Artikel Terbaru

Bergumul Dengan Jenazah Korban Bencana

Kombes Polisi Antonius Ritchi Castilani.
[NN/Dok.Pribadi]
Bergumul Dengan Jenazah Korban Bencana
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Selama dua bulan penuh, Komisaris Besar Polisi Antonius Ritchi Castilani, akrab disapa Kombes Anton mondar-mandir antara Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah dan Surabaya di Jawa Timur. Ia tengah bertugas mengidentifikasi mayat korban pesawat Air Asia QZ 8501 yang jatuh diperairan Selat Karimata.

Selama proses evakuasi dan identifikasi korban, sosok umat Paroki Kristus Salvator Slipi, Jakarta Barat ini kerap muncul di layar televisi. Setiap kali ada korban yang berhasil dikenali, Kombes Anton akan memberi keterangan kepada awak media massa.

Itulah tugas Kombes Anton sejak dipercaya menjadi Direktur Eksekutif Komite Disaster Victim Identification (DVI) Nasional Indonesia. Setiap kali terjadi bencana atau kecelakaan yang membutuhkan proses identifikasi korban, Anton langsung bergerak turun tangan.

Arsitek gagal
Menjadi dokter, apalagi dokter forensik bukanlah cita-cita Anton. Ketika beranjak remaja, Anton bermimpi menjadi seorang arsitek. Namun, selepas Sekolah Menengah Atas, Anton justru memilih belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta. Mau tidak mau, Anton belajar ilmu kedokteraan hingga lulus.

Saat resmi menjadi dokter, Anton menghadapi tiga pilihan; menjadi dokter di rumah sakit, ikut program pemerintah menjadi dokter di daerah, atau ikut wajib militer. Entah angin apa yang berbisik di telinga Anton, dia melamar menjadi anggota kepolisian. Pria kelahiran Jakarta, 19 September 1959 ini menjalani pendidikan kepolisian selama tujuh bulan di Sukabumi, Jawa Barat.

Usai pendidikan, Anton langsung ditugaskan di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah selama empat tahun. Melihat kemampuan dalam bidang medis, Anton dipindah tugaskan ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri di Markas Besar Polri Jakarta. Di tempat ini Anton mendalami kedokteran forensik.

Lima tahun kemudian Anton menyelesaikan Diploma Forensic Medicine di University of Groningen, Belanda. Kombes Anton bergabung dalam berbagai tim operasi identifikasi korban bencana atau kecelakaan, di dalam maupun luar negeri. Pada 2010, ia dipercaya menjadi Direktur ksekutif DVI Nasional. “Saya tidak ada cita-cita maupun ambisi yang muluk untuk menjadi seperti yang sekarang ini,” ujar anggota Misi Perdamaian PBB di Boznia- Herzegovina 1997-1998 ini.

Kombes Anton berperan dalam identifikasi korban berbagai kejadian. Di antaranya bom di Kedutaan Besar Australia (2004), kecelakaan pesawat Mandala di Medan (2005), bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta (2009), kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak (2012), kecelakaan Pesawat Air Asia QZ 8501 (2015), dan kecelakaan pesawat Hercules di Medan (2015).

Proses identifikasi korban bencana atau kecelakaan, menurut suami Sinta Sari Dewi ini merupakan penghormatan terhadap hak azasi manusia. Maka, motto Tim DVI adalah ““respect to the dead.”” “Orang yang meninggal dunia harus mendapat perlakuan yang pantas sebagai seorang manusia,” ujar ayah lima anak ini memaparkan.

Pengalaman internasional
Sebagai Direktur Eksekutif DVI Nasional, Anton selalu menjaga kualitas kerja tim. Anton menjamin, Tim DVI Indonesia mampu berkiprah di tingkat internasional melalui penerapan prosedur universal yang diterbitkan Interpol.

Rentetan pencapaian Tim DVI Indonesia, membuat Anton bersama tim dipercaya bergabung dalam Tim DVI Internasional untuk mengindentifikasi korban pesawat Malaysia Airlines MH17 yang jatuh di kawasan Ukraina. Anton bersama tim mengidentifikasi korban di Negeri Kincir Angin, Belanda. Anton mengungkapkan bahwa pengalaman internasional ini amat berharga untuk mengangkat citra Indonesia di mata dunia.

Berbagai pengalaman internasional membawa Anton terlibat aktif dalam organisasi internasional. Kini, ia menjabat sebagai Presiden Islamic Countries Forensic Medicine Organization dan Wakil Presiden Asia Pasific Medicolegal Association. Anton juga tercatat sebagai orang Asia pertama yang menjadi Board Member Interpol Steering Group on DVI.

Tak bangga
Pekerjaan kerap membuat Anton harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang panjang. Istri dan anak-anaknya selalu memberikan dukungan. “Puji Tuhan, istri dan anak-anak sangat mengerti. Walaupun sering saya tinggal, mereka bangga atas berbagai kegiatan kemanusiaan yang saya lakukan,” ujar Anton.

Proses identifikasi korban kadang tak lepas dari beragam tekanan, baik dari media massa, keluarga korban, maupun dari pemerintah. Anton mengaku puas jika melihat wajah penuh syukur dari keluarga korban. “Segala letih lelah dalam sebuah operasi DVI segera terbayar lunas.”

Pekerjaan membuat Anton kerap bergumul dengan jenazah. Namun, dari situ mengalir nilai-nilai yang diyakini Anton. “Manusia itu bukan apa apa lagi ketika sudah tak bernyawa. Maka,tidak perlu sombong dan bangga atas segala pangkat, jabatan, atau kekayaan yang hanya sebatas duniawi.”

Kombes Pol. Antonius Ritchi Castilani
TTL : Jakarta, 19 September 1959
Istri : Sinta Sari Dewi
Anak : Amanda, Shellyana, Sheren, Stella, Arthur

Pendidikan:
• SD-SMPK Karunia Jakarta
• SMAK 1 Penabur Jakarta
• S-1 Jurusan Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (1978-1986)
• Sekolah Perwira Polri (1987-1988)
• Magister Sains Kajian Lingkungan Universitas Indonesia (1999-2001)
• Diploma in Forensic Medicine University of Groningen, Belanda (2003)

Tugas:
• Kedokteran Kepolisian (1992-sekarang)
• Anggota Misi Perdamaian PBB di Boznia-Herzegovina (1997-1998)
• Kepala Bidang Kedokteran Kepolisian Pusdokkes Polri dan Direktur Eksekutif Komite DVI Nasional Indonesia(2010-sekarang)

Penghargaan:
• Satya Lencana Kesetiaan
• Satya Lencana Dwidya Sistha
• Satya Lencana Bhayangkara Nararya
• Satya Lencana Santhi Dharma
• Satya Lencana United Nation

Fr B. Yogie Wandono SCJ

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*