Artikel Terbaru

Misi Oblat di Cengkareng

Antonius Radjabana OMI
[HIDUP/Yusti H. Wuarmanuk]
Misi Oblat di Cengkareng
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – OMI melahirkan Stasi St Maria Imakulata menjadi paroki. Salib Trinitas di panti imam diberkati Paus Yohanes Paulus II.

Ada tiga tonggak sejarah iman umat dan gembala Paroki Trinitas, Cengkareng, Jakarta Barat dalam tahun 2015 ini. Pertama, para Oblat merayakan 40 tahun karya mereka di Keuskupan Agung Jakarta yang ditandai dengan reksa penggembalaan perdana di Paroki Cengkareng. Kedua, gereja Trinitas, tempat mereka menggembalakan umat telah mencapai usia 25 tahun. Ketiga, pada pesta perak itu, Paroki Santa Maria Imakulata, Kalideres, Jakarta Barat, lahir sebagai paroki ke-65 di KAJ. Terkait peristiwa iman itu, HIDUP mewawancarai Provinsial OMI Indonesia, Romo Antonius Radjabana OMI, Minggu, 23/8. Berikut petikannya:

Sejak kapan OMI berkarya di Indonesia?

Kesadaran bermisi ke luar negeri tumbuh dalam diri para Oblat Provinsi Australia tahun 1960-an. Provinsial OMI Australia, Pastor Willam Cogney OMI menanggapi dengan semangat luar biasa. Lalu dibuatlah Kongres Oblat Provinsi Australia di Seminari St Maria, 8-11 Desember 1969. Hasilnya, pilihan tanah misi Jawa atau Papua New Guinea. Rata-rata Oblat menerima misi ke Indonesia. Padahal selama ini, misi selalu berpusat pada kaum Aborigin Australia, Papua New Guinea, dan bekas-bekas koloni Inggris di Oceania.

Mengapa memilih Indonesia?

Tahun 1970, Provinsial OMI Australia mengumumkan persetujuan dengan Uskup Purwokerto, Mgr W.M. Schoemaker MSC. Yang dikirim saat itu adalah Romo Cevin Casey OMI, Romo Patrick Maroney OMI, Romo David Shelton OMI dan Romo Pattrick Slatterly OMI. Mereka berkarya pertama kali di Paroki Purwekerto Timur. Pada 21 Mei 1972, Romo Cevin dan Romo David mulai berkarya di Paroki Cilacap. Indonesia dipilih karena masih bisa terjangkau dari Australia.

Kapan OMI bermisi di Cengkareng dan mengapa Cengkareng?

Setelah Purwekerto, karya misi berikut adalah Cengkareng. Romo Patrick Moroney tiba di Cengkareng pada Februari 1975. Pilihan Cengkareng bukanlah bagian dari rencana awal. Setelah serangkaian diskusi dengan Uskup Agung Jakarta, Mgr Leo Soekoto SJ, awalnya OMI akan mengambil alih Paroki Tanjung Priok. Tapi Bapak Uskup memberi pilihan, Tanjung Priok atau Cengkareng. Setelah mengamati dua wilayah itu, OMI memilih Cengkareng.

Seperti apa situasi Cengkareng saat itu?

Saat itu, Stasi Cengkareng dan Stasi Kapuk masih menjadi bagian dari Paroki Tangerang, seperti halnya Cileduk, Tigaraksa, Serpong hingga Tanjung Pasir. Umat Cengkareng hidup secara diaspora, bahkan mungkin sendirian dengan jaraknya yang berjauhan. Romo Anton Mulder SJ menjadi Kepala Paroki Tangerang, dibantu Romo H. Kamper MSC dari Paroki Grogol di Stasi Cengkareng dan Romo S. Sutapanitra Pr di Stasi Kapuk. Mgr Leo juga menugaskan beberapa awam, seperti R.Y. Prabowo dan C.A. Adiwahyanto untuk mengunjungi dan mendata umat. Pada Oktober 1972, pendataan dinyatakan selesai dan dilaporkan ke keuskupan oleh Romo Anton.

Apa kekuatan Paroki Kalideres ini?

Pertumbuhan merupakan salah satu tanda kehidupan. Semula hanya satu, kini menjadi dua atau tiga. Dalam Kisah Para Rasul dikatakan, sesuatu yang besar tidak lepas dari kekuatan Allah. “Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus (Kis. 9:13). Kekuatan paroki ini adalah kerja keras yang dihibur Roh Kudus. Meski banyak tenaga terkuras, iman tergoda, dana banyak, hasilnya adalah gereja yang megah dan mandiri.

Apa alasannya hingga harus ada pemekaran?

Gereja Trinitas punya lebih dari 20.000 umat atau sekitar 6.000 keluarga Katolik. Persebarannya mencakup Kecamatan Cengkareng, Kecamatan Kalideres dan sebagian wilayah Tangerang. Karena besarnya paroki, maka Misa Minggu diadakan empat kali di empat lokasi berbeda. Umat membludak saat Paskah dan Natal, dan tak ada lahan parkir. Dewan Paroki Trinitas pun berinisiatif membuat pemekaran. Tahun 1999, mereka membeli tanah 8.710 meter persegi di Perumahan Citra Garden III. Semua persiapan dibuat, seperti Izin Prinsip Pembangunan Gereja, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), pembentukan panitia, dll.

Dari mana sumber dana pembangunan Gereja?

Awalnya, pembangunan dan peresmian gedung gereja dengan dana sekitar 600 juta rupiah. Ada beberapa acara penggalangan dana yang kreatif dan berani, seperti Operet “Aku Cinta Rumah Idaman” serta “Cinderella dan Sepatu Kaca”, dan sumbangan wajib umat bulanan. Ada juga donatur yang memberi uang maupun material bangunan, seperti marmer, pintu, dll. Juga perangkat gereja lain, seperti salib, bangku, lampu, dsb. Yang paling berkesan adalah Salib Trinitas yang ada di Panti Imam diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II. Lama pembangunan gereja 14 tahun.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*