Artikel Terbaru

Meski Nyaris Gila Akibat Cobaan Bertubi-tubi Ibu Ini Pantang Menyerah

Maria Magdalena Rustan.
[NN/Dok.Pribadi]
Meski Nyaris Gila Akibat Cobaan Bertubi-tubi Ibu Ini Pantang Menyerah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Masa remaja Maria Magdalena Rustan lekat dengan hidup susah. Saat masih remaja ketika anak seusianya bermain dengan gembira, putri pasangan suami istri Joseph Rustan dan Maria Rustam ni sudah harus membanting tulang. Ia bekerja di usaha konveksi di Bandung, Jawa Barat.

Ini berawal saat usaha sang ayah bangkrut. Di saat bersamaan, sang ibu terkulai di tempat tidur karena menderita diabetes kronis. Demi menopang kelangsungan hidup keluarga, Magda harus bekerja. Situasi yang memaksanya berhenti dari Sekolah Menengah Pertama. Magda bekerja dari pagi hingga petang. Waktu yang tersisa ia gunakan untuk merawat sang ibu atau menemani sang ayah.

Doa Ibu
Suatu hari, Magda bertemu Romo Mooi OSC di Paroki St Maria Tujuh Kedukaan, Pandu, Keuskupan Bandung. ia memperkenalkan dirinya. Misionaris asal Negeri Kincir Angin itu lalu bertanya soal keluarga, sekolahan kesibukannya saat itu.

Magda menjelaskan semua yang ia alami kepada Romo Mooi, kisah yang menyentuh hati sang Romo. “Magda, kamu ingin calon suamimu nanti seperti apa?” tanya Romo Mooi.

“Saya ingin suami saya seorang dokter atau insinyur,” jawab Magda singkat.

“Jika kamu menginginkan suami seperti itu, apakah ada dokter atau insinyur yang mau istrinya penjahit? Kamu cantik dan pandai, masa seluruh hidupmu habis hanya untuk menjahit,”tantang sang Romo.

Percakapan singkat yang menyadarkan Magda. Setelah dua tahun meninggalkan sekolah, ia kembali membiayai pendidikannya dari hasil jerih payahnya di konveksi. Magda pun berhasil menuntaskan pendidikannya hingga Sekolah Menengah Kejuruan.

Saat masih di sekolah kejuruan, Magda tak hanya bekerja di konveksi. Ia aktif ambil bagian dalam kegiatan Gereja. Ia bergabung dengan Legio Mariae. Saat itu tugasnya adalah mengantar dua tunanetra ke Goethe Institut di Bandung. Dua kali dalam sepekan Magda mengantar dua orang itu belajar Bahasa Jerman.

Pelayanan Magda selama dua tahun itu berbuah manis. Dua tunanetra itu membiayainya belajar ke Jerman. Ia bingung, jika pergi ke Jerman, ia harus meninggalkan ibunya yang sakit. Jika tetap tinggal di Bandung bagaimana ia bisa mengembangkan pengalaman, pengetahuan dan bertemu kekasihnya yang sedang studi di Negeri Panser itu.

Dalam situasi yang dilematis itu, sang ibu meneguhkan putrinya. Maria mendukung agar Magda memanfaatkan kesempatan itu. “Masa depanmu ada di tanganmu sendiri. Mami akan selalu mendoakanmu. Kelak kamu akan menikmati keindahan dunia ini,” ujar Magda mengutip pesan ibunya.

Kerja Keras
Berbekal restu dari sang ibu, Magda terbang dan menetap di Jerman. Sungguh tak disangka, pesan ibunya sebelum ia meninggalkan tanah air ternyata menjadi pesan terakhir sang bunda. Belum genap setahun di Jerman, Magda mendapat kabar dari Bandung, sang ibu meninggal.

Dia sungguh terpukul dengan warta duka itu. Apalagi ia juga tak bisa memakamkan bundanya karena terbentur biaya. Setelah sepuluh tahun, Magda baru bisa bersimpuh di pusara sang Bunda. Meski demikian, pesan ibunya senantiasa hidup dan memotivasi dirinya.

Magda menikah dan melahirkan dua anak di Jerman. Meski suaminya bekerja, tapi tak cukup untuk menutup biaya rumah tangga mereka. Istri Adrianus Ronald Iskandar itu rela menyingsingkan lengan bajunya. Lima tahun ia menjadi perawat istri seorang profesor. Ketika majikannya meninggal, Magda bekerja serabutan, seperti: mengantar anak sekolah, menjaga bayi, dan membereskan rumah tetangga.

Selain bekerja Magda mengikuti sejumlah kursus, antara lain: cara menangani anak, merawat rumah tangga, dan Bahasa Jerman. Setelah belasan tahun di Jerman, ia kembali ke tanah air. Ia tidak mengalami kesulitan untuk mendapat pekerjaan di Indonesia.

Dengan modal piawai berbahasa Jerman, Magda membuka kursus perorangan. Perempuan kelahiran Sukabumi, jawa Barat, 29 Agustus 1951 ini juga mengajar di Seminari Menengah Stella Maris Bogor. Dalam sepekan, dua kali ia mengajar para calon imam. Selain itu, pintu rumahnya juga selalu terbuka jika ada imam, seminaris, biarawan-biarawati, dan anak-anak jalanan yang ingin berguru dengannya. “Kalau mereka gratis,” kata Magda tersenyum.

Awal 1998, suami Magda meninggal. Kepergian Adrianus membuat ekonomi keluarganya limbung. Ia meminta tiga anaknya agar hidup prihatin. Ia berencana menjual rumah karena tak mampu melunasi cicilan. Tetapi teman-teman di Jerman mencegahnya. Mereka mengumpulkan dan mengirim uang pada Magda untuk melunasi kredit rumah.

Belum kering air mata duka, Magda harus kehilangan putra bungsu, Antonius Aribert Iskandar. Jarak antara kepergian suami dengan putra bungsunya hanya sekitar 15 bulan. Dua peristiwa duka itu memberi pukulan telak. Magda nyaris gila. “Tuhan, sejak umur 12 tahun saya harus menanggung beban hidup. Belum cukupkah penderitaan saya?” keluhnya.

Dua tahun Magda depresi. Banyak teman yang menyokongnya. Para seminaris juga memahami dan membantunya keluar dari keterpurukan. Perlahan-lahan Magda bisa mengumpulkan kembali puing-puing semangat dan arah hidupnya. Ia sadar, masih ada dua anak yang membutuhkan kehadiran dan perhatiannya.

Magda akhirnya sadar, semua kejadian yang merundungnya merupakan jalan Tuhan. “Dia mengambil satu anak saya agar saya mampu merawat dua anak yang lain dengan baik,” ujarnya lirih.

Seiring waktu, rencana Tuhan menjadi kenyataan. Berkat kerja keras serta bantuan kedua putranya, Magda berhasil menyekolahkan mereka hingga ke perguruan tinggi. Bahkan, oma dengan tiga cucu ini bangga dengan anak-anaknya. Mereka sudah bekerja dan duduk di posisi bergengsi di perusahaan masing-masing.

Galang Bantuan
Buah kerja keras Magda ternyata tak hanya dirasakan keluarganya, tapi juga orang-orang yang datang dan meminta bantuan kepadanya. Pada 2008, saat berada di Kopenhagen, ia mendapat pesan dari imam yang bertugas di Kalimantan Barat. Dalam pesan itu, sang imam mengharapkan bantuan dana agar bisa mendirikan kamar mandi dan WC serta perbaikan sebuah asrama di Pulau Borneo.

Perempuan yang juga pandai berbahasa Dansk (Denmark) ini mengumpulkan orang muda Indonesia yang berada di negara Viking untuk menggalang dana. Dalam kesempatan itu, hadir pula para pegawai di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Denmark. Hasil penggalangan dana semalam mencapai sekitar Rp 23 juta. Seluruh uang, ia kirim ke Kalimantan.

Magda juga kerap mendapat sumbangan uang dan barang dari teman-temannya di luar negeri. Semua sumbangan dari mereka, ia bagikan kepada setiap orang yang sangat membutuhkan. Hingga kini, kebiasaan itu terus ia lakukan kendati usianya sudah senja.

Nicolaus Heru Andrianto/Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*