Artikel Terbaru

Pembaptisan Ala Sungai Jordan di Pulau Buru

Buru Dulu Kala: Para Tapol tampak sedang bekerja di Pulau Buru.
[visualdocumentationproject.files.wordpress.com]
Pembaptisan Ala Sungai Jordan di Pulau Buru
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Beberapa kapal pengangkut sapi di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur melepas sauh dan berlayar ke Pulau Buru, Maluku. Muatan kapal itu bukan sapi, tetapi tahanan politik (tapol), orang-orang yang dituduh atau diindikasikan terlibat peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).

Mereka dibuang ke Pulau Buru akhir 1969 setelah sebelumnya mendekam di kamp atau penjara berbagai kota di Indonesia. Alasan pengasingan itu antara lain untuk menjaga kewibawaan Pemerintah Orde Baru, Pancasila dan UUD 1945.

Cerita itu sampai ke telinga Romo Werner Ruffing SJ. Pastor dari Jerman ini telah lama memendam hasrat untuk berkarya di negara komunis Uni Soviet (baca Rusia) sebagai “balas jasa” karena Yesuit di Uni Soviet tetap utuh meski pada 1733 Ordo yang didirikan St Ignatius Loyola itu dibubarkan atas titah Paus Clement XIV. Karena kesempatan membalas budi baik Uni Soviet tidak pernah kesampaian, Romo Ruffing pun mencari negara yang dipengaruhi komunis. Dengan semangat balas budi itu, ia datang ke Indonesia, walau G30S/ PKI tidak berkiblat ke komunis Uni Soviet.

Pada 1973, Romo Ruffing mulai berkarya di Pulau Buru. Kehadiran Romo Ruffing diterima dengan baik oleh para aparat keamanan yang bertugas di Pulau Buru. Tetapi tumpukan masalah antara Romo Ruffing dengan para aparat membuat ia diusir pada 1976. Romo Ruffing lantas mencari tahu, barangkali ada pastor Yesuit lain yang mau menggantikannya di Pulau Buru.

Upaya Romo Ruffing berhasil ketika ia bertemu dengan Romo Alexander Dirdjasoesanta SJ. Saat itu, awal 1977, Romo Alex baru saja pulang dari India mengikuti kursus Maxi (meditasi) Sadhana dari Pastor Anthony de Mello SJ. Romo Alex dengan gembira menerima tawaran Romo Ruffing. Tahun itu juga ia berangkat ke Pulau Buru.

“Saya sangat senang bertualang. Jadi tawaran itu saya terima dengan senang hati,” kata Romo kelahiran 24 Februari 1938 ini mengenang keputusannya ke Buru. Dengan modal Surat Jalan dari Laksamana Sudomo yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), Romo Alex dengan mudah mendekati para perwira yang bertugas di Pulau Buru.

Surga atau Neraka
Saat itu para tapol yang ditahan di Pulau Buru sekitar 18 ribu orang, 400 orang di antaranya Katolik. Para tapol ditempatkan di 20 unit tempat tinggal. Setiap unit terdiri sekitar 800 orang. Di setiap unit terdapat lokasi yang bisa dijadikan ladang selain untuk tempat tinggal. “Inilah surga atau neraka kalian, maka tentukan sendiri tempat ini menjadi seperti surga atau neraka sesuai yang kalian inginkan,” kata Romo Alex menirukan kata-kata Komandan Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Pulau Buru.

Banyak tahanan berlatar belakang pendidikan cukup baik di antaranya terdapat insinyur, dokter, wartawan, guru juga ada mahasiswa. Saat di sana, pemerintah memberi alat-alat bangunan dan pertanian. Dengan fasilitas itu, para tapol membangun barak-barak sebagai tempat tinggal, rumah untuk para tentara yang menjaga mereka. Ada sekitar 12 tentara yang mengawal setiap unit, mereka berasal dari Kodam Pattimura.

Dalam waktu singkat, wajah Pulau Buru berubah. Dari semula hamparan hutan dan bentangan sungai Wai Apu, berubah menjadi hunian dengan fasilitas lengkap. Di setiap unit berjajar rumah dan tempat ibadah diantaranya ada Masjid, Gereja, Pura dan Wihara. Ada juga Gedung olahraga dan kesenian.

Setiap unit membuka sawah seluas 75 sampai 150 hektar. Air untuk irigasi sawah dialirkan dari sungai Wai Apu. Pertanian berkembang, Buru pun menjelma menjadi lumbung beras bagi wilayah Maluku. Beras dijual, hasilnya digunakan membangun pembangkit listrik.

Pewartaan Senyap
Guna mendukung rehabilitasi, pemerintah mengirimkan dokter dan rohaniwan yang ditugaskan merawat dan membina para tapol. Menurut Romo Alex, saat ia tiba di Pulau Buru, terdapat 21 rohaniwan Islam dan enam rohaniwan Protestan. Sedangkan Katolik, Hindu dan Budha masing-masing seorang pendamping.

Tugas para rohaniwan mengajar agama kepada para tapol sesuai dengan agama masing-masing. Para tapol dilarang berpindah agama. Para rohaniwan boleh memberikan pengajaran “Santi Aji” (pelajaran budi pekerti) kepada semua tapol. Diam-diam Romo Alex mengajarkan Injil kepada para tapol pada saat santi aji “Saya selalu mencuri kesempatan untuk mewartakan Injil kepada mereka,” kisah Imam yang ditahbiskan 16 Desember 1970 ini.

Pada bulan ketiga di sana, ia menulis surat kepada pemerintah Belanda meminta bantuan dana untuk membeli kacamata bagi para tapol. Banyak dari mereka mengalami gangguan penglihatan. Pemerintah Belanda menjawab permintaan Romo Alex. Melalui Uskup Amboina Mgr Andreas Petrus Cornelius Sol MSC, pemerintah Belanda mengirimkan uang.

Romo Alex lalu mengukur tingkat kerusakan mata para tapol dan mencatat hasilnya. Setelah itu ia mendatangi toko optik di Ambon. Para pemilik toko terkejut, karena Romo Alex memesan ribuan kacamata. Untuk mengakali, optik di Ambon mengirim catatan pemeriksaan Romo Alex ke Surabaya. Dari Surabaya dikirimkan kacamata sesuai dengan jumlah yang diminta. Romo Alex juga meminta bantuan obat-obatan kepada pemerintah Jerman, yang ditanggapi juga dengan baik.

Selain itu, Romo Alex juga menjadi penghubung antara tapol dengan keluarganya. Romo alex menjadi kurir surat dari tapol kepada keluarga mereka. Demikian juga sebaliknya Romo Alex membawa surat dari keluarga untuk tapol di Pulau Buru. Oleh Romo Alex surat-surat itu dikirim melalui perantaraan Mgr Sol, Romo Stanislaus Sutopanitro dan Romo Paul de Blot SJ.

Romo Alex juga membelikan kertas dan karbon untuk beberapa tapol, salah satunya Pramoedya Ananta Toer. Kelak, sebagian karya Pramudya diselundupkan ke luar Buru melalui Romo Alex dan sebagian lainnya oleh Romo Sutapanitra. Karya itu antara lain Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, dan Rumah Kaca.

Pembatisan Massal
Karya pastoral Romo Alex melahirkan keakraban antara dirinya dengan para tapol. Beberapa tapol meminta dibaptis. Katekese pun dimulai Romo Alex menentukan syarat, tapol akan dibaptis setelah mengikuti 40 kali pertemuan pelajaran agama. Romo Alex lalu menunjuk ketua lingkungan di setiap unit yang bertugas mencatat nama tapol yang telah 40 kali mengikuti pelajaran agama dan memilih nama baptis untuk mereka.

Kadang para komandan unit bertanya kepada Romo Alex mengenai ajarannya. Akhirnya para komandan tidak peduli dan membebaskan Romo Alex untuk mengajar, asal tidak membuat para tapol berpindah agama. “Itu mungkin efek surat ajaib dari Laksamana Sudomo,” kata Romo Alex.

Begitu tapol memenuhi syarat dibaptis, Romo Alex akan berkeliling dari unit ke unit. Ia tinggal dua hari di masing-masing unit. Sore hari sekitar pukul 16.00, ketika tapol pulang dari bekerja di ladang atau sawah mereka biasa mandi di sungai. Di sungai upacara baptisan dilakukan. Calon baptis akan memberi tanda berupa alang-alang yang dipegang atau diikat di kedua tangan. Satu per satu menceburkan diri mendekati Romo Alex yang sudah berada di tengah sungai. Setelah saling berdekatan, calon baptis menyebut nama baptisnya.

Romo Alex memegang kepala calon baptis itu lalu membenamkannya ke dalam air, “Aku membaptis kamu dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Romo Alex menuturkan setiap kali membaptis ada sekitar 40 orang.

Setelah dibaptis, mereka akan menerima sakramen pengakuan dosa dan Ekaristi. Pada 1979-1980 hampir setengah jumlahtapol di Pulau Buru menjadi Katolik. Romo Alex membuatkan surat baptis untuk tapol yang dibaptis.

Romo Alex sebenarnya ingin berkarya sampai semua tapol bebas. Namun di akhir 1978, Romo Alex menderita penyakit kuning. Mgr Sol memintanya untuk berobat ke Jawa. Demi ketaatan kepada Mgr Sol ia mengalah. Setelah pembebasan 1979 banyak tapol yang pulang ke tempat asalnya masing-masing atau setidaknya keluar dari Buru. Sejak saat itu, Romo Alex kehilangan kontak dengan sahabat-sahabatnya itu.

Buru, Dulu dan Sekarang
Romo Alex bukanlah satu-satunya imam yang menapakkan jejak pastoralnya di Pulau Buru. Sebelumnya, ada Romo Sutopanitro, Mgr Sol, Romo de Blot dan Romo Ruffing. Salah satu karya pastoral yang diingat Romo Alex adalah ketika Romo de Blot berhasil membebaskan beberapa mahasiswa sebelum keputusan bebas dari pemerintah diberlakukan.

Setiap imam yang berpastoral di Pulau Buru berkarya mengusahakan kepedulian manusiawi dalam perspektif Gereja. Kepedulian itu diwujudkan dengan memberikan bantuan obat-obatan dan menjadi penghubung tapol dengan keluarga. Kepedulian ini penting agar tapol tidak kehilangan kepercayaan diri dan tetap memiliki semangat hidup.

Karya pastoral di Pulau Buru dilanjutkan setelah Romo Alex keluar dari Buru. Menurut cerita Romo Alex, ada seorang imam yang melakukan pembaptisan terbuka. Tindakan itu menimbulkan kegusaran para aparat. Imam itu lantas diminta berhenti membaptis. Ia heran mengapa ia dilarang membaptis. Ia bertanya kepada salah satu perwira, “Mengapa Romo Alex yang membaptis ribuan orang tidak dilarang?” Perwira itu tidak mendengarkan celotehan sang imam.

Kini Pulau Buru memiliki dua paroki dan 24 stasi. Sebelum kedatangan para tapol, di Pulau Buru sudah ada gereja di Namlea dengan jumlah umat yang sedikit. Namlea masuk dalam wilayah paroki Masohi, Maluku Tengah. Pada 1970, Namlea resmi menjadi Paroki dengan nama Paroki Santa Maria Bintang Laut.

Setelah pembebasan tapol, jumlah umat Katolik meningkat menjadi sekitar 3.000 orang. Mereka adalah tapol yang enggan kembali ke tempat asal masing-masing. Jumlah umat Katolik Pulau Buru terus bertambah. Tetapi kerusuhan pada 1999 menyebabkan eksodus umat dalam jumlah yang besar. Jumlah umat saat ini sekitar 3000-an orang. Pada 2010 paroki baru didirikan di Pulau Buru yaitu Paroki St Antonius Namrole Buru Selatan.

Edward Wirawan
Laporan: Pastor Paul Ngalngola MSC (Pulau Buru)

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*