Artikel Terbaru

Kasih Maria Menyertai 30 Tahun Panti Asuhan St Maria Pasang Surut Banyuasin

Berkebun: Romo Amatus Sukadi sedang mengajar anak-anak PA St Maria cara berkebun.
[Dok. M. Fransiska FSGM]
Kasih Maria Menyertai 30 Tahun Panti Asuhan St Maria Pasang Surut Banyuasin
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Tetesan keringat Yakobus Surono terus mengalir. Kaos yang membungkus badannya pun perlahan basah kuyup. Namun Surono demikian ia disapa, enggan berhenti untuk terus mencari kayu api bersama teman-temannya. “Kami harus mengisi gerobak ini sampai empat kali,” ujarnya.

Pertengahan Agustus lalu, Surono bersama sekitar seratus temannya mencari kayu api (kayu bakar) untuk mengenang pengalaman hidup di Panti Asuhan (PA) St Maria Pasang Surut, Banyuasin, Sumatera Selatan. Panti ini akan merayakan ulang tahun ke-30, pada 5 Oktober 2015. Kegiatan mencari kayu api ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan menyambut perayaan syukur ulang tahun tersebut. Untuk mencari kayu api, Surono dan kawan-kawan menempuh jarak 500 meter dari lokasi panti. “Lewat kegiatan ini, kami bisa mengenang kembali masa-masa hidup di panti dulu,” ujar Surono.

Dalam reuni ini mereka mengulang kembali kebersamaan yang pernah terajut selama tinggal di panti. Selain kelompok yang mencari kayu api, ada kelompok lain yang bertugas membersihkan kandang kambing dan sapi, mencangkul, memasak, dan mencari rumput. Kegiatan yang digelar selama tiga hari pada Senin- Rabu,14-16/8 ini semakin meriah ketika Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ hadir untuk ikut merayakan. Tampak pula para donatur dari masa ke masa yang hadir memeriahkan acara. Selain melakukan pekerjaan-pekerjaan yang pernah para alumni panti kerjakan, para peserta reuni juga berkesempatan untuk berbagi kesan dan cerita selama hidup di PA St Maria.

Unik Menantang
PA St Maria digagas oleh Romo Petrus Abdi Putra Raharja SCJ yang prihatin dengan masalah ekonomi, sosial, kesehatan dan pendidikan masyarakat. Tahun 1984, Romo Raharja mulai mendirikan panti yang kemudian dikelola oleh Yayasan Sosial Pansos Bodronoyo. Pada Oktober 1985, panti secara resmi dibuka dan mulai menerima anak asuh.

Pada 2003, Pansos Bodronoyo menyerahkan penanganan panti kepada Keuskupan Agung Palembang. Oleh Keuskupan Agung Palembang, panti ini diserahkan kepada Kongregasi SCJ Provinsi Indonesia pada 1 Maret 2003. Saat ini PA St Maria memiliki anak asuh, 52 laki-laki dan 63 perempuan. Mereka dikelompokkan sesuai jenjang usia dan pendidikan, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) –Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Perguruan Tinggi dan Program Pengabdian Setahun. Jenjang Program Pengabdian Setahun ini diberikan kepada anak-anak panti yang sudah menyelesaikan pendidikan dan siap dilepas dari panti. Selama masa Pengabdian, anak-anak ditugaskan di panti, Asrama Dehonian Metro dan Komsos Keuskupan Palembang.

Menurut Pemimpin PA St Maria, Romo Amatus Sukadi SCJ anak-anak panti ini berasal dari pelbagai latar belakang. Ada karena orangtuanya peduli dengan pendidikan anak, namun ada juga anak yang berasal dari keluarga miskin, keluarga yang mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan yatim piatu.

Anak-anak panti ini tinggal satu atap. Laki-laki dan perempuan dipisah ruang tidurnya. Ada pihak luar yang mencemaskan situasi ini. “Kami selalu ekstra hati-hati menjaga relasi anak panti putra dan putri. Semoga mereka tetap bersaudara dan tidak mengarah pada yang vulgar,” ujar Romo Sukadi. Selama tinggal di panti, anak-anak panti tidak boleh berpacaran. Namun, Romo Sukadi mengakui masih ada juga beberapa anak yang saling suka dan memiliki kedekatan khusus. “Tetapi kami selalu tegas, kalau sudah dewasa dan selesai pembinaan di panti, mereka baru boleh pacaran bahkan menikah. Hasilnya, ada juga yang akhirnya menjadi pasangan suami istri,” ujarnya.

Butuh Pendampingan
Aktivitas anak-anak PA St Maria seperti kegiatan doa, belajar dan makan dilakukan secara bersama. Ada sebelas pengasuh yang menjaga dan menyediakan kebutuhan anak-anak panti. Para pengasuh itu adalah orang-orang sederhana yang tidak memiliki pendidikan yang memadai. “Saat ini ada satu orang yang kami kuliahkan di bidang Konseling. Ke depan, semoga anak-anak dapat memperoleh bimbingan yang lebih profesional,” ungkap Romo Sukadi.

Konselor sungguh diperlukan untuk mendampingi anak-anak panti yang bermasalah. Salah satunya Matius. Anak delapan tahun ini bersama adiknya Ferdian diselamatkan oleh seorang biarawati karena mengalami kekerasan dan ditelantarkan keluarganya yang miskin. Sikap sehari-hari Matius bertemperamen tinggi. “Apabila ada kawan yang menyakiti hatinya meski masalah sepele, marahnya luar biasa, hingga urat lehernya kelihatan,” ujar pengasuh Anastasia Istiyani.

Anak-anak panti membutuhkan bantuan dana untuk hidup dan meraih cita-cita, membentuk karakter menjadi manusia yang bermartabat. Menurut Romo Sukadi, anggaran menjadi tantangan bagi keberlangsungan panti. Biaya pendidikan sangat mahal. Romo Sukadi berharap agar orangtua turut berpartisipasi dengan berbagai bentuk. “Ada yang mengirim uang atau hasil ladang seperti kelapa dan sayur-sayuran. Jadi, mereka tidak pasrah bongkokkan (begitu saja, bahasa Jawa),” ujarnya.

Meski berjalan di atas kesulitan dan tantangan, selama kurun waktu 30 tahun Tuhan telah menebar benih-benih panggilan di panti ini. Panti ini telah melahirkan tiga orang imam, empat bruder, dan empat suster. “Itu sumbangan untuk Gereja,” ucap Romo Sukadi. Selain itu, panti ini sukses mencetak anak-anak asuhnya berkiprah sebagai pengusaha, guru dan pegawai kantoran.

Romo Martinus Widiyanto, seorang alumni mengungkapkan, kerja keras, apa pun bentuknya terasa menyenangkan karena dikerjakan bersama teman-teman. “Padahal di rumah, saya tidak pernah melakukan pekerjaan itu,” kenangnya.

Surono bersyukur pernah dididik di PA St Maria. Ia meyakini, segala pencapaiannya saat ini merupakan buah didikan PA St Maria. Ia pun berjanji akan lebih mengaktifkan Forum Organisasi Alpasanria (Alumni Panti Asuhan St Maria) yang telah terbentuk tahun 2011. “Semoga panti ini semakin profesional dalam pembinaan sehingga banyak melahirkan generasi yang berguna bagi Gereja dan masyarakat,” harapnya.

M. Fransiska FSGM

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*