Artikel Terbaru

Pemimpin Yang Melayani

Pemimpin Yang Melayani
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Mindset Melayani” dalam usia panjang Gereja menjadi tantangan dalam pelaksanaan. Ketika pelayanan menjadi penggerak utama, apa yang bisa dikembangkan lagi, tidak bagi hirarki saja, namun juga semua pengurus organisasi Gereja? Ternyata makna pelayanan sudah berubah total seiring perubahan dunia yang ditandai dengan perubahan teknologi komunikasi. Perilaku umat berubah. Maka, konsep tentang pelayanan juga perlu diubah. Perubahan konsep pelayanan ini yang mula pertama dimulai dari perubahan pola pikir atau  mindset para pengurus Gereja.

Sebagai pengurus Gereja, apapun tugas dan bidang, ia layak disebut pemimpin. Ia bisa menjadi pemimpin dalam lingkup paling kecil, seperti ketua lingkungan, hingga lingkup yang lebih besar, seperti dewan paroki. Bahkan, bisa juga menjadi pemimpin dalam lingkup keuskupan, seperti menjadi ketua kategorial atau pemimpin unit lain di bawah keuskupan. Para pemimpin ini layak menjalankan “kepemimpinan melayani” atau “servant leadership”.

Konsep “kepemimpinan melayani” pertama kali dicetuskan Robert Greenleaf pada era 1980-an dan hingga saat ini tetap relevan. Ada empat pendekatan sehingga seseorang pantas disebut pemimpin pelayan. Pertama, kesadaran diri sebagai pelayan yang ingin melayani orang lain atau umat sebagai pendorong memilih menjadi pemimpin. Kedua, dalam kepemimpinan yang melayani, kebutuhan umat menduduki prioritas tertinggi. Ketiga, keinginan melayani itu lahir dari iman dan pengenalan akan Tuhan. Keempat, ada perubahan hati, dari keinginan menjadi “orang besar”, “orang terkemuka” atau “orang berkuasa” menjadi keinginan melayani.

Kepemimpinan melayani yang pada mula ditujukan Greenleaf untuk konteks korporasi dan organisasi non-keagamaan, justru mendapat tempat terhormat bagi organisasi keagamaan, terutama Gereja. Dalam pendekatan ketiga, jelasjelas Greenleaf menyertakan nama Tuhan, yakni keinginan melayani itu lahir dari iman dan pengenalan akan Tuhan. Dengan bahasa lain, melayani umat dengan penuh merupakan bentuk nyata pelayanan kepada Tuhan yang diwakili oleh umat. Pandangan ini yang sekarang berubah. Jika dulu “wakil” Tuhan adalah hirarki dan pengurus Gereja, sekarang “wakil” Tuhan adalah umat, sehingga umat layak dan wajib mendapat pelayanan prima ketika berhubungan dengan organisasi Gereja.

Dalam diskusi acara pembekalan pengurus Gereja sebuah paroki, saya mengajukan refleksi tentang makna pelayanan bagi pengurus Gereja. Terdapat beberapa kesimpulan yang tidak saja selaras dengan konsep utama kepemimpinan melayani model Greenleaf, namun juga harapan umat. Pertama, melayani menjadikan pribadi bertumbuh secara utuh. Para pengurus Gereja dari segi usia bisa disebut dewasa. Bahkan banyak yang sudah memasuki usia lanjut usia. Namun, mereka menyadari sekaligus meyakini, melayani merupakan ekspresi diri yang bisa menjadikan mereka menjadi manusia utuh. Manusia yang tidak hanya sebagai makhluk pekerja dan sosial, namun juga makhluk pelayan.

Kedua, pelayanan bukan hanya sebuah tugas atau sekadar menghabiskan waktu, namun sebuah panggilan hati. Menjadi pengurus Gereja dorongan utamanya tak lain panggilan hati. Sejarah kemudian mencatat, karya-karya besar di dunia sejak jaman bahuela hingga hari ini dihasilkan oleh orang-orang yang memaknai profesi sebagai panggilan hati.

Ketiga, melayani berbasis Ajaran Gereja, yakni dengan kasih dan sebagai wujud syukur. Tak jarang, bahkan bisa disebut mayoritas, para pengurus Gereja, baik tingkat paroki maupun keuskupan, merupakan orang-orang yang memiliki jabatan. Sebagian malah pemilik usaha yang ucapan dan tindakan semacam titah raja yang tidak bisa ditolak. Namun ketika mereka menjadi aktivis Gereja, kasih dan wujud syukur menjadi landasan dalam melayani. Makna melayani memang selalu bertumbuh, selaras dengan perubahan perilaku umat yang semakin dinamis. Bagaimana dengan makna pelayanan bagi Anda? Bagi Gereja Anda? Bagi komunitas atau lembaga Anda?

A.M. Lilik Agung

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*