Artikel Terbaru

Rawa Itu Sekarang Sudah Menjadi Gereja

Gereja St Maria Imakulata Kalideres.
[HIDUP/Stefanus P. Elu]
Rawa Itu Sekarang Sudah Menjadi Gereja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Stasi St Maria Imakulata Kalideres naik kelas menjadi paroki baru. Allah memang berkenan.

Jalanan di Kecamatan Cengkareng belum beraspal. Di sana-sini terdapat banyak lubang dengan genangan air di musim hujan. Jalan Sumur Bor dan Jalan Kamal masih berhias rumput liar. Jalan Cendrawasih nampak hanya tanah berbelukar. Wilayah itu dibelah rawa dari Barat ke Timur.

Dua relawan berjalan kaki menyusuri jalan itu. Setiap petang mereka menyisir rumah demi rumah, berharap menemukan rumah orang Katolik. Suatu sore dalam kelelahan mengayun kaki, dua lelaki itu duduk di serambi sebuah rumah di Jalan Kincir Raya. Mereka menanti dua pemilik rumah yang diyakini sebagai orang Katolik. Tiba-tiba mereka didatangi Ketua RW setempat bersama beberapa orang. Mereka dituding sebagai pencuri. Meski berusaha menjelaskan duduk perkaranya, mereka tetap diusir, bahkan diancam.

Mereka adalah R.Y. Prabowo dan V.A. Adiwahyanto, utusan khusus Uskup Agung Jakarta, Mgr Leo Soekoto SJ. Keduanya mendapat tugas mendata umat Katolik di Stasi Cengkareng dan Kapuk. Hasilnya dilaporkan kepada Kepala Paroki Tangerang, Romo Anton Mulder SJ, yang kemudian menyerahkannya kepada Bapak Uskup.

Umat Diaspora
Kondisi umat di Stasi Cengkareng sungguh diaspora saat itu, terserak tidak jelas. Mereka banyak tinggal di kontrakan, pemondokan atau asrama non-Katolik. Mereka berkumpul sebulan sekali, saling meneguhkan dan bersyukur bersama.

Sejak 1968, umat Stasi Kapuk (Cengkareng Utara) mengadakan Misa tiap bulan yang dipimpin Romo S. Sutapanitra Pr. Tahun 1969, Cengkareng Selatan menjadi Stasi St Kristoforus Grogol, di bawah penggembalaan Romo H. Kemper MSC.

Kondisi terserak ini mulai menyatu lewat tiga momen duka di Cengkareng tahun 1973-1974, yakni Misa Requiem di rumah E. Purnomo di Bedeng Timur, meninggalnya putra Pieter H. Wiratmo di Jalan Utama Raya 38, dan saat meninggalnya seorang anggota TNI-AL di Cengkareng Indah. Tiga momen ini menandai kelahiran komunitas basis di Cengkareng. Umat mulai saling kenal dan berbagi rasa.

Ketika bibit jejaring baru itu mulai bersemi, mereka lalu menggagas pelayanan di bidang pendidikan. Sebidang tanah milik KAJ seluas 4.610 meter persegi diperluas menjadi 7.000 meter persegi diserahkan kepada Stasi Cengkareng. Pemda DKI ikut mendorong berdirinya SD dan SMP Strada Cengkareng. Sekolah ini memicu umat di daerah Pesing hingga Warung Gantung, Rawa Buaya, Kosambi, bahkan wilayah Kamala bisa bertemu lebih sering.

Pelayanan Oblat

Tahun 1974, KAJ menyerahkan Stasi Cengkareng kepada Oblat Maria Imakulata (OMI). Romo Patrick Moroney OMI menjadi Oblat pertama yang merasul di Cengkareng. Sejak Mei 1975, Stasi Cengkareng resmi berpisah dari Paroki Tangerang. KAJ pun membeli tanah Haji R.A. Nunung Mohammad Yunus seluas 8.000 meter persegi untuk lokasi gereja. Umat mulai bertemu dan beribadah bersama secara rutin.

Romo Patrick dikenal murah senyum. Ia gemar bergaul dengan siapapun. Ia cepat diterima umat, sekaligus masyarakat sekitar. Romo Patrick digantikan Romo David Shelton OMI yang kemudian mulai membentuk komisi-komisi dan mengumpulkan tokoh umat, berunding soal nama bakal Paroki Cengkareng. Disepakati tiga nama, Trintas, Maria Imakulata, dan St Antonius. Mgr Leo akhirnya merestui Trinitas.

Pada 2 Desember 1982, KAJ mengajukan surat permohonan izin mendirikan gedung Serba Guna di atas lahan bakal gereja pada Gubernur DKI Jakarta, Tjokropranolo. Izin ini dikabulkan dengan catatan gedung tak boleh digunakan sebagai tempat ibadah. Mgr Leo lantas membuat surat permohonan izin mendirikan bangunan (IMB) untuk gereja pada 3 Agustus 1984.

IMB Nomor 4425/IMB/1989 terbit. Berbekal IMB ini, acara peletakan batu pertama pembangunan gereja oleh Mgr Leo digelar. Pembangunan berjalan lancar hingga selesai pada 31 Januari 1990. Gubernur DKI Jakarta, Wiyogo Atmodarminto meresmikan Gereja Trinitas pada 21 Februari 1990.

Selang beberapa tahun, karya Romo David diteruskan Romo Petrus J. McLaughlin OMI sebagai Kepala Paroki pertama Trinitas. Ia menekankan misi Oblat, “Pelayanan kepada Kaum Miskin”. Dibukalah pelayanan Kincir FHP (Familiar Helper Project) dan Pelita Kasih FHP dalam naungan Yayasan Dharma Kasih.

Rahmat Allah
Setelah satu dekade, umat Paroki Cengkareng bertambah sekitar 2.000 orang. Gereja selalu penuh sesak tiap Paskah dan Natal. Luas wilayahnya tak pernah bertambah, tapi jumlah umat terus meningkat. Wilayahnya membentang dari Selatan Dan Mogot, di wilayah yang saat ini menjadi Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah. Ketika umat semakin berkembang Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah dimekarkan lagi dan lahirlah Paroki St Matias Rasul Kosambi Baru pada 2005. Bahkan Paroki Pantai Indah Kapuk pun dulunya masih termasuk dalam wilayah penggembalaan Paroki Trinitas.

Kini wilayahnya kian kecil karena pemekaran Paroki St Maria Imakulata Kalideres. Paroki Kalideres dimekarkan agar tercipta “Gereja Baru” yang beriman pada Yesus. Menjadi paroki bukanlah tujuannya. “Salah satu hal penting yang diharapkan adalah agar umat semakin dilayani atau mungkin lebih tepat, agar umat dapat semakin saling melayani. Dengan begitu, berdirinya paroki baru menjadi salah satu tanda yang amat jelas bahwa Gereja benar-benar hidup,” kata Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo.

Mgr Suharyo menambahkan, ada banyak cara mengetahui Allah berkenan akan apa yang kita kerjakan. Mengetahui kehendak Allah pada dasarnya berarti iman. “Selanjutnya iman kitalah yang menegaskan tanda-tanda itu sebagai tanda bahwa Allah berkenan. Salah satu tanda Allah berkenan adalah hadirnya gereja paroki baru,” kata Mgr Suharyo.

Kepala Paroki Kalideres, Romo Antonius Andri Atmaka OMI pun mengatakan, pemekaran Paroki Cengkareng menjadi Paroki St Maria Imakulata dapat dilihat sebagai tanda Allah berkenan kepada umat-Nya. Menurut mantan Provinsial OMI Indonesia ini, pendirian paroki baru merupakan rahmat Tuhan. Saat OMI di seluruh dunia menyambut pesta 200 tahun usianya, 40 tahun OMI berkarya di KAJ dan 25 tahun Gereja Trinitas berdiri, lahirlah Paroki St Maria Imakulata.

Paroki ini dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria yang telah melahirkan Yesus. “Seperti Bunda Maria kita dipanggil untuk menghadirkan Kristus bagi dunia masa kini,” kata Romo Andri.

Yusti H. Wuarmanuk

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*