Artikel Terbaru

Nyanyian Pengantar Hikmat Pernikahan

Nyanyian Pengantar Hikmat Pernikahan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Momen perkawinan merupakan salah satu tonggak penting dalam kehidupan manusia. Sama halnya dengan upacara tahbisan imam atau pengikraran kaul kekal hidup membiara. Maka tak heran, jika orang berusaha menorehkan kenangan seindah mungkin dalam momen-momen tersebut. Keinginan untuk membuatnya menjadi momen yang spesial tak jarang orang mengadakan improvisasi di sana-sini dalam upacaranya.

Dalam praktik upacara Sakramen Perkawinan di Gereja Katolik, yang seringkali muncul sebagai polemik adalah pemilihan lagu dan bacaan, hiasan dalam gereja, pakaian yang dipakai, dan pernak-pernik lainnya. Pernak-pernik ini justru kerap membuat orang lupa akan inti dari Sakramen Perkawinan. Unsur pokok bahwa dua mempelai saling menerimakan Sakramen Perkawinan di hadapan pejabat (pelayan) resmi Gereja, malah kurang diperdulikan daripada urusan resepsi di luar liturgi. Salah satu diskursus ramai dalam upacara Sakramen Perkawinan adalah pemilihan lagu. Orang cenderung senang dengan lagu-lagu yang populer di masyarakat dan mengesampingkan kesakralan upacara tersebut. Padahal, tanpa unsur pokok tersebut, semua hal yang bersifat pelengkap menjadi tidak ada artinya.

Maka, maraknya perdebatan mengenai nyanyian perkawinan harus disadari sebagai hal penting, meski bukan yang pokok. Jangan sampai, hal ini justru membuat orang menjadi acuh tak acuh, bahkan mengabaikan aturan yang sudah digariskan Gereja. Nyanyian perkawinan sebenarnya sudah banyak referensinya, baik dari lagu-lagu liturgi yang sudah ada, maupun lagu-lagu “impor”. Yang dimaksud lagu-lagu “impor” adalah lagu-lagu profan atau non-liturgi yang sudah diterima Gereja setelah melakukan penyelidikan dengan saksama. Beberapa referensi lagu-lagu liturgi perkawinan adalah “Wedding Hymns” (PML, 2009); “Now Joined by God” (PML, 2011); “Nyanyian Perkawinan” (Komisi Liturgi KWI, 2012); dan kumpulan lagu yang telah dibuat keuskupan-keuskupan.

Dalam hal nyanyian liturgi, dibuatlah empat golongan nyanyian. Pertama, nyanyian perkawinan dengan bobot liturgi yang tak diragukan lagi, seperti yang terdapat dalam Puji Syukur dan Madah Bakti. Kedua, nyanyian yang punya bobot liturgi, tetapi juga memuat unsur kedaerahan yang begitu kuat, seperti “Ndherek Dewi Mariyah” (Jawa), “Janji Setia” (Batak), “Tuhanlah Pelindungku” (Keroncong), dll. Ketiga, nyanyian non-liturgi yang kurang atau tidak punya bobot liturgi, seperti “Ave Maria” (Schubert, Bach-Gounod, Cavaleria Rusticana, Cuypers), “Mater Amabilis” (Mozart), “You’ll Never Walk Alone” (R. Rodgers), dll. Lagu-lagu tersebut hendaknya dinyanyikan setelah upacara liturgi selesai, yakni sesudah berkat atau pada waktu sesi foto di gereja. Keempat, nyanyian nonliturgi yang telah dinyatakan tidak layak dinyanyikan di gereja. Lagu bisa dinyanyikan pada saat resepsi, seperti “Love Story” (C. Sigman), She Wears My Ring (Elvis), “Follow Rains & River” (Robert J. Gieles), “I Love until the End of Time”, dll.

Klasifikasi itu mempertimbangkan liturgi yang mengungkapkan dimensi pemuliaan Allah oleh manusia dan penyelamatan serta pengudusan manusia oleh Allah. Selain itu, ungkapan kristologis juga harus nampak dalam peran Kristus dalam karya penyelamatan; serta membangun persekutuan umat beriman sebagai dimensi eklesiologis. Maka, mestinya pemahaman seperti ini menjadi cara bertindak umat agar unsur pokok dalam Sakramen Perkawinan yang sakral dicecap lebih mendalam. Dan, yang jauh lebih penting justru bukan terletak pada ritualnya, melainkan penghayatan hidup dalam “Gereja Mini” setelah upacara penerimaan sakramen.

Redaksi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*