Artikel Terbaru

Jangan Buang Orang Tuamu

Kasih sayang: F.X. Prasdiyanto dan Beatrix Christiana Arya Satyani bersama Oma Agatha Adiwati.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Jangan Buang Orang Tuamu
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com – Ia bangun dari lelap setiap pukul 05.00. Ia menyiapkan sarapan untuk sang bunda dan kakek. Ia biasa memasak selama setengah jam. Setelah semua selesai, ia baru berangkat ke tempat kerja. Ia pulang kerja pukul delapan malam. Jika masih ada makanan yang tersisa, mereka bisa langsung makan malam. Tapi kalau tidak, ia biasa memasak lagi.

Rutinitas ini dilalui Albert Lazarus Thie setiap hari, kecuali hari libur. Di rumahnya, di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, pria berusia 25 tahun ini tinggal bersama sang ibu yang berusia 62 tahun dan kakeknya, 93 tahun. “Ibu mengalami depresi, sehingga tidak banyak beraktivitas, tinggal di rumah saja. Pendengaran kakek tidak berfungsi sama sekali karena termakan usia. Tapi, ibu dan kakek masih bisa mengatur diri sendiri,” ujar Albert berkisah.

Saat masih kanak-kanak, Albert tinggal bersama keluarga di bilangan Sunter, Jakarta Utara. Ketika itu, masih ada nenek dan tantenya. Sang tante menikah dan hijrah ke Belanda. Tak lama kemudian, neneknya meninggal dunia. Albert pun hidup bersama kakek dan ibunya. Lima tahun lalu, Albert memboyong kakek dan ibu pindah ke Serpong.

“Rumah di Sunter sudah sangat tua dan belum sempat direnovasi. Selain itu, pada 2007, rumah kami kebanjiran sampai setengah meter selama seminggu,” kata Albert membeberkan alasan kepindahan keluarganya dari Sunter ke Serpong.

Sejak tinggal di Serpong, ada seorang asisten rumah tangga paruh waktu yang membantu di rumah. Biasa ia datang pagi hari, membantu mencuci, menyetrika, dan bersih-bersih rumah, lalu pulang.

Menurut pria yang bekerja di satu perusahaan milik Orangtua Grup di Jakarta Barat ini, ia merasa aman dan nyaman tinggal bersama ibu dan kakek yang telah lanjut usia. Ia hanya memasak dan mengantar mereka bila bepergian. “Ya misal, setiap Minggu pagi pasti pergi ke Gereja St Monika BSD.”

Mendatangkan berkah
Pengalaman senada dialami Beatrix Christiana Arya Satyani. Di rumah, selain suami dan putrinya, Beatrix tinggal bersama dua tante yang sudah lanjut usia. Kedua bude-nya, Maria Angela sudah berusia 88 tahun, sementara Agatha Adiwati berumur 81 tahun.

Sebelum tinggal bersama Beatrix, Maria Angela tinggal di Bandung, Jawa Barat. Pada 2005, Beatrix meminta Maria Angela tinggal bersama dia di Serpong, Tangerang Selatan. Apalagi kala itu, Maria Angela jatuh dan kaki kanannya patah. Diabetes juga menghinggapi raga Maria Angela. Sementara Agatha Adiwati, sebelum tinggal bersama Beatrix, ia hidup sendiri di rumahnya, tak jauh dari rumah Beatrix. Pada 2014, ia jatuh dan kaki kirinya patah. Lagi-lagi, Beatrix menjemput Agatha Adiwati, lalu tinggal satu rumah bersama. “Sejak kecil, ia sudah menjadi ibu bagi saya,” ujar Beatrix.

Beatrix dibantu dua perawat untuk mendampingi dua bude-nya. Dua kursi roda ada di depan pintu kamar masing-masing dan siap dipakai sewaktu-waktu.

Suami Beatrix, F.X. Prasdiyanto mengakui bahwa tidak mudah tinggal bersama dua orang lanjut usia. Selain tanggung jawab, terkadang komunikasi juga tidak nyambung. “Kebetulan salah satu di antara mereka sudah pikun. Sementara yang satu sakit atrophy atau penyusutan otak, sehingga kadang berhalusinasi sendiri,” kata Pras.

Meski demikian, baik Pras maupun Beatrix mengakui, kehadiran dua orang tua ini membawa penghiburan bagi keluarga mereka. Komunikasi yang kadang tidak nyambung justru menjadi bahan candaan yang membawa gelak tawa. “Suasana di rumah jadi ramai,” ujar Pras sembari tersenyum.

Pras juga mengaku, merawat orang tua itu bisa mendatangkan berkah. “Saya yakin bahwa merawat orang tua itu mendatangkan berkat. Selalu ada saja rezeki yang datang tanpa diduga, ketika kami membutuhkan.” Sementara bagi Beatrix, merawat kedua bude-nya yang telah lanjut usia bagai balas jasa untuk perhatian dan cinta yang sudah ia terima sejak kecil. Pun rumahnya menjadi ramai lantaran kerap dikunjungi sanak keluarga. “Ya jadi tempat dan kesempatan reuni keluarga.”

Pras dan Beatrix tidak setuju jika orang lanjut usia dititipkan di panti wreda. Apalagi orangtua sendiri atau keluarga dekat. “Paling minimal adalah memberi tempat. Mereka tidak butuh materi kok. Yang mereka inginkan dan butuhkan adalah kehadiran keluarga untuk mendengarkan mereka,” kata Pras.

Gereja lansia
Gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) juga berupaya hadir dan mendengarkan umat lanjut usia. Beragam kegiatan digelar merangkul umat lanjut usia, agar mereka tetap berkarya dalam Gereja. Pertengahan Agustus 2015, Paguyuban Umat Lansia Paroki St Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan, memenangkan Lomba Panduan Suara Umat Lansia tingkat KAJ. Senin tiga pekan lalu, sekitar 30 umat lanjut usia berkumpul di aula Leo Dehon Paroki Cilandak. Mereka merayakan syukur atas kemenangan itu. “Kami patut bergembira untuk kemenangan ini. Kami bisa meraih itu karena tekun berlatih dan mau diatur. Itu tanda, meski sudah tua, kami tetap rendah hati,” ujar Ketua Paguyuban Lansia Paroki Cilandak, Robertus Sony Marsono.

Menurut Sony, lomba paduan suara ini bukan soal menang atau kalah. “Kami ingin membangun keguyuban dari tingkat paroki, dekanat, hingga keuskupan. Lomba paduan suara menjadi salah satu sarana saja,” kata Sony.

Paguyuban Lansia Paroki Cilandak terbentuk lima tahun yang lalu, dengan jumlah anggota sekitar 300 umat. Setiap minggu terakhir dalam bulan, paroki ini mengadakan perayaan Ekaristi khusus bagi umat lanjut usia. Paguyuban ini juga mengadakan ziarah dan rekreasi setiap tahun serta menggelar seminar kesehatandua kali dalam satu tahun. Romo Rekan Paroki Cilandak Romo Paulus Setiadi Slamet Santoso SCJ setuju bahwa kehadiran umat lanjut usia di paroki sangat penting. “Gereja itu hidup dari berbagai kelompok, dari komunitas anak-anak hingga umat lanjut usia. Mereka ambil bagian dalam berbagai kegiatan Gereja dan berkontribusi dengan cara masing-masing,” ujar Romo Setiadi. Ia juga senang, Paguyuban Lansia Paroki Cilandak bisa menyabet gelar juara pertama dalam lomba paduan suara. “Ini bisa menjadi motivasi untuk lebih giat dalam pelayanan di Gereja. Kebersamaan dan kegembiraan ini harus terus dijalin.”

Kegembiraan yang sama dirasakan anggota Paguyuban Lansia Paroki St Fransiskus Assisi Tebet, Jakarta Selatan. Dalam perlombaan yang sama, mereka meraih juara kedua.

Ketua Paguyuban Lansia Paroki Tebet, HY. Sri Hari Basuki menjelaskan, anggota paguyuban tidak hanya aktif saat ada lomba saja. Ada beragam kegiatan yang biasa digelar umat lanjut usia di paroki ini. Mereka juga masih melibat dalam kegiatan-kegiatan paroki, wilayah, dan lingkungan. Selain itu, mereka juga aktif berkegiatan bersama umat lanjut usia di tingkat dekanat dan keuskupan.

Basuki berharap agar umat lanjut usia selalu memegang teguh prinsip “Tujuh B”, yang selama ini dipilih sebagai slogan mereka. “Lima B pertama adalah Bersyukur, Berdoa, Bertobat, Berbelarasa, Beriman, dan Berserah diri. Dua B berikutnya Bergembira dan Berolahraga.”

Jangan dibuang!
Kehadiran Gereja dan keluarga dalam perjalanan hidup orang-orang yang telah lanjut usia juga menjadi perhatian dan kepedulian Paus Fransiskus. Dalam sidang keenam the Open-Ended Working Group on Ageing (Kelompok Kerja untuk Lansia), Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Juli lalu, perwakilan Takhta Suci Vatikan mengungkapkan komitmen akan terus meningkatkan dan memberikan perlindungan hak asasi manusia dan martabat orang tua atau orang lanjut usia. Takhta Suci mengajak semua pihak agar menghapus segala bentuk diskriminasi terhadap orang lanjut usia.

Hal ini dikemukakan, lantaran ada banyak orang tua yang ditinggalkan, dikucilkan, dianggap sebagai beban masyarakat. Banyak orang tua yang merasa sendirian dan tidak berguna. Paus Fransiskus pernah berkata dengan tegas, “Ini sungguh kejam, bagaimana orang tua dibuang! Tidak ada yang berani mengatakan secara terbuka bahwa mereka membuang orang tua, tapi itu dilakukan.”

Stefanus P. Elu
Laporan: Christophorus Marimin

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*