Artikel Terbaru

Wafat Di Penjara Demi Melawan Arianisme

Paus St Yohanes I.
[jeanmheimann.com]
Wafat Di Penjara Demi Melawan Arianisme
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Meski masa kepausannya singkat, ia sempat melakukan kunjungan apostolik ke Konstantinopel. Ia menegakkan supremasi ajaran melawan Arianisme hingga wafat di penjara Ravena.

Hari Raya Paskah, 19 April 526, Paus Yohanes I (470-526) memimpin Misa di Hagia Sophia, Konstantinopel. Di hadapan Patriark Konstantinopel, Epiphanius (520-535), Bapa Suci merayakannya dengan menggunakan ritus Latin. Paus berhasil menunjukkan supremasinya kepada dunia kekristenan bahwa dialah Pemimpin Tertinggi Gereja. Peristiwa ini menjadi kenangan manis persekutuan Gereja Barat dan Timur.

Kala itu, Paus Yohanes I sedang mengadakan lawatan apostolik karena diminta oleh penguasa Dinasti Ostrogoth di Italia, Raja Theodoriks Agung (454-526). Sesudah perayaan Paskah di Konstantinopel, Bapa Suci pun berpamitan dan berangkat untuk kembali ke Roma.

Kunjungan Apostolik
Selama dua tahun, sembilan bulan, dan tujuh hari bertakhta, Paus Yohanes I sempat melakukan lawatan ke Konstantinopel. Kunjungan ini dinilai sebagai perjalanan apostolik Uskup Roma yang sangat penting dalam sejarah. Paus Yohanes I terpilih sebagai Penerus Takhta St Petrus pada 13 Agustus 523, setelah tujuh hari sede vacante, pasca wafatnya Paus Hormisdas (514-523) pada 6 Agustus 523. Putra Konstantius ini berasal dari Tuscan (Tuscany); lahir tahun 470.

Kala itu, Theodoriks Agung adalah raja penganut Arianisme yang sangat kuat. Ia terang-terangan membenci tindakan pelarangan terhadap Arianisme yang terjadi di Bizantium. Pelarangan ini dilakukan oleh Kaisar Bizantium, Yustinianus I atau Yustinianus Agung (482-565) kala itu memiliki semangat berkobar untuk menjaga orthodoksi Gereja. Tahun 523, ia menerbitkan dekrit yang melawan Arianisme yang sudah berkembang di teritori kekaisarannya. Ia memaksa para pengikut Arianisme untuk menyerahkan gereja-gereja yang telah mereka kuasai kepada Gereja Katolik dan memerintahkan agar para pengikut Arianisme kembali ke pangkuan Gereja Katolik.

Melihat perlakukan Kaisar Yustinianus, Raja Theodoriks pun naik pitam ketika mengetahui hubungan yang begitu mesra antara Gereja Latin dan Gereja-gereja Yunani di Timur. Bahkan ia semakin mencurigai relasi dalam Gereja itu sebagai usaha menghancurkan Arianisme yang bermuatan politis. Ia menuduh telah terjadi permufakatan antara Senator Roma dengan para petinggi Kekaisaran Bizantium untuk mengembalikan kekuasaan Kekaisaran Romawi di Barat. Inilah yang dianggap sebagai ancaman atas kekuasaan bangsa Ostrogoth di Italia.

Raja Theodoriks akhirnya mengutus delegasi sebagai usaha bernegosiasi dengan Kaisar Yustinianus. Delegasi yang diutus itu dipimpin oleh Paus Yohanes I, didampingi lima Uskup dan lima Senator Roma. Mereka ditugaskan oleh Raja Theodoriks untuk berdiplomasi dan menekan Kaisar Bizantium agar mencabut kembali dekrit tahun 523 yang melarang Arianisme.

Tegakkan Orthodoksi
Dalam kondisi dilematis, Paus Yohanes I berangkat ke Konstantinopel bersama rombongan tahun 525. Ia dengan tegas tetap mempertahankan apa yang menjadi doktrin dan ajaran Gereja Katolik. Tak diragukan lagi, Paus menasihati Kaisar Yustinianus agar bersikap lebih lembut dan tetap tegas terhadap bidaah Arianisme. Konon, bahkan Bapa Suci menganjurkan agar Kaisar Yustinianus dapat memfasilitasi para pengikut Arianisme yang menyatakan diri bertobat dan ingin kembali ke pangkuan Gereja. Diharapkan, dengan kebijakan itu, para pengikut Arianisme tidak takut untuk menyatakan diri bersalah dan melakukan pertobatan, serta kembali masuk dalam persekutuan Gereja.

Meskipun status Paus Yohanes I adalah utusan Raja Theodoriks, dengan tugas berdiplomasi dengan Kaisar Yustinianus untuk memberikan angin kebebasan kepada para pengikut Arianisme, Paus tidak melaksanakan titah penguasa Ostrogoth itu. Sebagai penjaga kemurnian orthodoksi Gereja, Bapa Suci hanya bisa meminta kepada Kaisar Yustinianus agar menangani persoalan bidaah Arianisme dengan lembut sekaligus tegas. Ia tak mungkin meminta Kaisar Yustinianus untuk memberikan tempat bagi perkembangan bidaah. Ajaran Gereja Katolik harus tetap menjadi pegangan utama dan tak mungkin dikotori dengan paham Arianisme yang jelas-jelas bertentangan.

Sesampai di Konstantinopel, Paus Yohanes I bersama rombongan disambut meriah oleh kaisar dan seluruh rakyatnya. Mereka sangat antusias untuk bertemu dengan Patriark Roma. Rakyat hanya ingin melihat bagaimana rupa dan penampilan Pimpinan Tertinggi Gereja Katolik itu. Penyambutan berlangsung dengan meriah dan bersahabat. Bapa Suci diterima dengan penuh rasa hormat. Sambutan itu seakan-akan menjadi penghargaan tertinggi yang diterima Penerus Takhta St Petrus yang sedang melawat Konstantinopel.

Pemimpin Tertinggi
Ketika bertemu Paus Yohanes I, Kaisar Yustinianus tiba-tiba meminta agar Bapa Suci berkenan memahkotainya. Meskipun ia sudah resmi menjadi Kaisar Bizantium, pemahkotaan ini menjadi simbol restu dari Patriark Barat atas penguasa sipil di Timur. Tak heran jika pemahkotaan ini dilihat oleh Raja Ostrogoth di Italia sebagai bentuk dukungan Paus kepada Kaisar Bizantium untuk mengembalikan yurisdiksi kekuasaan Kekaisaran Timur di Barat. Bapa Suci pun mengabulkan permohonan Kaisar Yustinianus dan memahkotainya.

Menyaksikan pemahkotaan itu, seluruh Patriark Gereja-gereja Timur pun tak ragu lagi untuk menyatakan persekutuan penuh dengan Gereja Roma yang berada di bawah Paus Yohanes I. Mereka menunjukkan sikap hormat dan mengakui supremasi Patriark Roma sebagai Pimpinan Tertinggi Gereja. Hanya Patriark Aleksandria, Timoteus III (518-536) yang memperlihatkan rasa permusuhan dengan Bapa Suci. Patriark Timoteus III ini mengambil posisi yang tidak sepenuhnya menerima hasil Konsili Kalsedon (451), sehingga ia mengambil jarak terhadap Patriark Roma.

Namun, penyambutan meriah dan aktivitas Paus Yohanes I di Konstantinopel dilihat secara berbeda oleh Raja Theodoriks Agung. Ia melihat adanya ancaman bagi cengkeraman kekuasaannya di Italia. Ia menilai, Paus telah bersekongkol dengan Kaisar Bizantium dan para Patriark Timur untuk menghancurkan kekuatan Dinasti Ostrogoth di Barat. Apalagi, kabar mengenai kegiatan Paus di Timur dianggap menjadi pemicu kebangkitan orang-orang Roma untuk melawan pemerintahan Ostrogoth di Italia.

Mahkota Kemartiran
Sebelum Paus Yohanes I tiba di Roma, Raja Theodoriks sudah memerintahkan agar Paus dihadang di Ravena dan jangan sampai masuk ke kota Roma. Maka setelah kapal yang ditumpangi rombongan Paus bersandar di Ravena, para serdadu Ostrogoth segera menangkap Paus dan menjebloskannya dalam penjara di Ravena.

Perjalanan jauh dari Konstantinopel yang telah menguras tenaganya serta perlakuan keji Raja Theodoriks, menjadi sebab kesehatan Paus Yohanes I mengalami penurunan drastis. Alhasil, pada 18 Mei 526, Paus Yohanes I wafat di dalam penjara di Ravena. Jazadnya kemudian dibawa ke Roma untuk disemayamkan di Basilika St Petrus.

Wafatnya di dalam penjara dan misinya yang sukses ke Konstantinopel membuat Paus Yohanes I dihormati sebagai seorang martir dan diberi gelar santo. Selain itu, selama masa kepausannya yang singkat, ia berhasil merestorasi banyak situs bersejarah, tempat disemayamkannya orang-orang kudus. Gereja mengenangkannya tiap 18 Mei, sesuai dengan tanggal wafatnya.

R.B.E. Agung Nugroho

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*