapat tiap bulan sekali. “Dalam rapat dewan, kita memastikan dan mengusulkan apa saja yang memang perlu dipersiapkan untuk pelayanan di Paroki Ekspatriat.”

Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*