Artikel Terbaru

Anak Desa Lamalera Bos Tiga Perusahaan Besar

Josef Bataona.
[HIDUP/Edward Wirawan]
Anak Desa Lamalera Bos Tiga Perusahaan Besar
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Atas kiprahnya sebagai Direktur SDM di tiga perusahaan besar, Josef Bataona meraih pelbagai penghargaan. Semua tanda pengakuan itu tak datang begitu saja. Josef memulai dari ketiadaan.

“Jangan memilih-milih kerjaan dan jagalah kepercayaan orang padamu.” Raut muka Josef Bataona mendadak berubah usai merapal kalimat itu. Ia sejurus tersenyum. Kalimat itu ia dengar pertama kali puluhan tahun silam, ketika ia meminta restu ayahnya untuk berangkat ke Jakarta. Josef, sapaannya berasal dari Lamalera, Lembata, NTT. Ia merantau ke Jakarta hendak kuliah. Tak sepeser uang di genggamannya. “Saya hanya minta blessing sama orangtua,” kenang ayah satu anak ini, kala ditemui pekan silam.

Josef saat ini menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) di PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang memiliki sekitar 80.000 karyawan yang tersebar di seluruh Nusantara. Jabatan ini membingkai Josef dalam tanggung jawab mulai dari rekrutmen karyawan, pengorganisasian, hingga mengembangkan potensi karyawan. “Entah mengurus 10.000 orang atau 5000 orang, sama saja. Saya mengurus pengelolaan kualitas SDM yang dibutuhkan perusahaan. Itu nantinya akan berkaitan dengan unit penyusunan organisasi dan masa depan perusahaan.”

Pengakuan Global
Seluruh karier profesional Josef berada di jalan SDM. Ia pernah sebelas tahun menjabat Direktur SDM PT Unilever. Di perusahaan multinasional ini, ia memulai dari bawah hingga menjabat sebagai Direktur SDM. Pada 2011, usai pensiun dari Unilever, Bank Danamon meminta ia menjadi Direktur SDM. Hanya setahun, ia kemudian pindah ke Indofood dan menduduki kursi jabatan yang sama; yang ia duduki hingga hari ini.

Josef bahkan pernah menjajaki karier internasional sebagai Manajer SDM Regional Asia Pasific Quest Internasional; anak perusahaan Unilever. Posisi ini menuntut pemahaman mendalam akan ragam budaya dan kebutuhan yang berbeda dari masing-masing negara. Josef, secara berkala, wajib mengunjungi pimpinan dan karyawan di semua negara, sambil membangun network global.

Semua rekam jejak gemilang itu mendapat pengakuan luas. Josef menyabet beberapa penghargaan. Pada 2008, Praktisi SDM Indonesia menobatkan Josef sebagai Human Resouce Executive of the Year. Setahun berselang, majalah Human Capital memilih ia sebagai 2009 Inspiring HR Person. Pada tahun yang sama, Asia HRD Congress memberikan penghargaan Best Contribution to HR Community Award.

Beberapa penghargaan lain semakin menegaskan kepiwaiannya. Terakhir, awal 2016 silam, dia mendapatkan penghargaan sebagi 100 most influential global HR Professionals. “Saya tidak pernah apply form penghargaan, meski orang minta. Saat diundang, saya datang tetapi tidak tahu akan mendapatkan penghargaan.”

Hingga hari ini, Josef tak mengetahui apa sebab ia menerima pelbagai penghargaan itu. Yang ia tahu, ia sungguh-sungguh dalam menjalankan profesi. Kesungguhan itu nampak dalam kemajuan perusahaan yang ia pimpin. Di bawah payung kepemimpinannya, PT Unilever meraih penghargaan selama beberapa tahun, misal Most Admired Knowledge Enterprise Award dari Teleos Inggris. Penghargaan ini diraih sebanyak enam kali, baik tingkat Indonesia maupun Asia atas keberhasilan membangun budaya learning and sharing, serta mengelola pengetahuan dan pengalaman di perusahaan. Pada 2010, di akhir kepemimpinannya, Employer Brand Institute London memberikan penghargaan Asia’s Best Employer Brand, karena keberhasilan menerapkan strategi pengelolaan SDM yang tepat dan menciptakan pimpinan masa depan.

Prestasi itu merupakan buah dari keuletan. Josef bercerita, ia menjalani setiap tahapan, bahkan keseharian dengan sungguh-sungguh. Ia tak pernah berhenti belajar. Karena itu, selain pendidikan formal, ia mengikuti beberapa workshop dan training, misal Dave Ulrich HR Strategy di Jakarta; World Class Human Resources, di INSEAD, Hongkong hingga Strategic HR Management di Harvard Boston, Amerika Serikat.

Membagi
Rangkaian cerita sukses pria kelahiran Lamalera, 11 Juli 1953 ini, tak lahir di ruang kosong. Ia memulai dengan kemauan belajar dan kejujuran. Tahun pertama di Jakarta, ia bekerja sebagai penerjemah artikel asing di sebuah majalah militer. Josef saat duduk di bangku sekolah, giat belajar bahasa Inggris.

Di dekat kantor majalah, ada sebuah percetakan. Josef sering bermain dan bertanya kepada operator setiap detail proses percetakan. Hasilnya, dalam waktu enam bulan ia sudah memahami proses percetakan, mulai dari perwajahan hingga siap dicetak. Tak hanya itu, ia bergaul karib dengan kru percetakan. Ketika ada kru yang tidak masuk, ia siap membantu. Itu ia lakukan dengan tulus tanpa bayaran. Ternyata, direktur percetakan itu diam-diam memperhatikan Josef.

Majalah militer kemudian bangkrut. Josef lantas beralih mencari pekerjaan lain. Namun, sang direktur meminta Josef bergabung. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Josef yang sedang berencana kuliah menerima kepercayaan itu. Atas restu sang direktur, Josef mengambil kuliah sore di Universitas Atma Jaya Jakarta mengambil jurusan Manajemen SDM.

Kala itu, biaya kuliah di Atma Jaya Rp 40.000 per tahun, dan bisa dibayar dua kali. Jelang semester kedua, Josef hanya memiliki Rp 10.000 di tabungan. Ia lantas minta dispensasi, namun ditolak pihak universitas.

Dalam hati, ia bertanya, apakah terlalu boros? Lantas ia mengumpulkan semua slip gaji dan membuat rekap pengeluaran mulai dari ongkos bus hingga makan. Hasilnya ia tak boros. Rekap itu ia serahkan kepada Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan. Ringkas cerita, ia akhirnya bisa melanjutkan kuliah. Meski kuliah sambil bekerja, tak menghalangi Josef untuk berprestasi. Pada tahun kedua, ia menerima beasiswa Supersemar.

Penggalan kisah hidupnya itu, ia tulis dalam buku berjudul Kisah Rp 10.000 yang Mengubah Hidupku. Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas ini sudah dua kali dicetak.

Jelang pensiun dari PT Unilever, Josef melempar pertanyaan kepada teman-temannya; apa yang dilakukan setelah pensiun. Lantas teman-temannya meminta ia menulis blog. Josef selalu menetaskan dua tulisan setiap minggu. Terbiasa menulis di blog, Josef akhirnya menulis buku. Ia juga salah satu penulis buku ‘33 Inspirasi Coaching untuk Indonesia’ yang terbit dalam dua bahasa; Inggris dan Indonesia.

Umat Paroki St Barnabas Pamulang, Keuskupan Agung Jakarta ini, memang tak pelit ilmu. Ia kerap mengisi acara-acara seminar di pelbagai tempat, baik dalam maupun luar negeri. Banyak perusahaan yang antre mengundang putra Lamalera ini. Sejak 2007 ia meluangkan waktu untuk mengajar di program Certified Human Resource Professional Atma Jaya Jakarta. Ia juga terlibat di IBCA; lembaga sosial untuk memerangi HIV/AIDS.

Di Indonesia, ada banyak praktisi SDM yang sukses dalam karier dan berpengetahuan luas. Tetapi bagi Malla Latif, Managing Partner PortalHR.com dan Majalah Human Capital menilai, Josef memiliki keunikan. Josef disayangi karyawan dan mampu menginspirasi teman sejawatnya. Malla memberikan testimoni dalam buku kisah hidup Josef dengan judul Jenderalnya karyawan. Josef, anak desa Lamalera itu menjadi bos tiga perusahaan; bertanggung jawab atas kehidupan ratusan ribu karyawannya.

Josef Bataona
TTL : Lamalera, 11 Juli 1953
Istri : Rifdalena
Anak : EkaYuniarti

Pendidikan:
• Jurusan Manajemen SDM Universitas KatolikAtma Jaya (lulus 1979)

Pekerjaan:
• Regional HR Manager Asia Pasifi c Quest Internasional (19941997)
• Direktur SDM PT Unilever Indonesia (20002011)
• Direktur SDM Bank Danamon (2011)
• Direktur SDM PT Indofood (2013-sekarang)

Penghargaan:
• HR Executive of the Year dari para praktisi HR (2008)
• Inspiring HR Person” oleh Human Capital Magazine (2009)
• “Best Contribution to HR Community
• Award” dari Asia HRD Congress di Kuala Lumpur (2009)
• “Award of Appreciation” sebagai pengajar/fasilitator di Universitas Atma Jaya (2011)
• 100 Most Infl uential Global HR Professionals” Award, dari World HRD Congress di Mumbai (2016)

Edward Wirawan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*