Artikel Terbaru

Melepaskan Masalah Dengan Firman Tuhan

Syafaat: Anggota Komunitas PA Bunda Theresa berdoa bagi anggota yang sedang berulang tahun.
[HIDUP/Seviana Margaretha]
Melepaskan Masalah Dengan Firman Tuhan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Lagu “Happy Birthday” terdengar mengalun dari dalam sebuah rumah di kompleks perumahan Permata Hijau Jakarta Barat. Yang menyanyikan dengan ramai itu adalah para Anggota Komunitas Pendalaman Alkitab (PA) Bunda Theresa. Mereka dengan semangat terus bernyanyi sampai salah seorang anggota yang berulang tahun meniup lilin.

Siang itu, komunitas pendalaman Alkitab ini sedang merayakan ulang tahun salah seorang anggotanya. “Perayaan ulang tahun ini adalah kegiatan incidental, diadakan kalau ada (anggota) yang ulang tahun saja,” ujar Ketua Komunitas PA Bunda Theresa Irene Sheila Haryjanto sambil tersenyum. Sheila menambahkan, kegiatan utama komunitas sendiri adalah bible studies atau pendalaman Alkitab, yang diadakan secara rutin pada hari Kamis.

Bermula dari Pertemanan
Di sela-sela acara, Sheila berkenan menceritakan awal mula PA Bunda Theresa terbentuk. Komunitas ini bermula dari pertemanan Shiela dengan Patricia Soelistyo, Lindawati Sumarko, dan Rita Sorlaya. Suatu hari, dalam balutan senja di Januari 2007, Sheila mensharingkan pengalaman iman kepada tiga temannya tersebut. Di hadapan mereka Sheila bercerita tentang pengalaman dikuatkan setelah sering mendalami Alkitab. Di akhir cerita, Sheila kemudian mengajak ketiga temannya itu untuk membentuk sebuah komunitas pendalaman Alkitab.

Sebelum membentuk Komunitas PA Bunda Theresa, Sheila sudah aktif menjadipengajar di Forum Komunikasi Pewarta Mimbar (FKPM) dan Forum Komunikasi Pengajar Pembinaan (FKPP) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Dalam keseharian, umat Paroki Kristus Salvator, Slipi, Jakarta Barat ini selalu memiliki keinginan besar untuk mewartakan firman Tuhan kepada orang-orang di sekitarnya. “Saya ingin semua orang mendapatkan suka cita dari firman Tuhan. Dengan firman Tuhan kita bisa lepas dari masalah,” kata wanita yang juga anggota Badan Pembaruan Karismatik (BPK) KAJ ini.

Mendapat tawaran dari Sheila, ketiga temannya pun antusias dan sepakat membentuk Komunitas PA Bunda Theresa. Setelah komunitas terbentuk, Sheila dan beberapa pengajar Alkitab dari BPK mulai mewartakan firman Tuhan dalam komunitas ini. Meski mendatangkan pengajar dari BPK, pendalaman Alkitab yang dilakukan berbeda dengan kegiatan di Kursus Pendidikan Kitab Suci (KPKS). Komunitas ini membatasi diri lebih fokus mempelajari makna isi ayat-ayat Alkitab, sharing makna isi Alkitab, serta melaksanakannya dalam hidup keseharian.

Khusus untuk materi pengajaran, para pengajar selalu mengikuti silabus dari Komisi Kateketik KAJ. Beberapa pengajar pun selalu bergantian dalam mengisi pendalaman. Bahkan Moderator Komunitas PA Bunda Theresa RomoYustinus Ardianto sesekali mengisi acara pendalaman Alkitab itu.

Saat ini anggota komunitas berjumlah 35 orang. Mereka berasal dari paroki-paroki di KAJ. Dengan semangat “Mendalami Alkitab berarti memberi diri untuk dipimpin oleh Roh” para anggota Komunitas PA Bunda Theresa berusaha mewartakan firman Allah kepada orang lain, terutama keluarga dan lingkungan sekitar.

Untuk menguatkan karya pewartaan ini, setiap anggota komunitas saling mendoakan satu sama lain. Mereka juga mengadakan ibadah pujian dan doa syafaat rutin di hari Kamis. Pada hari itu pula setelah pendalaman Alkitab, para anggota mensharingkan pengalaman iman mereka. Sebulan sekali, mereka mengisi acara rutin hari Kamis itu dengan Pera yaan Ekaristi.

Berpusat pada Alkitab
Meski berbentuk organisasi, Komunitas ini tidak mengenal struktur atau hirarki. Menurut Shiela, sistem mereka seperti lingkaran dengan Kristus Sang Sabda berada di tengah dan para anggota berada di sekelilingnya sehingga kedudukan mereka sama tanpa ada perbedaan.

Dengan sistem itu, salah satu anggota komunitas Martini Sutikno bisa merasakan keakraban yang erat antar anggota. “Saking eratnya, kami sudah seperti keluarga dengan Firman Allah sebagai kepalanya,” ujar umat Paroki Yohanes Penginjil Blok B ini.

Rupanya suasana keakraban itu telah menumbuhkan kasih antaranggota dan cinta mereka kepada Firman Tuhan. Rasa cinta ini akhirnya juga melahirkan semangat dalam diri para anggota untuk rutin mengikuti kegiatan komunitas. Rasa cinta itu pula yang mengalahkan tantangan jarak tempat tinggal para anggota yang tersebar di wilayah KAJ. Jarak yang jauh tidak menyurutkan semangat para anggota untuk berkumpul dan belajar mendalami isi Alkitab.

Salah satu anggota yaitu Martini menceritakan setelah bergabung di Komunitas PA Bunda Theresa, ia merasa ada keseimbangan dalam hidup dan imannya. “Dulu saya hanya memikirkan anak, suami dan kerja saja. Sekarang saya mulai mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pendalaman isi Alkitab,” ujar lulusan Manajemen Universitas Tarumanegara, Jakarta ini.

Anggota yang lain, Eva Kartika juga merasakan rasa kekeluargaan di komunitas ini. Baginya, ketiadaan hirarki justru membuat mereka akrab dan merasa seperti saudara sendiri. “Saya akrab dengan teman-teman satu komunitas sehingga kalau ada masalah dalam hidup, kita bisa datang ke orang yang tepat untuk mendapatkan nasihat,” ungkapnya.

Menghasilkan Buah
Buah hidup berkomunitas rupanya juga berimbas ke luar. Mereka mewujudkan semangat kasih itu melalui berbagai kegiatan sosial. Salah satu kegiatan sosial yang pernah dilakukan yaitu membantu pembangunan gedung sekolah dan asrama SMP Gabriel di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2012 dan 2013.

Selain itu, mereka juga membantu karya sosial para suster Putri Kasih (PK) dalam bidang pendidikan anak-anak miskin di Pondok Ozanam, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bantuan ini mereka beri nama “Ozanam With Love”. Bantuan untuk Pondok Ozanam ini berupa bantuan untuk menanggung gaji para pengajar dan menyiapkan kurikulum bimbingan belajar di sana.

Dana untuk Ozanam With Love disalurkan dengan sistem “Anak Asuh”. Setiap anggota komunitas memberikan sumbangan sesuai kemampuannya. Menurut Eva, seorang anak membutuhkan 75 ribu rupiah per bulan. “Jika ada anggota PA Bunda Theresa mau menanggung dua anak asuh, maka jumlahnya dikalikan dua dan seterusnya,” ujarnya.

Bagi Eva Kartika mencintai firman Tuhan tidak hanya sebatas membolak-balikkan isi Alkitab tetapi harus berbuah. “Firman haruslah berbuah. Buah-buah ini hendaknya menjadi makanan bagi yang lapar,” pungkas lulusan Manajemen Universitas Swinburne Australia ini.

Edward Wirawan/Margaretha Seviana

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*