Artikel Terbaru

Bersyukur Hingga Ajal Menjemput

Martinus Hadiwijoyo.
[HIDUP/Christophorus Marimin]
Bersyukur Hingga Ajal Menjemput
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Umat lanjut usia itu luar biasa!” ucap Moderator Umat Lanjut Usia Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Romo Martinus Hadiwijoyo. Imam kelahiran Yogyakarta, 68 tahun silam ini berkata, meskipun telah berusia lebih dari 50 tahun dan telah mendapat banyak berkat, tapi umat lanjut usia selalu ingin mengungkapkan syukur kepada Allah. “Caranya ya dengan berkegiatan bersama. Jadi, menjadi umat lanjut usia itu adalah bentuk persembahan kepada Allah, masa untuk lebih mensyukuri segala hal. Dengan demikian, iman kekatolikan bisa dihidupi sampai akhir hayat,” ujar Pastor Rekan Paroki Kalvari Lubang Buaya, Jakarta Timur ini.

Ditemui di Gedung Karya Pastoral KAJ, Kamis, 10/9, Romo Hadiwijoyo menguraikan pastoral umat lanjut usia di Keuskupan Agung Jakarta. Sudah lebih dari tujuh tahun, ia mendampingi umat lanjut usia di KAJ. Berikut petikannya:

Romo, bagaimana pastoral umat lanjut usia selama ini?

Yang pernah dilakukan adalah memberikan penyadaran kepada anak-anak, cucu-cucu, atau keluarga umat lanjut usia. Saya berkata, “Hei, anak-anak atau cucu-cucu, ini papa mama atau oma opa kalian kan sudah lanjut usia. Tolonglah mereka diberikan penghiburan! Ajaklah mereka berekreasi bersama.”Nah, dari situ muncul acara rekreasi bersama umat lanjut usia se-KAJ ke Taman Safari. Lebih dari 3000 umat lanjut usia ikut dalam acara ini.

Saya mau mengatakan bahwa umat lanjut usia itu membutuhkan perhatian, tapi tidak mau merepotkan orang lain di sekitarnya. Maka, butuh kepekaan orang-orang yang berada di sekeliling mereka.

Apa saja tantangan pastoral ini?

Saya masih prihatin, karena tidak semua pastor paroki memiliki perhatian kepada umat lanjut usia. Kadang umat lanjut usia dipandang menjadi beban pastoral. Padahal, mereka seharusnya dilihat sebagai kelompok umat yang masih bisa diajak berkarya dalam Gereja.

Tidak semua umat lanjut usia di KAJ berkecukupan dalam hal ekonomi. Ada juga yang masih hidup dalam kemiskinan. Mereka membutuhkan dukungan dan bantuan. Nah, dalam pastoral ini mesti mengajak umat untuk bergerak membantu sesama yang berkekurangan.

Hal lain yang kerap menjadi tantangan adalah cara pandang umat lanjut usia yang terkadang masih menganggap diri mereka menjadi beban keluarga atau orang di sekitar. Maka perlu memberikan kesadaran bahwa menjadi lanjut usia bukanlah beban. Umat lanjut usia harus tetap berkarya.

Ada paroki yang anggota dewan paroki diisi banyak umat lanjut usia. Apa pendapat, Romo?

Ini saya juga prihatin. Menurut saya, mereka yang sudah lebih dari 60 tahun sebaiknya memberikan kesempatan kepada umat yang lebih muda. Kalau dewan paroki diisi umat lanjut usia semua, rasanya Gereja menjadi kurang segar ya!

Apa pendapat Romo terkait keluarga yang menitipkan orangtua atau kakek nenek di panti wreda?

Menurut saya, apa salah mengurus orangtua yang telah berkurang tenaga, sudah lanjut usia? Mendampingi orangtua yang telah lanjut usia jangan dipandang sebagai kerepotan. Ini adalah ungkapan bakti dan syukur, tanda cinta kepada orangtua.

Namun, berbeda hal jika orangtua yang telah lanjut usia yang memilih hidup bersama dengan sesama yang telah lanjut usia pula. Ini beda persoalan. Tapi menurut saya, akan lebih baik jika anak-anak atau cucu-cucu mendampingi orangtua yang telah lanjut usia. Karena pada umumnya, orangtua masih ingin dekat dengan anak-anak dan cucu-cucu.

Y. Prayogo

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*