Artikel Terbaru

Rasul Murah Hati Dari Kuba, Membedah Pasien Berbekal Pengalaman

Beatifi kasi Pertama: Umat membanjiri kota Camagüey saat beatifikasi José Olallo y Valdés OH. Perayaan ini merupakan beatifikasi pertama yang digelar di Kuba.
[commercialappeal]
Rasul Murah Hati Dari Kuba, Membedah Pasien Berbekal Pengalaman
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Secarik kertas yang diselipkan di bedongan bayi itu berbunyi ”12 Februari 1820.” Orang tuanya pergi entah ke mana. Mereka meninggalkan bayi merah itu sendirian di depan pintu Panti Asuhan St Yosef Havana, Kuba. Siapa sangka, bayi itu kelak laksana baskara (matahari) yang menyinari semua orang. Dia adalah Bruder Jose Olallo y Valdes. Bruder yang hidup sederhana. Selama 54 tahun ia mendarmabaktikan dirinya sebagai perawat di rumah sakit.

Menantang Maut
Suatu hari, Br José melihat aksi biadab dua tentara Spanyol. Mereka menyeret jasad Mayor Jenderal Ignacio Agramonte y Loynáz dari alun-alun kota ke depan RS St Yohanes de Deo, Camagüey, Kuba. Mereka melakukan itu untuk menebar teror dan membungkam aksi pasukan Mambi (Tentara Nasional Kemerdekaan Kuba).

Br José naik pitam. Ia keluar dari RS, tempatnya berkarya dan mendamprat dua tentara itu. Alih-alih melawan, mereka justru tak berkutik. Sang bruder bersama seorang kolega, Br Manuel Martínez menandu Agramonte ke dalam RS. Mereka membersihkan, mendandani dan menyemayamkan pentolan gerilyawan Camagüey dengan layak.

Tindakan heroik Br José amat membekas dalam benak masyarakat dan keluarga gerilyawan di kota itu. Beberapa buku tentang Perang Sepuluh Tahun di Kuba (1868-1878), sebut saja misalnya  “Traditions of Camagüey” karya Abel Marrero Campanioni dan “Ignacio Agramonte and the Cuban Revolution” karya cucu mendiang Agramonte, Eugenio Betancourt, menguak keberanian dan dedikasi sang bruder dari Ordo Hospitalarius (OH) ini.

Br José tak hanya membuka pintu rumah sakit untuk kompatriotnya. Ia juga mengulurkan tangan kepada tentara Spanyol yang terluka, sekarat, atau gugur di medan perang. Ia mengobati luka-luka mereka, mempersiapkan hati para serdadu yang berada dalam sakratul maut, dan memakamkan para korban secara manusiawi.

Sebagai perawat, prinsip dan pendiriannya sangat jelas. Br José tak mendukung salah satu kubu. Ia hanya melayani para korban. Sikap dan pandangan itulah yang memungkinkan dirinya diterima dua kubu yang bertikai. Berkat pelayanannya, Br José acap kali dianalogikan seperti “Binar Baskara dari Negeri Cerutu” yang memancar dan memberi berkat bagi siapa saja dan apa saja.

Tiap kali bertemu tentara Spanyol maupun gerilyawan Kuba, Br José menyerukan perdamaian, penghapusan penjajahan dan penghentian pembunuhan. Ia mendesak Pemerintah Spanyol untuk menyudahi pengusiran dan penindasan kaum klerus dan biarawan-biarawati di negara-negara di Semenanjung Iberia. Ia pun gigih meminta pemerintah mengembalikan harta benda Gereja yang disita.

Fokus Pelayanan
Perang selalu membawa penderitaan. Itulah yang terjadi di Kuba. Pertempuran sepuluh tahun di Negeri Cerutu telah merenggut banyak korban dan membawa mudarat bagi rakyat, terutama anak-anak yang belum mengerti arti perang, apalagi kemerdekaan.

Situasi demikian menjadi ladang karya Br José sepanjang hidupnya. Sejak matahari menampakkan batang hidungnya hingga dijemput rembulan, ia tak pernah meninggalkan RS. Tiap hari, ia bertemu orang sakit dan melayani mereka. Ia dibantu seorang dokter yang juga berkarya di dua RS lain, dengan dua perawat dan Br Manuel, rekan sekomunitasnya.

Namun sejak kematian Br Manuel pada 1876, tenaga di RS itupun berkurang. Meski demikian, Br José tak pernah mengeluh. Ia menyerahkan seluruh karya pelayanannya pada Tuhan dan menyadari semua yang dilakukan sebagai panggilan dan tanggung jawab hidupnya.

Suatu ketika, Br José menerima pasien, mantan narapidana yang akan menjalani operasi. Sayang, tak ada dokter kala itu. Sedangkan si pasien harus segera dioperasi. Setelah berdoa dan menimbang masak-masak, Br José mantap mengoperasi si pasien. Tak dinyana, operasi berjalan mulus. Pasiennya selamat. Padahal pengetahuan dan pengalaman operasi hanya ia dapat ketika berada di RS.

Ternyata peristiwa hari itu bukan yang terakhir dalam hidupnya. Tak lama setelah kejadian itu, datang lagi pasien dan minta operasi. Lagi-lagi Br José berhasil menuntaskan tugas dadakannya. Sejak hari itu, bila ada pasien minta dioperasi, sang bruderlah yang akan turun tangan selama dokter absen.

Ketiadaan tenaga perawat lain juga mengharuskannya menghadapi keluhan pasien dengan beragam penyakit. Tak hanya itu, Br José juga memandikan pasien, mencuci pakaian dan memasak untuk mereka. Ia berusaha selalu memberi layanan terbaik. Pakaian pasien ia cuci bersih dan dibilas di sungai yang mengalir untuk meminimalisir penyakit menular.

Makanan yang ia masak pun sangat enak, bersih dan sehat. Br José pun masih menyisakan waktu mengajar anak-anak miskin agar saling mengasihi sebagai saudara. Totalitas pelayanan Br José sebenarnya sudah tertanam sejak ia masih bocah. Orangtua asuh dan saudara-saudarinya di panti asuhan mengenal José kecil sebagai anak yang tekun dan bertanggungjawab. Kebiasaan itu terus berkembang ketika ia bergabung di Tarekat Bruder Hospitalarius pada usia 15 tahun.

Tak lama menjadi anggota OH, pimpinan tarekat langsung menugaskannya di RS St Yohanes de Deo. Pada saat itu, wabah kolera melanda Camagüey. Berkat kemampuan dan totalitas pelayanannya, tarekat mempercayakan Br José sebagai Kepala Perawat RS saat usianya baru 25 tahun. Ia didapuk sebagai pimpinan Komunitas OH di Camagüey pada usia 36 tahun.

Rasul Murah Hati
Selama berkarya di RS, Br José memprioritaskan pengabdiannya pada orang miskin, budak dan siapapun yang tersingkir dari masyarakat, seperti keturunan berdarah campuran, preman dan mantan tahanan. Pengalaman masa kecilnya sebagai anak terbuang dan pengalaman hidup di panti asuhan seolah terpatri dalam kepekaan pada orang yang tersingkir.

Sayang, Br José harus mengakhiri karya pelayanannya. Ia wafat pada usia 69 tahun di tempat misi yang telah dilayaninya selama lebih dari 50 tahun. Berkat pengabdiannya, penduduk Camagüey mengenangnya sebagai rasul yang murah hati. Namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan di pusat Kota Camagüey.

Pada November 1999, Tarekat OH mendirikan Balai Pengobatan di tempat Br José berkarya sepanjang hidupnya dengan menyandang nama rasul murah hati itu. Setelah 115 tahun dimakamkan di Pemakaman Umum Camagüey, jasadnya dipindahkan ke dalam Gereja St Yohanes de Deo.

Paus Benediktus XVI mengesahkan mukjizat yang dialami oleh Daniela Cabrera Ramos, 15 Maret 2008. Bocah berusia tiga tahun itu sembuh dari kanker perut berkat perantaraan doa Br José. Beatifikasi sang bruder berlangsung di Camagüey, 29 November 2008, dipimpin Prefek Emeritus Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal José Saraiva Martins CMF. Beatifikasi pertama di Kuba ini dihadiri Presiden Kuba, Raúl Modesto Castro Ruz. Gereja mengenang teladan iman dan totalitas pelayanan Beato José Valdés tiap 7 Maret.

Yanuari Marwanto

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*