Artikel Terbaru

Oasis Bagi Umat Ekspatriat Mendapatkan Pelayanan Pastoral

Perayaan Ekaristi di Paroki Ekspatriat Jakarta.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Oasis Bagi Umat Ekspatriat Mendapatkan Pelayanan Pastoral
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Berbagai upaya dibuat Gereja untuk merengkuh umat ekspatriat. Reksa pastoral ini menjadi tanda bahwa Gereja terbuka melayani umat dari seluruh bangsa.

Pelayanan umat ekspatriat di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) telah dimulai sejak medio 1963-1964. Kala itu, Romo Joannes Burgers SJ yang berkarya sebagai guru di Kolese Kanisius Menteng, Jakarta Pusat, memulai pelayanan liturgi berbahasa Inggris. Pada saat bersamaan, tepatnya 4 Desember 1963, Paus Paulus VI menerbitkan Dokumen Sacrosanctum Concilium.

Dokumen ini menekankan pentingnya partisipasi yang lebih besar dari kaum awam dalam liturgi. Pasca dokumen ini terbit, Gereja memperbolehkan dan menganjurkan penggunaan bahasa asli (vernakular) yang lebih banyak, di samping bahasa Latin, terutama untuk pembacaan Alkitab dan doa lainnya. Hal ini kian memantik semangat Romo Burgers untuk menyusun buku Misa berbahasa Inggris, serta melayani umat ekspatriat di Jakarta.

Tiga tahun berselang, Romo Burgers mendapat perutusan baru di Paroki St Yohanes Penginjil Blok B, Jakarta Selatan. Meski demikian, ia terus melayani umat ekspatriat. Ia kembali ke Belanda pada 1969. Karya pelayanan umat ekspatriat dialihtugaskan kepada Romo Laurentius van der Werf SJ. Sementara Romo Mark Fortner SCJ juga ikut membantu dengan melayani komunitas umat ekspatriat di Gereja St Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan.

Pelayanan umat ekspatriat terus berkembang. Pada 1980-an, Romo Robert R. Lefebvre MM mulai mengoordinasi pelayanan ini dengan basis Kapel St Petrus Kanisius Menteng. Bahkan, Romo Lefebvre mendaftarkan baptisan pertama dalam buku baptis pada 15 Juni 1981. Romo Bob Baines MM menggantikan peran Romo Lefebvre, setelah tiga tahun berselang.

Sepuluh tahun kemudian, KAJ secara resmi menugaskan pelayanan untuk umat ekspatriat kepada Serikat Yesus, dengan Rm Fredericus de van der Schueren SJ sebagai kepala paroki. Tonggak sejarah ini menjadi jalan terbentuknya St Peter Canisius International Catholic Parish atau Paroki Ekspatriat Jakarta. Perkembangan ini menjadi bukti bahwa Gereja KAJ membuka tangan lebar bagi pelayanan umat ekspatriat.

Pelayanan liturgi Paroki Ekspatriat sempat berpindah beberapa kali. Ketika Kolese Kanisius direnovasi, pelayanan dipindahkan ke Kapel di kompleks Unika Atma Jaya Jakarta. Baru tahun 2003, pelayanan liturgi dilaksanakan di Gereja St Theresia Menteng hingga kini.

Pada 2000, Romo Siegfried Bintzler Bintarto SJ menggantikan peran Rm Schueren. Ia membentuk Dewan Paroki untuk membantu mengelola pelayanan umat. Empat tahun kemudian, Romo Nicolaus Dumais SJ menggantikan Romo Bintzler, sementara Romo Ignatius Loyola Madya Utama SJ diutus sebagai pastor rekan.

Empat tahun silam, Romo Benedictus Bambang Triatmoko SJ diutus menjadi Kepala Paroki Ekspatriat. Ia dibantu pastor rekan, Romo Thomas Hidya Tjaya SJ. Pelayanan umat ekspatriat juga melibatkan beberapa imam dari tarekat lain, seperti Romo Carolus Veeger MSC, Romo Jose Cobb CICM, Romo Robert Suykens CICM, Romo Sylvester Asa CICM, Romo Chito A. Padilla SDB, dan Romo John Mangkey MSC. Dalam perkembangannya, dinamika umat di Paroki Ekspatriat mewujud dalam aneka bentuk komunitas kategorial, seperti kelompok doa Genesis, Santa Monica, Singles for Christ, Couples for Christ, Youth Fellowship, kelompok paduan suara, dan yang lain.

Demografi Umat
Selama kurun waktu 17 tahun terakhir, Paroki Ekspatriat telah melakukan beberapa kali sensus umat; 2002, 2004, dan 2010. Hasil sensus terakhir mencatat bahwa Paroki ini memiliki umat kurang lebih 1.500 orang. Dari data yang telah diolah, ditemukan sebanyak 791 umat tinggal di daerah Jakarta Selatan; 263 umat tinggal di kawasan Jakarta Pusat; 230 umat di Jakarta Barat; 87 umat di Jakarta Utara; 37 umat tinggal di Jakarta Timur; sementara sisanya tinggal di luar Jakarta. Perlu dicatat bahwa tidak semua umat yang datang dalam pelayanan liturgi di Paroki Ekspatriat ikut mengisi formulir sensus tersebut.

Padahal, jika melihat perayaan Ekaristi di Paroki Ekspatriat, jumlah umat yang hadir mencapai 3.000 orang; sekitar 1.100 orang pada hari Sabtu dan 1.250 orang pada hari Minggu; sementara sekitar 400 orang hadir dalam perayaan Ekaristi di Kapel Kanisius. Sampai 2016, Paroki Ekspatriat telah mencatatkan dan mendaftarkan 1.385 Sakramen Baptis, 2.263 Komuni Pertama, 1.321 Sakramen Krisma, dan 329 Sakramen Perkawinan.

Dari data tersebut juga terlihat adanya pergeseran negara asal umat. Pada masa-masa sebelumnya, umat yang berasal dari Amerika dan Eropa begitu dominan. Tapi kini, jumlah mereka kian berkurang. Sementara umat dari Asia dan Afrika terus meningkat, misal dari Filipina, Singapura, India, Malaysia, Srilanka, Nigeria, Sudan, dan yang lain.

Jumlah umat dari Indonesia yang bergabung dalam pelayanan liturgi dan pastoral di Paroki Ekspatriat pun melonjak tajam. Pada 2002, jumlah umat dari Indonesia hanya 303 umat, sementara pada 2010, menjadi 748 umat. Ada beragam alasan mereka memilih bergabung dalam komunitas Paroki Ekspatriat, misal karena pengalaman tinggal di luar negeri yang cukup lama atau pasangannya berasal dari negara lain.

Sejak 2014, pelayanan Sakramen Ekaristi di Paroki Ekspatriat berlangsung pada Sabtu pukul 15:30 dan Minggu pukul 15:00 di Gereja St Theresia Menteng. Sementara di Kapel Kanisius, Misa berlangsung setiap Minggu pukul 18:00.

Pelayanan umat ekspatriat tak hanya menjadi reksa pastoral KAJ. Di beberapa keuskupan lain juga memiliki reksa pastoral bagi umat ekspatriat. Di Keuskupan Surabaya, pelayanan umat ekspatriat digelar di Paroki Redemptor Mundi Surabaya dan Paroki St Aloysius Gonzaga Surabaya. Keuskupan Denpasar melayani umat ekspatriat di Gereja Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua, Bali. Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Agung Medan pun memiliki reksa pastoral bagi umat ekspatriat.

Y. Prayogo

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*