Artikel Terbaru

Terbebas Dari Kanker Berkat Cinta dan Kesetiaan

Agnes Emmy Pudjiastuti dan keluarga.
[NN/Dok.Pribadi]
Terbebas Dari Kanker Berkat Cinta dan Kesetiaan
3.2 (64%) 5 votes

HIDUPKATOLIK.com – Demam, batuk, sariawan dan lekas lelah sering menyiksa keseharian Agnes Emmy Pudjiastuti. Siksaan ini terasa sejak istri Harjanto Djaja ini mendapati benjolan di bagian dada sebelah kanan. Benjolan berukuran 12 sentimeter itu bersemayam di organ penting tubuhnya. “Kamu terserang kanker payudara,” kata Emmy, menirukan ucapan sang dokter, saat berkonsultasi waktu itu.

Emmy meragukan pendapat sang dokter. Ia lalu memeriksakan diri ke dua dokter lain. Ia berharap, pernyataan dokter pertama keliru. Tetapi harapan terbebas dari vonis kanker itu pupus. Tiga ahli penyakit dan pengobatan memberikan jawaban yang sama. Doa yang ia rapal saban hari pun tak mampu mengusir kecemasannya. Emmy terbujur lemah sambil menahan sakit yang tak terperi.

Berjuang Sembuh
Suatu hari, seorang teman menyarankan Emmy untuk berkonsultasi dengan dokter ahli bedah tumor (onkologi) di salah satu rumah sakit di Cikini, Jakarta Pusat. Emmy mengikuti usul temannya. Usai menjalani serangkaian pemeriksaan, ternyata dokter memberi diagnosa yang berbeda dengan tiga dokter sebelumnya. Perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 43 tahun silam ini diduga mengidap kanker limfoma atau kelenjar getah bening. Dokter menyarankan Emmy untuk dibiopsi demi mendapatkan informasi secara lengkap dan akurat, seperti jenis kanker, stadium dan tingkat keganasannya.

Emmy mengikuti saran dokter. Lima hari kemudian, hasil uji laboratorium keluar. Hipotesa dokter tepat. Ia menderita kanker getah bening tipe burkitt stadium tinggi. Tipe ini sangat agresif karena sangat cepat menjalar. Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab utama penyakit itu. Namun disinyalir karena sistem kekebalan tubuh menurun secara tidak normal, bisa juga bawaan sejak lahir atau karena virus Epstin Barr.

Lemas tubuh Emmy mendengar vonis dokter itu. Ia hanya bisa menangis, menumpahkan seluruh rasa yang berkecamuk di pundak pria yang telah melewati hari-hari bersamanya selama enam tahun. Harjanto pun tak kuasa membendung airmatanya. Ia ingin ikut merasakan dan menanggung duka yang membebat pasangan hidupnya.

Pasca biopsi, kanker Emmy meranggas gesit. Benjolan kian bertambah besar, 22 sentimeter. Emmy langsung menghubungi C. Suharti, kerabatnya yang juga dokter spesialis onkologi di Semarang. Harti mendesak saudarinya untuk segera kemoterapi di kota kelahirannya. “Maksimal dua minggu sudah harus dikemo (kemoterapi). Kami juga diminta menyiapkan dana awal sekitar Rp 100 juta untuk proses tersebut,” tuturnya mengutip pesan Harti.

Syukur, di saat situasi pelik seperti itu, Emmy merasakan uluran tanganTuhan. Tuhan memberi jalan yang tepat di saat yang pas. Ia bersyukur bisa melunasi biaya kemoterapi dan obat-obatan selama perawatan intensif berkat asuransi. Meski demikian, perjuangan agar sembuh dari kanker terus berlanjut. Sebab, Emmy mesti menjalani rangkaian kemoterapi yang panjang dan melelahkan.

Usai kemoterapi, Emmy menjalani radioterapi atau penyinaran selama 25 kali. Proses itu berlangsung sejak vonis kanker ia terima, Mei 2004 hingga November 2005. Selama perawatan, ia tinggal di Semarang selama sekitar 1,5 tahun. Momen ini juga membuatnya sedih. Rindu pada buah hati kerap mengelayuti kalbu dan pikirannya. Ia tak bisa mendengar celoteh dan memperhatikan anak-anaknya secara langsung, selain cerita dari sang suami.

Peran Ganda
Selama perawatan, Emmy sungguh merasakan cinta dan kesetiaan sang suami yang senantiasa meletupkan semangatnya. Berkat Harjanto, Emmy gigih melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya. “Saya tahu, suami sangat terpukul. Tapi dia hebat. Sama sekali tak pernah menunjukkan kesedihannya di depan saya. Bahkan, dia membersihkan luka infeksi saya dengan tangannya sendiri,” pujinya kepada sang suami.

Tak hanya itu, Emmy juga memuji totalitas pengorbanan Harjanto. Setiap akhir pekan, pria yang menikah dengannya pada 8 Agustus 1998 itu meluncur ke Semarang. Selama di Kota Lumpia, Harjanto mencurahkan segenap perhatiannya untuk merawat istri tercinta. Menurut Emmy, ia juga menjadi sasaran kemarahan dan ketakutannya. Meski demikian, Emmy mengakui, sang suami menghadapinya dengan tabah dan ikhlas.

Harjanto kembali ke Jakarta hari Minggu. Sebab, Senin ia harus bekerja. Lagi pula, selama Emmy dirawat, sang suami yang mengatur rumah tangga dan mengurus kedua anak mereka. Emmy merasakan, situasi yang menderanya membuat sang suami ketiban banyak peran. “Dia berhasil menjadi suami untuk saya, juga ayah sekaligus ibu untuk anak-anak,” beber Emmy dengan tersenyum.

Tiga tahun menjalani berbagai pengobatan dan perawatan, Emmy akhirnya berhasil berdiri tegak. Sebagai ujub syukur atas pulihnya stamina, ia bergabung dengan Cancer Information Support Cancer (CISC). Pusat informasi dan dukungan kepada penderita kanker ini didirikan oleh para mantan dan kerabat penyandang kanker.

Selain sebagai pusat informasi soal kanker, CISC juga menyediakan rumah singgah bagi para penyandang kanker yang tak mampu secara finansial. Di sini, para penyandang kanker dari daerah bisa tinggal selama berobat di RS Kanker Dharmais dan Cipto Mangunkusuma (RSCM). Sejak berdiri pada 2003 hingga kini, CISC memiliki tiga rumah singgah, yaitu di Slipi, Jakarta Barat, Kayu Manis dan Pramuka di Jakarta Timur.

Di komunitas itu, perempuan yang berprofesi sebagai manager di salah satu perusahaan ansuransi ini, meluangkan waktunya untuk berbagi kisah dan dukungan kepada para penderita kanker. Minimal seminggu sekali, Emmy menemani orang-orang yang mengalami nasib serupa di RSCM. Selain itu, anak bungsu dari empat bersaudara ini juga didapuk untuk menangani laporan keuangan Rumah Singgah.

Selalu Bersyukur
Sepuluh tahun Emmy sudah bebas dari belenggu kanker getah bening. Lewat ujian yang sudah berlalu, ia mengakui bahwa Tuhan masih memberi kesempatan baginya untuk menjalani hari bersama suami dan anak-anaknya. Berbarengan dengan itu, Tuhan juga memberikan tanggung jawab kepadanya untuk membantu dan memperhatikan mereka yang sakit seperti dirinya dulu.

Sesekali, kantong matanya masih mengeluarkan air bila mengenang kejadian 13 tahun silam. Emmy menyadari, kasih Tuhan sangat luar biasa pada diri dan keluarganya. Tuhan hadir dan menunjukkan kasih-Nya sehingga mereka bisa melewati segala cobaan. “Dia memampukan kami menghadapi semua bahkan sampai hal terkecil sekali pun,” ujarnya.

Emmy tak berhenti bersyukur untuk semua yang ia terima dari-Nya. Rasa syukur itu ia balas dengan ambil bagian dalam CISC, serta rutin berdevosi kepada Hati Kudus Yesus dan Rosario Pembebasan. Meski demikian, ia sadar perjalanan hidupnya masih panjang dan ada selaksa tantangan lain yang harus dihadapinya. Dalam perjalanan itu, rasa syukurnya memampukan dirinya untuk terus mau berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Ivonne Suryanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*