Artikel Terbaru

Gestur Tubuh

Gestur Tubuh
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Setiap saat kita berbahasa. Manusia adalah makhluk berbahasa. Kita berbicara dengan memakai “bahasa kata” maupun “bahasa tubuh”. Melalui ucapan lisan dan tulisan, kita menyampaikan informasi. Kita pun mendengar, memahami, dan menafsir ucapan orang lain. Bisa saja tafsiran kita tepat, tetapi bisa saja keliru. Bahkan kadangkala kita sengaja membuat orang lain sulit menafsir intonasi yang kita gunakan. Dalam bahasa Jawa misalnya, terdapat tujuh cara untuk mengatakan “iya”, tergantung dari nada ucapannya. Bisa menyatakan “setuju”, atau “barangkali”, bahkan “tidak” secara menghina. Maka kita pun perlu waspada.

Kita memperjelas bahasa lisan dengan gerak-gerik badan kita, misal dengan mimik tangan, anggukan kepala, dan kerlingan mata. Kita juga dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan kita hanya dengan bahasa tubuh, tanpa kata-kata. Kita berharap agar bahasa tubuh mengungkapkan perasaan dengan jujur, polos, apa adanya, tanpa salah tafsir.

Paling kentara justru dalam liturgi. Ungkapan iman dalam liturgi juga menggunakan “gestur”. Gestur mengikutsertakan pergerakan tangan, wajah, dan bagian lain dari tubuh. Bahasa tubuh bahkan menjadi simbol liturgi: berjalan, berdiri, duduk, berlutut, membungkuk, meniarap, tangan terkatup, terangkat, terentang, penumpangan tangan, tanda salib, berkat, menepuk dada, ciuman, jabatan tangan, pembasuhan tangan, serta yang lain. Dengan bahasa tubuh itu kita mengungkapkan rasa hormat, pujian, syukur, sembah sebagai umat beriman. Liturgi bagaimana pun juga berciri simbolis karena partisipasi kita dalam hidup Allah yang masih berlangsung seperti bayangan yang kabur pada cermin. Nanti kita akan melihat langsung dengan jelas dan tahu segalanya (1 Kor. 13:12).

Kita pun mengalami bahasa tubuh yang artifisial; dibuat seolah-olah, tetapi tidak sebenarnya. Salah satu contoh adalah sandiwara atau drama. Para pemain harus melaksanakan skenario lakon sandiwara terperinci adegan demi adegan yang dibuat penulis skenario. Pemain sendiri misalnya bukan seorang raja, tetapi ia harus melalukan peran seorang raja, sesuai petunjuk sutradara. Seorang ayah yang tak pernah menggendong anak, dalam sandiwara ia harus bersandiwara menggendong anak sambil membelai-belai penuh kasih sayang. Demikian seterusnya.

Dalam kehidupan biasa, seorang yang berbahasa tubuh tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, kita mengatakan bahwa ia sedang bersandiwara. Kamus Besar Bahasa Indonesia pun mencatat bersandiwara dilaksanakan dalam kejadian-kejadian politik yang hanya sebagai pertunjukan untuk mengelabui mata, untuk propaganda dan tidak sungguh-sungguh. Maka kita perlu waspada terhadap gestur tubuh seorang politikus. Bisa saja ia mengelabui mata kita.

Bahasa tubuh dan sikap hati tidak selalu berjalan seiring. Kalau demikian maka terjadi kemunafikan. Yesus mencela orang munafik. “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa….,” (Mat. 6:16). “Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya yang berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang,” (Mat. 6:5). Jelaslah, seorang politikus bisa terjebak dalam sikap munafik demi meraih suara di kalangan umat. Tidak pernah beribadat, tiba-tiba rajin beribadat, berceramah dengan kata-kata muluk teologis di depan umat. Agama yang luhur dimanipulasi demi kekuasaan politik. Namun demikian, gestur tubuh yang bersandiwara tidak mudah mengelabui mata kita. Hati nurani yang jernih tak dapat dibohongi. Maka, kita perlu waspada terhadap gestur tubuh orang. Bagaimana pun juga, “Tak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui” (Luk.12:2). Gestur tubuh bisa murni, tetapi juga bisa saja munafik, seperti ciuman Yudas Iskariot penghianat itu (Luk 22:47).

Jacobus Tarigan

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*