Artikel Terbaru

Menjaga Pancasila

Menjaga Pancasila
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pancasila merupakan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang sudah bertumbuh kembang sejak masa lampau. Nilai-nilai Pancasila tergali pada sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk untuk menyiapkan kemerdekaan Indonesia, yang diketuai Radjiman Wedyodiningrat, bersidang pada 29 Mei -1 Juni 1945. Menjadi pertanyaan, masih adakah nilai-nilai Pancasila setelah 72 tahun yang lalu tergali oleh para pendiri bangsa ini?

Nilai yang sudah bertumbuh kembang sejak masa lampau, mengakar dalam setiap gerak langkah masyarakat Indonesia. Nilai tersebut salah satunya berwujud pada gotong royong. Gotong royong menjadi cara bersama untuk bertahan hidup dan melanggengkan keberadaan masyarakat dari generasi ke generasi. Bekerja sama secara sukarela, kerja keras, dan saling membantu demi kebaikan bersama (Merphin Panjaitan, 2013).

Warga masyarakat menyadari kelemahannya masing-masing, dan karena itu merasa saling membutuhkan satu sama lain. Wujud dari gotong-royong pada awalnya dilakukan seperti berburu, meramu, mengerjakan lahan, membangun tempat tinggal, upacara kematian, upacara kepercayaan (dalam hal ini saling menghormati antarpemeluk beragama). Kebiasaan gotong royong membangun tempat tinggal, dan mengerjakan lahan, upacara kematian serta upacara kepercayaan sampai saat ini masih ada dalam masyarakat Indonesia, terutama di desa-desa.

Soekarno pada akhir pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945 mengatakan, “Kita mendirikan Negara Indonesia, kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua, Indonesia buat Indonesia, gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan….” Jadi, negara Indonesia bukan saja milik satu golongan, tetapi milik semua bangsa Indonesia, yang harus diperjuangkan bersama.

Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta, tahun 2017 bertema “Makin Adil, Makin Beradab”. Ini merupakan cerminan butir-butir sila kedua Pancasila, yaitu mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia, mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira, mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “adil” berarti berpihak kepada yang benar; berpegang pada kebenaran; tidak sewenang-wenang. Sedang “beradab” berarti mempunyai adab; mempunyai budi bahasa yang baik; berlaku sopan. Hal ini senada dengan pendapat Hildred Geertz (Franz Magnis Suseno SJ, 1991), kaidah pertama “bahwa dalam situasi manusia hendaknya bersikap sedemikian rupa hingga tidak sampai menimbulkan konflik”. Kaidah kedua “menuntut agar manusia dalam tata bicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya”.

Kita, umat Kristiani sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk, selalu berseru agar setiap orang membangun sikap toleransi terhadap sesama. Menjadi pertanyaan, apakah kita juga sudah bersikap toleran kepada orang lain? Refleksi kecil dalam rumah tangga dan bermasyarakat, apakah kita sudah menghargai asisten rumah tangga kita sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia? Apakah kita sudah bergotong-royong dengan lingkungan kita?

Cerita mengenai orang Samaria dalam Lukas 10:25-37 sangat menginspirasi. Orang Samaria tergerak hatinya untuk menolong sesama. Hal ini sejalan dengan Injil Matius 22:37-40: “Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri.” Jadi, bila kita memperlakukan sesama dengan tidak adil, berarti kita juga tidak adil memperlakukan diri sendiri. Apabila kita sudah berlaku adil dan berlaku sopan kepada sesama, bukan saja kepada sesama umat Kristiani, tetapi juga kepada setiap umat manusia apapun agamanya. Kita sebagai orang Kristiani benar-benar menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-16), di tengah bangsa ini yang memerlukan kembali nilai-nilai kearifan, seperti gotong royong untuk menghargai setiap perbedaan. Mari kita jaga dan amalkan nilai-nilai Pancasila sepanjang zaman!

Yustinus Ronny S.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*