Artikel Terbaru

Tuhan Selalu Menggendong Saya

Vincentius Tjahjono Santoso.
[NN/Dok.Pribadi]
Tuhan Selalu Menggendong Saya
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Sejak sang ayah meninggal, dunia Vincent berubah total. Berbagai peristiwa tak mengenakan menghampirinya. Ternyata, kejadian itu justru membuka mata hatinya.

Soal mengembangkan bisnis konveksi, Vincentius Tjahjono Santoso selalu bertolak belakang dengan ayahnya. Vincent menginginkan agar orangtuanya tak hanya mengandalkan pesanan jahit dari pelanggan lama. Ia ingin, orangtua atau karyawan di sana punya cara lain untuk menjaring konsumen baru.

Ayahnya tak setuju dengan saran anak keduanya itu. Ia tetap menerapkan cara konvensional, menunggu dan mengerjakan permintaan konsumen. Sebab, kata ayahnya, seperti dikutip Vincent, cara itu sudah terbukti ampuh. Usaha yang ia rintis mulai dari bawah itu bisa berkembang dan bertahan hingga kini. Lagi pula, konveksi mereka tak pernah sepi pelanggan.

Perbedaan pendapat itu membuat alumnus SMA Kolese Loyola Semarang, Jawa Tengah, enggan mengurus konveksi milik keluarga. Padahal, ayahnya menaruh harapan besar kepada Vincent. Kelak putranya itulah yang bakal melanjutkan warisan ini. Vincent menolak. Begitu lulus dari Teknik Sipil Universitas Parahyangan Bandung, ia bekerja di perusahaan properti. Prospek karier dan masa depan Vincent di sana segera cerah, hingga satu kejadian merubah dan mengubur seluruh impiannya.

Direktur Perusahaan
Kemampuan marketing Vincent sudah tampak sejak belia. Talenta itu terasa ketika ia berkali-kali mendesak ayahnya untuk segera menerapkan cara-cara inovatif demi menggaet pelanggan baru dan kian melebarkan bisnis konveksi keluarga. Sayang, saran itu mentok di prinsip ayahnya yang masih berbaiat pada cara lama.

Talenta marketing Vincent teruji ketika terjun di perusahaan properti milik teman ayahnya. Vincent, kendati berada di divisi konstruksi sebagai pengawas lapangan, ternyata sanggup memikat banyak hati pelanggan untuk membeli properti di perusahaan itu. Bahkan, jumlah dan nilai penjualan properti Vincent jauh melebihi staf marketing perusahaannya.

Berkat prestasi itu, Vincent meraup bonus dengan nominal fantastis di tabungannya. “Saya kaget ketika akhir bulan ingin mengecek gaji, ternyata uang di tabungan saya jumlahnya berlipat ganda dari biasa,” ungkap Vincent seraya tersenyum.

Rupanya, bukan hanya bonus uang yang Vincent terima. Pemilik perusahaan properti itu juga mendapuk Vincent sebagai direktur di sana. Sungguh kebahagiaan tak terkatakan baginya. Pada usia yang masih tergolong muda saat itu, belum lama bergabung, tetiba kariernya sudah meroket.

Vincent segera membagikan kabar sukacita itu kepada orangtuanya. Keluarga Vincent amat gembira dengan kepercayaan yang diberikan perusahaan kepada putra mereka. Tentu hal itu juga membuat batin orangtua Vincent tenang, sebab putranya bisa ikut menopang tiang ekonomi keluarga. Tapi kebahagiaan keluarga Vincet ibarat embun di atas permukaan daun kala pagi hari, cuma sesaat.

Belum lama tiba di kantor, Vincent yang pada saat itu baru pertama kali merasakan kursi direktur yang empuk, tetiba mendapat kabar muram dari adiknya. Sang ayah, dilarikan ke rumah sakit. Vincent pun segera meluncur ke rumah sakit. Begitu ia menginjakkan kaki di rumah sakit yang berkelir putih, ayahnya telah tiada.

Vincent kaget bukan kepalang. Sebab sepengetahuan Vincent, ayahnya dalam kondisi bugar. Karena itu, ayahnya ikut lomba senam aerobik. Serangan jantung membuatnya roboh, usai senam. Padahal ayahnya menjuarai lomba itu.

Melanjutkan Usaha
Kepergiaan sang ayah, meninggalkan usaha konveksi dengan sekitar 40 karyawan. Ia juga memiliki dua adik yang masih memerlukan banyak biaya untuk pendidikan. Sebagai putra pertama, tak ada pilihan lain, Vincent memikul seluruh tanggung jawab itu. Ia meninggalkan pekerjaannya, lantas melanjutkan usaha sang ayah.

Jujur, ia mengaku tak sreg dengan profesi baru itu. Baginya mengelola usaha jahit bukan suatu pencapaian prestisius bagi anak muda sepertinya. Ia kian terpukul ketika membayangkan posisi terakhir di perusahaan dulu. Kini, masa depan dan keluarganya tak menentu, karena hanya mengandalkan pesanan pelanggan.

Seandainya sang ayah tak meninggal, ia yakin bakal meraup nikmat atas prestasinya, posisi dan uang adalah dua hal yang sudah pasti. “Mengapa Tuhan merampas semua mimpi saya?” tuduh pria kelahiran Semarang, 17 Juni 1968 ini, mengenang.

Vincent melimpahkan semua kekesalan kepada Tuhan. Ia yakin, Dialah dalang semua peristiwa yang menyesakan itu. “Saya bilang begini, ‘Tuhan, Kamu tidak adil. Saya sudah berusaha, saya juga tidak pernah berbuat curang. Kamu kurang ajar. Kalau disuruh begini, kenapa kemarin saya ditawari jadi direktur, apa salah saya?’”, cecar Vincent kala itu.

Menerima keadaan adalah jalan terbaik bagi Vincent. Ia yakin, jika kemarahan dan ketaksediaan menanggung kejadian, bakal gila. Ia harus terus memutar roda konveksi, sebab di belakang usaha ini bergantung nasib kedua adiknya, serta puluhan keluarga karyawan. Ia lamat-lamat mulai menerima tanggung jawab baru itu.

Proses adaptasi tak selalu berjalan mulus. Vincent yang belum lama mulai menerima keadaan baru, segera dihantam tantangan. Tak sedikit pelanggan lama konveksi ayahnya berpindah ke lain hati. Mereka tak kenal Vincent. Mereka khawatir di bawah kendali orang baru, kualitas jahit di tempat itu bakal melorot.

Vincent merugi. Sementara mengurus tabungan ayahnya di bank, untuk menambal gaji karyawan, bukan main berbelit prosedurnya. Situasi kian tegang karena ia butuh suntikan dana untuk membiayai sekolah adik-adiknya dan karyawan. Vincent bak bangsa Israel yang selalu bersungut-sungut kepada Tuhan, ketika dihadapkan pada tantangan.

Vincent kemudian mendengar informasi ada lomba merancang seragam Pekan Olahraga Nasional. Vincent memberanikan diri ikut demi mengejar prestasi. Awalnya dia ditentang sang ibu karena uangnya akan dipakai untuk mengirim adiknya yang kuliah. Tetapi Vincent nekad. Tak disangka, dia menang tiga kategori dan membawa pulang Rp 7,5 juta. Jumlah yang cukup fantastis pada 1994.

Kegembiraan itu sirna, sebab dua hari setelah lomba, Vincet disatroni supplier bahan. Sambil marah-marah, ia menghardik Vincent. Katanya, ayah Vincent masih berhutang Rp 6 juta kepadanya. Demi menjaga nama baik almarhum, ia menutup seluruh utang. Sisa uang ia berikan kepada adiknya untuk kuliah.

Masalah lain muncul. Seorang karyawan Vincent mencaplok pesanan pelanggannya, demi keuntungan pribadi. Ia tak mau menegur, khawatir kejadian itu bakal melumpuhkan konveksinya. Sebab, tak ada calon pengganti karyawan itu. Lagi pula Vincent belum bisa menjahit. Kejadian itu justru memecutnya untuk belajar menjahit.

Membuka Mata
Suatu ketika, ada workshop menjahit di Surabaya. Vincent datang untuk menimba ilmu. Pada saat bersamaan, ia juga bertemu seorang ahli jahit asal Indonesia yang tenar di luar negeri. Niat Vincent
untuk belajar menjahit menemukan jalan. Ahli itu mengundang Vincent ke rumahnya di Jakarta. Ajakan itu muncul lantaran selama workshop Vincent paling getol bertanya.

Saat itu, aku Vincent, Tuhan kembali menunjukkan kebaikan-Nya. Bayangkan, ia dilatih oleh seorang penjahit terkenal, dan tak dikenakan biaya sepeser pun. Rupanya sang pelatih juga mencari murid untuk berbagi pengetahuan. Ia, imbuh Vincent, hanya mencari murid yang memang sungguh-sungguh mencintai keterampilan jahit.

Berbagai kejadian mulai dari ayahnya meninggal hingga kelakuan licik karyawannya, selalu ada hikmah. Peristiwa-peristiwa itu, kata Wakil Koordinator Bidang Evangelisasi Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia, semakin membuka matahatinya. “Tuhan selalu menggendong saya,” pungkas Kepala Sekolah Bina Iman Shekinah Keuskupan Agung Semarang.

Anna Marie Happy

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*