Artikel Terbaru

Tempat Bagi Umat Berbagai Bangsa Berkeluh Kesah dan Beribadah

Kebersamaan beberapa umat Paroki Ekspatriat saat membicarakan masalah iman bersama Romo B. Bambang Triatmoko SJ.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Tempat Bagi Umat Berbagai Bangsa Berkeluh Kesah dan Beribadah
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Melalui Paroki Ekspatriat, Keuskupan Agung Jakarta membuka Gereja bagi mereka yang menyandang status warga negara asing untuk terlibat dalam perayaan Ekaristi.

Paroki Kategorial St Petrus Canisius International atau yang dikenal dengan Paroki Ekspatriat berbahasa Inggris pada awalnya adalah komunitas orang-orang asing yang bekerja di Jakarta. Mereka kebanyakan adalah pekerja di perusahaan-perusahaan asing asal Amerika dan Eropa. Komunitas ini dilayani imam-imam misionaris asing dari Belanda maupun Amerika.

Seiring dengan perjalanan waktu, karena krisis ekonomi global dan reformasi politik Indonesia tahun 1998, jumlah pekerja asing dari Eropa dan Amerika berkurang. Mereka digantikan pekerja asing dari Asia, terutama Filipina dan India yang kebanyakan bekerja di bidang pendidikan, finansial, pertambangan, dan perkebunan. Menjamurnya sekolah-sekolah internasional di Jakarta juga menjadi faktor bertambahnya guru-guru berbahasa Inggris dari negara-negara Asia.

Kemudian muncul gelombang pendatang dari negara-negara Afrika, seperti Nigeria, Kamerun, Etiopia, dan yang lain. Mereka adalah pedagang yang berbelanja barang dagangan, terutama pakaian di Pasar Tanah Abang, Jakarta, untuk dijual kembali di negara asal mereka. Sebagian dari mereka berstatus pengungsi dan pencari suaka.

Pemakaian nama resmi St Peter Canisius International Catholic Parish mencerminkan pergeseran demografis komunitas Paroki Ekspatriat. Umat yang awalnya pekerja-pekerja asing Eropa dan Amerika, menjadi komunitas yang lebih internasional. Di dalamnya bahkan meliputi orang-orang Indonesia yang menikah campur dengan warga negara asing atau orang Indonesia yang lama tinggal di luar negeri. Selain itu, mereka yang bersekolah di sekolah-sekolah internasional berbahasa Inggris. Jumlah umat yang dilayani secara regular kurang lebih 2.500, berasal dari 40 negara.

Paroki Ekspatriat ditunjuk resmi oleh Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) untuk melayani reksa pastoral komunitas international ini. Reksa pastoral ini meliputi perayaaan liturgi berbahasa Inggris dan juga Confraternity of Christian Doctrine (CCD) atau pendidikan komuni pertama dan Sakramen Krisma untuk anak-anak dari lebih dari 10 sekolah internasional. Selain itu, ada Rite of Christian Initiation of Adult (RCIA) atau katekese untuk orang dewasa, serta pelayanan sakramen lainnya, seperti Sakramen Perkawinan, dan yang lain.

Secara yuridis teritorial, Paroki Ekspatriat melekat ke Paroki St Theresia Menteng, Jakarta. Hal ini berdasarkan nota kesepakatan, karena Paroki Ekspatriat belum memiliki gedung gereja sendiri.

Semangat yang mau dibangun adalah semangat hospitalitas atau persaudaraan dari umat berbagai budaya dan negara. Hospitalitas lebih dari hanya sekadar mengucapkan selamat datang dengan keramahan. Hospitalitas adalah suatu sikap hati yang membuka diri terhadap orang lain dan menerima mereka menurut tata cara keberadaan mereka. Henri Nouwen mengatakan, hospitalitas pada dasarnya menciptakan ruang bebas, di mana si orang asing dapat masuk dan menjadi teman, bukan musuh.

Hospitalitas tidak mengubah orang, tetapi menawarkan kepada mereka ruang di mana perubahan dapat terjadi. Hospitalitas bukanlah suatu cara halus untuk mengundang supaya orang menyesuaikan diri dengan gaya hidup kita, akan tetapi memberi kesempatan bagi si tamu untuk menemukan gaya hidupnya sendiri.

Satu Komunitas
Apabila seseorang pernah tinggal di luar tanah airnya atau di tempat yang berbudaya asing, orang tersebut akan merasakan betapa berharganya berada di dalam suatu komunitas yang menerima dia apa adanya. Komunitas yang memberi kesempatan mengungkapkan hal terdalam di hidupnya seperti iman, melalui ungkapan yang bermakna baginya. Liturgi berbahasa Inggris yang dipersiapkan secara baik, menjadi oase spiritual bagi mereka yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Seperti orang Jawa misalnya, akan merasa tersentuh apabila berdoa dan mengungkapkan imannya lewat bahasa Jawa.

Oleh karena umat Paroki Ekspatriat ini tersebar di seluruh KAJ, maka penting bagi mereka, terutama untuk kaum remaja dan kaum muda, untuk merasa bahwa mereka adalah bagian dari satu komunitas. Dengan begitu, mereka tidak merasa sendirian di tengah kota metropolitan Jakarta. Dengan adanya pelayanan pastoral Paroki Ekspatriat mereka bisa disatukan melalui program-program pembinaan, seperti youth fellowship, rekoleksi dan retret, bible study, kelompok-kelompok doa, dan sebagainya.

Globalisasi dan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), lalu lintas pekerja asing dari Asia menjadi meningkat. Kebanyakan dari mereka datang dari kelas menengah ke bawah, yang mencari peluang pekerjaan yang lebih baik. Persaingan juga bertambah keras dan tajam. Tidak mengherankan, banyak dari mereka yang datang untuk pendampingan pastoral untuk alasan pekerjaan, hubungan dengan keluarga yang ditinggal, atau kesulitan untuk beradaptasi.

Tantangan
Dari gambaran pergeseran demografis, komunitas Paroki Ekspatriat bukan lagi kelompok orang-orang asing berkantong tebal. Memang benar, masih bisa ditemukan duta besar atau atase kedutaan berbagai negara hadir dalam Misa, akan tetapi jumlah mereka amatlah sedikit. Kebanyakan umat adalah para guru di sekolah internasional dan para pekerja kelompok kelas menengah. Namun, persepsi dari banyak orang masih tidak berubah. Oleh karena itu, umat banyak mengeluh karena terus-menerus dimintai sumbangan untuk ini dan itu dari pihak luar.

Masalah keamanan menjadi faktor kritikal dalam penyelenggaraan Misa dan perayaan liturgi lainnya. Banyak pejabat penting kedutaan hadir dalam perayaan Ekaristi. Umat juga sensitif terhadap potensi-potensi kerusuhan dan gangguan keamanan atas dasar suku, agama, dan ras.

Tantangan lain yang besar adalah masalah-masalah internasional, seperti pengungsi, perdagangan manusia, narkoba, dan masalah-masalah lain yang melibatkan secara langsung maupun tidak langsung umat Paroki Ekspatriat. Masalah-masalah ini berpotensi menimbulkan perpecahan, kecurigaan antaranggota kelompok umat dari negara-negara tertentu misalnya.

Ke depan, Paroki Kategorial Ekspatriat ini diharapkan bisa memiliki badan hukum sendiri, sehingga bisa membangun basis teritorial yang lebih permanen sebagai pusat pelayanan pastoral. Sedangkan Misa berbahasa Inggris bisa diadakan dalam kerjasama dengan paroki-paroki di KAJ yang memiliki konsentrasi umat berbahasa Inggris. Basis teritorial tersebut diharapkan bisa juga melayani kebutuhan tempat bagi umat berbahasa internasional lain, seperti Spanyol, Jerman, Mandarin, atau Italia. Paroki Ekspatriat diharapkan menjadi paroki berbasis online, untuk membangun kesatuan antarumat dan sebagai sarana pendampingan pribadi bagi keluarga maupun individu.

Romo B. Bambang Triatmoko SJ
Kepala Paroki Kategorial St Petrus Canisius International

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*